Madu Hutan Flores Merambah Pasar Online Dari Kampung Duntana
Ini salah satu usaha dari UMKM di Kabupaten Flores Timur. Kalau ingin pesan silahkan melalui online
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Marsel Ali
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eginius Mo'a
POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Usaha Kelompok Madu Hutan Senosa Flores di Desa Duntana Lewoingu, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) baru memasuki tahun kedua.
Kualitas madu yang bagus telah menempatkan madu produk kelompok masyarakat di kampung itu diminati banyak orang di NTT, Bali dan Pulau Jawa.
Pemasaran semula dari mulut ke mulut diantara orang dekat, kini merambah ke pasar online.
"Kami semua pelaku usaha kecil dan menengah di Flores Timur dikumpulkan oleh pihak BRI Larantuka beberapa hari yang lalu supaya menjual secara online," kata Yohanes Lewonamang Hayong (45), Ketua Kelompok Madu Hutan Senosa Flores kepada pos-kupang.com, Kamis siang (18/1/2017) di Desa Duntan
Anis, sapaan Yohanes menjabat koordinator Komunitas UKM mengatakan usaha kerajinan tenun ikat, madu hutan, jagung titi, marungge hingga kue rambut akan dipasarkan online di belanja.com. Produk yang sudah jalan penjualan madu sebanyak 40 botol.
Madu tersebut dipesan ditampung di galeri BRI selanjutnya dipasarkan kepada pembeli. Ia mengaku tak tahu peminat madu hutan Senosa Flores.
"Admin yang tentu tahu. Tugas saya mengirim madu ke galeri BRI kemudian saya menerima pembayaran. Harga flet Rp 75.000/botol sampai di konsumen, karena seluruh biaya pengirim sudah saya talangi," ujarnya.
Penetapan harga ini berlaku sama di seluruh wilayah Indonesia untuk menjaga kualitas dan pelayanan kepada konsumen.
Menurut Anis, kendala dihadapi UKM di Flores Timur saat ini soal branding, kemasan, standarisasi produk yang layak dijual dan izin Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (POM). Kerjasama UKM dengan BRI diharapkan bisa mengatasi standarisasi produk.
"Usaha madu, masalah luas wilayah pengampingan di tiga kabupaten dan sumber daya manusia (koordinator) kelompok. Kami andalkan pendamping kelompok monitoring standar mutu produk di setiap wilayah dampingan. Kalau dia kelola dengan benar sesuai standar operasi prosedur (SOP) yang sudah kita berikan tidak masalah," kata Anis.
Menjadi soal kalau koordinator kelompok memprioritaskan kejar target, menjual sebanyak mungkin dan mengesampingkan mutu. Ia pernah tolak madu yang prosentase airnya diatas 25 persen.
Menurut Anis, madu yang terlalu cair dipengaruhi sumber pakan lebah, pengaruh lingkungan sekitar hutan dan dipanen pada musim hujan.
Anis punya pengalaman dalam advokasi dan pendampingan kelompok. Sebelum mendirikan usaha madu, ia berkarya di Swiscontac dan VWI.
Manajer Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UKM BI Perwakilan NTT, Elvis Marunduri, mewakil Kepala Perwakilan BI NTT, Naek Tigor Sinaga, mengunjungi kelompok usaha madu Senosa, Kamis (18/1/2018) mengakui kreativitas kelompok usaha madu.