Orang NTT di Panggung Sastra

ORANG NTT yang berkiprah di panggung sastra belumlah banyak. Jumlah mereka baru 44 orang, 37 pria dan 7 perempuan.

Orang NTT di Panggung Sastra
POS KUPANG/OBY LEWANMERU
Para sastrawan NTT berpose saat acara temu I sastrawan NTT yang berlangsung di Aula UPT Taman Budaya Daerah NTT, Jumat (30/8/2013). 

Oleh:Yohanes Sehandi
Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende

ORANG NTT yang berkiprah di panggung sastra belumlah banyak. Jumlah mereka baru 44 orang, 37 pria dan 7 perempuan. Yang paling tua GersonPoyk (85 tahun), paling muda Erlyn Lasar (22 tahun). Orang NTT menggeluti dunia sastra baru 55 tahun terakhir, sejak 1961. Sampai dengan 2016 ini, jumlah karya sastra yang mereka persembahkan kepada NTT, Indonesia, dan dunia sebanyak 157 judul buku. Adapun perinciannya, 64 judul buku novel, 41 judul buku kumpulan cerpen, dan 52 judul buku kumpulan puisi. Orang NTT yang memilih jalan sastra dan budaya sebagai medan pengabdian membangun peradaban masyarakat Provinsi NTT patut diberi apresiasi dan penghargaan dengan sebutan yang pantas, yakni sastrawan NTT. Sastrawan NTT adalah orang NTT yang berkiprah di panggung sastra.Mereka adalah diplomat NTT yang menggunakan karya sastra sebagai sarana diplomasi budaya NTT di tingkat nasional dan internasional.

Janganlah membayangkan para sastrawan NTT seperti pujangga atau resi atau peramal/dukun pada zaman kerajaan/kesultanan dahulu. Zaman sudah berubah.Makna kata sastrawan itu sendiri sudah mengalami perubahan, dari makna yang sempit menjadi makna luas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ke-4, 2015, hlm. 1230), kata "sastrawan" diartikan sebagai (1) ahli sastra, (2) pujangga, pengarang prosa dan puisi, dan (3) orang pandai-pandai, cerdik cendekia. Jadi, dalam pengertian terbaru ini, sastrawan tidak hanya penyair, novelis, cerpenis, dramawan, tetapi juga ahli sastra dan kritikus sastra yang mempunyai keahlian di bidang sastra dan budaya.

Sampai dengan 2016 ini, dengan segala kelemahan yang bersifat manusiawi, saya berhasil melacak dan mengidentifikasi 44 orang NTT yang berkiprah di panggung sastra. Merekalah sastrawan-sastrawan NTT. Baik dalam buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012) maupun dalam buku Sastra Indonesia Warna Daerah NTT (2015), saya membuat pengelompokan (periodisasi) sederhana para sastrawan NTT ini.

Dalam melakukan pengelompokan, saya mengurutkan nama-nama sastrawan NTT berdasarkan usia/umur. Mulai dari yang berusia tua sampai dengan yang berusia muda. Dalam pengelompokan sastrawan ini, saya memilih istilah "lapis," sehingga ada sastrawan NTT lapis pertama, sastrawan NTT lapis kedua, dan seterusnya. Rentang jangka waktu antara lapis satu dengan lapis yang lain 19 tahun. Pengamat dan kritikus sastra Yoseph Yapi Taum (2014) memilih istilah "generasi" untuk tujuan yang sama.

Sastrawan NTT Lapis Petama adalah sastrawan NTT yang lahir pada tahun 1931-1950, sebanyak 10sastrawan. Mereka adalah (1) Gerson Poyk (lahir pada 16 Juni 1931 di Namodale, Rote Ndao); (2) Frans Mido (lahir pada 7 November 1936 di Wolosambi, Nagekeo); (3) A.G. Hadzarmawit Netti (lahir pada 9 Oktober 1941 di SoE, Timor Tengah Selatan); (4) Dami N. Toda (almarhum, lahir pada 29 September 1942 di Pongkor, Manggarai, meninggal dunia di Hamburg, Jerman pada 10 November 2006); (5) Umbu Landu Paranggi (lahir pada 10 Agustus 1943 di Sumba Barat); (6) Julius R. Sijaranamual (almarhum, lahir pada 21 September 1944 di Waikabubak, Sumba Barat, meninggal dunia di Jakarta pada Mei 2005); (7) Willem B. Berybe (lahir pada 28 Desember 1946 di Ranggu, Kuwus, Manggarai Barat); (8) Ignas Kleden (lahir pada 19 Mei 1948 di Waibalun, Larantuka, Flores Timur); (9) John Dami Mukese (lahir pada 24 Maret 1950 di Menggol, Manggarai Timur); (10) Leo Kleden (lahir pada 28 Juni 1950 di Waibalun, Larantuka, Flores Timur).

Sastrawan NTT Lapis Kedua, lahir pada tahun 1951-1970, berjumlah 15 sastrawan. Mereka adalah (1) Usman D. Ganggang (lahir pada 15 Februari 1957 di Bambor, Manggarai Barat); (2) Agust Dapa Loka (lahir pada 8 Agustus 1959 di Waimangura, Sumba Barat Daya); (3) Willy A. Hangguman (lahir pada 7 November 1959 di Ruteng, Manggarai); (4) Bernard Tukan (lahir pada 23 November 1959 di Larantuka, Flores Timur); (5) Maria Matildis Banda (lahir pada 29 Januari 1960 di Bajawa, Ngada); (6) Yoss Gerard Lema (lahir pada 24 September 1960 di Larantuka, Flores Timur); (7) Fanny J. Poyk (lahir pada 18 November 1960 di Bima, Nusa Tenggara Barat); (8) Marsel Robot (lahir pada 1 Juni 1961 di Taga, Manggarai Timur); (9) Vincentcius Jeskial Boekan (lahir pada 4 Desember 1961 di Baa, Rote Ndao); (10) Yoseph Yapi Taum (lahir pada 16 Desember 1964 di Ataili, Lembata); (11)Petrus Kembo (lahir pada 15 Mei 1965 di Kupang); (12) Buang Sine (lahir pada 30 Juni 1967 di Kupang); (13) Sr. Wilda, CIJ (lahir pada 3 September 1967 di Rende, Manggarai Timur); (14) Mezra E. Pellondou (lahir pada 21 Oktober 1969 di Kupang); (15) Sipri Senda (lahir pada 9 Mei 1970 di Kapan, Timor Tengah Selatan).

Sastrawan NTT Lapis Ketiga, lahir pada tahun 1971-1990, berjumlah 17 sastrawan. Mereka adalah (1) StephTupengWitin (lahir pada 26 Desember 1975 di Ataili, Lembata); (2) Jefrin Haryanto (lahir pada tahun 1977 di Ruteng, Manggarai); (3) Ragil Supriyanto Samid (lahir pada 25 Januari 1979 di Kupang); (4) Tuteh Pharmantara (lahir pada 29 Desember 1979 di Ende); (5) Gusty Masan Raya (lahir pada 24 Mei 1980 di Lewat, Adonara, Flores Timur); (6) Armin Bell (lahir pada 16 Juni 1980 di Kupang); (7) Santisima Gama (lahir pada 11 Juni 1982 di Maumere, Sikka); (8) Amanche Franck OeNinu (lahir pada 6 Februari 1983 di Mei Esleu, Niki-niki, TTS); (9) Bara Pattyradja (lahir pada 12 April 1983 di Lamahala, Adonara, Flores Timur); (10) Jefta Atapeni (lahir pada 11 Januari 1984 di Soka, Rote Ndao); (11) Yos Mau (lahir pada 1 November 1984 di Ahun, Belu); (12) Robert Fahik (lahir pada 5 Juni 1985 di Betun, Malaka); (13) Christian Dicky Senda (lahir pada 22 Desember 1986 di Molo Utara, Timor Tengah Selatan); (14) Pion Ratulolly (lahir pada 31 Desember 1986 di Lamahala, Adonara, Flores Timur); (15) Christo Ngasi (lahir pada 13 Maret 1987 di Waitabula, Sumba Barat Daya); (16) Januario Gonzaga (lahir pada 21 Januari 1988 di Dili); (17) Djho Ismail (lahir pada 15 Maret 1988 di Rajawawo, Nangapanda, Ende).

Sastrawan NTT Lapis Keempat, lahir pada tahun 1991-2010 baru berjumlah 2 orang sastrawan. Mereka adalah (1) Mario F. Lawi (lahir pada 18 Februari 1991 di Kupang); dan (2) ErlynLasar (lahirpada 19 Maret 1994 di Maumere, Sikka). *

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved