Pilgub NTT

BKH: Kembalikan Sumba ke Masa Jayanya

Jika rakyat Pulau Sumba merestui dan mendukung paket Harmoni, kata BKH, keduanya akan mencarikan solusi.

BKH: Kembalikan Sumba ke Masa Jayanya
POS KUPANG/GERARDUS MANYELA
Benny K Harman (BKH) dikerumuni dan disalami warga saat hendak meninggalkan area deklarasi, Jumat (7/2/2018). 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Gerardus Manyela

POS-KUPANG.COM | TAMBOLAKA - Bakal calon Gubernur NTT yang berdampingan dengan Benny A Litelnoni bertekad mengembalikan Sumba ke masa jayanya menjadi pulau ternak jika masyarakat NTT memberi kepercayaan untuk memimpin NTT lima tahun ke depan. Populasi ternak harus dorong agar jumlahnya melebihi jumlah penduduk.

Tekad itu disampaikan balon Gubernur NTT, Benny K Harman saat menyampaikan orasi politiknya pada deklarasi paket Harmoni di Gedung Serbaguna Katedral, Weetabula, Rabu (7/2/2018) petang.

Di hadapan 4.000-an pendukung, Benny K Harman yang familiar disapa BKH, itu mengatakan, Sumba punya masa lalu yang cemerlang sebagai pulau cendana dan penghasil ternak terbesar di NTT.

Namun masa jaya itu menjadi kelam ditelan waktu. Saat ini, pulau cendana tinggal kenangan dan populasi ternak pun terus menurun. Hal itu karena kurang ada kepedulian pemimpin dalam kebijakan pembangunan.

Jika rakyat Pulau Sumba merestui dan mendukung paket Harmoni, kata BKH, keduanya akan mencarikan solusi dengan kebijakan yang pro petani peternak.

Diminta penegasannya, Kamis 8/2/2018) pagi, BKH menjelaskan, langkah yang dilakukan dengan pendataan secara akurat populasi dan kepemilikan, jumlah sebaran per kecamatan dan kabupaten, kapasitas pakannya, ancaman penyakit dan pencurian, pola peternakan dan asupan gizi serta kualitas bibitnya.

Jika benar populsi ternak di Sumba menurun karena kurangnya pakan dan ancaman pencurian, maka yang harus dilakukan adalah memperluas rumput pakan ternak dengan pola pengembangan profesional.

Jika populasi menurun karena pencurian, maka pengamanannya perlu diperketat dengan pos pengamanan terpadu yang melibatkan masyarakat dan para tokoh, terutama tokoh masyarakat dan tokoh adat, peningkatan pengawasan di pintu keluar, pengetatan pengiriman ternak ke luar NTT.

Dirinya ingin menjadikan Sumba seperti New Zealand yang jumlah ternaknya lebih banyak dari jumlah penduduk, karena pola peternakan yang modern dengan intervensi teknologi.

Sumba, kata BKH, harus bangkit dari kekurangan karena duka dan suka cita Sumba adalah duka dan suka cita NTT. Sumba tidak boleh dianaktirikan. (*)

Penulis: Gerardus Manyela
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help