Berita Tamu Kita

Kanisius Teobaldus Deki S.Fil, M.Th : Membangun Ekonomi Gotong Royong

Padahal bangsa kita disebut sebagai bangsa yang berbudaya dan kaya akan nilai. Filosofi gotong royong dalam kehidupan perlahan punah.

Kanisius Teobaldus Deki S.Fil, M.Th : Membangun Ekonomi Gotong Royong
ISTIMEWA

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Penyakit  yang paling berbahaya saat ini bukanlah AIDS, jantung pun stroke melainkan terasing secara sosial. Belenggu paling mematikan adalah hilangnya kepekaan terhadap sesama dalam berbagai bentuknya. Setiap individu sibuk dengan dirinya sendiri. Egoisme kian menguat dalam diri setiap orang.

Kemudian egoisme itu menggumpal pada perasaan yang sama dalam kelompok-kelompok komunitas sehingga melahirkan masyarakat yang apatis pada sesama, termasuk yang diberi kategori miskin secara ekonomi.

Masyarakat yang egois adalah efek paling kentara dari makin sirnanya nilai-nilai pembentuk karakter pada masyarakat. Padahal bangsa kita disebut sebagai bangsa yang berbudaya dan kaya akan nilai. Filosofi gotong royong dalam segala bidang kehidupan perlahan-lahan punah.

Baca: Yuk Ikut Explore Sumba Bersama Garuda Indonesia

Salah satu jawaban yang solutif untuk mengatasi problema itu adalah koperasi kredit. Melalui koperasi kredit prinsip solidaritas dalam konsep ekonomi gotong royong menjadi nyata. Prinsip-prinsip berbasis kemanusiaan dibangun. Mengapa koperasi? Apa untungnya? Bagaimana mengemas ekonomi kreatif berbasis koperasi? Bagaimana koperasi akhirnya menyokong kemanusiaan?

Ikuti perbincangan Pos Kupang dengan Kanisius Teobaldus Deki S.Fil., M.Th, di ruang kerjanya di Kantor Kopkardios Ruteng, Kamis, 30 Agustus 2018.

Bagaimana awalnya Anda berkenalan dengan koperasi dan mengapa memilih koperasi?
Ceritanya panjang. Tahun 2005 saya menyelesaikan studi magister. Waktu itu kampus STKIP Santu Paulus Ruteng dirundung masalah akut. Kampus hampir tutup. Dosen-dosen mengundurkan diri. Uskup Edu Sangsun,SVD sebagai pembina yayasan mencari orang-orang Manggarai yang berijazah S2. Saya salah satu yang dihubungi. Datanglah saya ke Ruteng. Saat itu perekonomian di Manggarai sangat susah. Tahun sebelumnya ada kasus pembabatan kopi petani di lahan yang ditengarai kawasan hutan. Gaji kami sangat kecil. Waktu itu untuk menghidupi diri sendiri saja cukup susah. Apalagi kelompok masyarakat lainnya. Lalu bersama beberapa teman berniat membentuk koperasi. Kebetulan saat berada di Israel saya mengenal kelompok masyarakat yang mandiri di segala bidang yang disebut "kibbutz". Saya ingin menawarkan ide itu kepada teman-teman. Namun, ide itu dihentikan tatkala kami mengetahui keuskupan sudah membentuk Koperasi Karyawan Dioses Ruteng (Kopkardios). Lalu, kami masuk di sana sebagai anggota yang aktif. Koperasi dalam benak kami adalah badan usaha milik bersama yang di dalamnya roh usahanya dibarengi nilai-nilai kemanusiaan.

Baca: Ini Makanan Tidak Boleh Dikonsumsi Saat Diare

Apakah masih releven mendiskusikan koperasi ketika saat bersamaan Koperasi Unit Desa sudah lenyap?
Ya, itulah pertanyaan yang sering diajukan kepada kami. Kebetulan tahun 1970-an Credit Union (CU) sudah mulai diperkenalkan di Flores, termasuk Manggarai. Di Ende dan Maumere CU langsung berhasil dipraktikkan. Sedangkan di Manggarai gagal. Kisah gagal ini cukup mengganjal kami dalam mengkampanyekan koperasi di Manggarai, termasuk KUD. Namun oleh keuletan dan ketekunan para Pengurus, Pengawas dan Manajemen, kendati lahir di akhir era 1990-an, koperasi kredit tetap diterima masyarakat.

Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan Kopkardios selanjutnya?
Kopkardios lahir dari kesadaran karyawan Dioses Ruteng yang kesulitan ekonomi. Lembaga ini berdiri tahun 1999 dan mulai b eroperasi di awal milenium baru tahun 2000. Mulanya ada 25 orang yang menjadi pendiri dengan modal awal Rp 12.000.000. Sampai tahun buku 2010 pertumbuhan anggota dan modalnya bisa dibilang lamban. Tahun 2010, anggota berjumlah 1.584. saat itu, kami terpilih sebagai Badan Pengurus. Dalam tempo 8 tahun kami kami menambahkan jumlah anggota 11.150 orang dengan aset sebesar Rp 53 miliar. Anggota kami tersebar di tiga wilayah kabupaten Manggarai Raya.

Faktor apa yang menyebabkan pertumbuhan lembaga ini begitu masif?
Ada tiga faktor penting yang kami jumpai. Pertama, kami menjawabi kebutuhan anggota akan uang dengan prosedur yang mudah dan murah. Kedua, bunga yang kami berikan sangat kecil dengan sistem yang mengutungkan anggota. Moto kami "Ca weras pande beka-ca mongko pande do" (Satu bulir menjadi banyak-satu buah menjadi lebih banyak). Anggota mengumpulkan uang lalu dipinjamkan oleh anggota yang membutuhkannya. Ada spirit gotong royong di sana. Ketiga, kami melayani masyarakat lapisan bawah yang kurang diperhatikan lembaga keuangan konvesional lainnya seperti bank. Anggota kami berada di kampung-kampung nun jauh di pelosok-pelosok Manggarai Raya.

Baca: Waspadai Jenis Makanan Ini Untuk Mengatasi Penuaan Dini

Apakah keuntungan yang diperoleh anggota?
Akses mereka akan lembaga keuangan ada. Melalui koperasi mereka dihargai. Mereka meminjam karena hak, bukan lagi sebagai peminta-minta. Mereka dipercayai sebagai manusia yang memiliki saham, bukan karena mereka memiliki jaminan berupa aset. Mereka dapat berusaha, menciptakan ekonomi kreatif melalui modal dari koperasi. Mereka bisa menyekolahkan anak ke jenjang perguruan tinggi, membangun rumah, membeli kendaraan dan memiliki jaminan masa depan melalui dana pensiun.

Halaman
1234
Penulis: Aris Ninu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help