Berita Regional

Diupah Rp 500 Juta, Oknum Sipir Ini Jadi Kaki Tangan Napi Narkoba

Oknum Sipir di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Merah Mata Palembang berinisial AD (36) tertangkap tangan saat melakukan transaksi penjualan narkoba

Diupah Rp 500 Juta, Oknum Sipir Ini Jadi Kaki Tangan Napi Narkoba
KOMPAS.com/Aji YK Putra
AD (36) oknum sipir di Lapas Merah Mata Palembang, bersama RZ (28) yang merupakan napi narkoba ketika berada di Polda Sumsel. 

POS-KUPANG.COM | PALEMBANG - Oknum Sipir di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Merah Mata Palembang berinisial AD (36) tertangkap tangan saat melakukan transaksi penjualan narkoba jenis sabu sebanyak 209,56 gram.

AD diketahui telah menjadi kaki tangan narapidana atas kasus narkoba inisial RZ (28) yang masih mendekam di lapas tempat oknum sipir itu bekerja.

Keterlibatan AD terbongkar setelah petugas melakukan penyelidikan dari informasi masyarakat yang menyebutkan bahwa ada transaksi narkoba dalam jumlah besar di kawasan Jalan Tanjung Api-api tepatnya di simpang lampu merah lalu lintas Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang.

Baca: Hamdan Desak Pemprov NTT Tuntaskan Masalah Izin Penangkapan dan Ukuran Kapal Nelayan

Saat menggeledah, petugas tak menemukan barang bukti dari tangan AD. Namun, penyelidikan terus berlanjut hingga akhirnya sipir itu mengaku bahwa sabu sebanyak 209,56 gram telah diserahkan kepada SA (DPO).

"Ketika kita geledah rumah SA ternyata dalam keadaan terkunci hingga kita dobrak dan mendapatkan 209,56 gram sabu siap edar," kata Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara saat gelar perkara, Senin (6/8/2018).

Sementara Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Farman menjelaskan, usai mendapatkan barang bukti, mereka kembali bergerak menuju Lapas Merah Mata Klas 1 yang merupakan tempat sipir AD bekerja.

Di sana, RZ, seorang napi yang menjadi pengendali peredaran narkoba langsung digelandang petugas.

"Pengakuannya setiap 1 ons sabu yang berhasil dikirim AD, diupah RP 5 juta. Jadi jika mengantarkan barang itu, upahnya sekitar Rp 500 juta. AD akan mengantarkan barang setelah mendapatkan instruksi dari RZ," ujar Farman.

Dari temuan tersebut, RZ yang sebelumnya divonis atas kasus kepemilikan narkoba dengan hukuman 17 tahun akan kembali ditambah hukuman atas perbuatannya tersebut.

"Dari hasil pemeriksaan akan ditentukan. Jelas untuk napi akan diperberat, sementara sipir bisa dikenakan hukuman hingga 20 tahun penjara," ungkapnya.

Jaringan peredearan di dalam lapas pun bukan kali ini terbongkar. Sebelumnya, Herman (53), napi narkoba yang mendekam di dalam Lapas Merah Mata juga telah ditangkap dan diketahui menggerakkan anak kandungnya sendiri sebagai pengedar, yakni Nabila (20) dan Idham (28).

Kedua putra dan putri Herman itu akan mengantarkan narkoba jika mendapat telepon dari ayah mereka.

"Untuk sipir AD ini beda jaringan dengan Herman, tapi modusnya sama mengendalikan dalam lapas," jelas Farman. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved