Hanya Gunakan Botol Bekas, Chris Ciptakan Perangkap Lalat Buah

Ini teknologi sederhana yang dibuat pemerhati lingkungan agar buah-buahan terhindar dari lalat buah

Penulis: Eugenius Moa | Editor: Marsel Ali
Pos Kupang/Egy Moa
Michael Antonius Christoforus, SST, memperlihatkan perangkap lalat buah di depan halaman rumahnya, Sabtu (20/1/2018) 

 Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eginius Mo'a

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Wilayah di Pulau Flores umumnya dikenal sebagai penghasil berbagai jenis buah-buahan semisal mangga, advokat dan pisang. Pada saat musim buah, serangan lalat buah seolah menjadi hal rutin.

Prihatin keadaan yang sering dihadapi pemilik tanaman buah, Michael Antonius Christoforus, SST dari Kebun Percobaan Litbang Maumere di Pulau Flores mengembangkan perangkap buah sederhana.

Bahan pembuatannya menggunakan tiga buah botol plastik bekas, kawat ikat, gunting, pisau, petrogenal (hormon betina), kapas dan jarum suntik.

"Aplikasi ini pernah dibuat sebelumnya tetapi poisinya tidur, lubangmya ditusuk dengan obeng. Ini tidak efektif tangkap lalat buah. Yang saya buat posisi berdiri dan telinga dua sampai tiga menarik lalat buah," ujar Chris, kepada pos-kupang, Minggu (21/1/2018) di Maumere.

Cara pembuatannya demikian Chris, sebuah botol dilubangi menggunakan pisau. Dua buah botol lainnya dipotong di bagian bawah tutupnya lalu dimasukan pada botol yang telah dilubangi di sisinya menyerupai telinga. Selanjutnya botol yang berdiri, tutupnya dilubangi dimasukkan kawat ikat di ujungnya dililitkan kapas. Kapas ini disuntik hormon betina digantungkan di dalam botol yang diisi air sekitar seperempat botol.

Selanjuntnya, perangkap alat buah ini digantung sekitar 5 meter dari pohon buah-buahan. Bila digantung langsung di pohon buah, maka pohon itu jadi sasaran lalat buah. Wangi petrogenal hormon (hormon betina) akan menarik lalat jantan masuk di dalam botol.

"Wangi hormon betina bisa sampai radius 20 meter ditangkap lalat buah jantan. Lalat jantan masuk ke dalam botol hinggap di kapas yang disuntik hormon bertina kemudian lalat jatuh ke air. Sayapnya terkena air dan tidak biasa keluar, kemudian mati," ujar Chris, suami dari Elisabeth Beatrix Marsiti, SE itu.

Ia mengatakan, perangkap buah buatannya ini ramah lingkungan berbeda jika disemport buah mematikan serangga hanya sesaat. Semakin lalat jantan terperangkap, lalat betina akan mandul dan tidak bisa berkembang biak.

Chris mencontohkan perangkap yang dibuatnya digantung di halaman depan rumahnya beberapa meter dari pohon mangga, jeruk dan jambu di Litbang Maumere.

Taggal 15/1/2018 terperangkap 2.759 ekor lalat buah, tanggal 16/1 sebanyak 3.051 ekor dan 1.296 ekor di tanggal 17/1/2018.

"Teknologi ini sangat sederhana, masyarakat bisa buat sendiri. Harga bahan tak sampai Rp 20 ribu bisa buat beberapa buah perangkap buah. Pohon buah-buahan akan tertolong,sehingga buah bagus dan tidak rusak," ujar Chris. (*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved