9 Fragmen Sebelum Kamu Lahir
DI DEPANMU duduk seorang berkata mata tebal. Dengan suara yang lembut ia membacakan sembilan cerita ini kepadamu.
Cerpen Nong Djese
DI DEPANMU duduk seorang berkata mata tebal. Dengan suara yang lembut ia membacakan sembilan cerita ini kepadamu. Aku lihat kamu mendengarnya dengan penuh saksama.
***
SATU
Ibumu mulai sering merasa tidak enak badan. Kepalanya sering kali pening tetapi tidak terlalu terasa pening. Suhu tubuh ibumu juga kadang mendadak naik memanas, tetapi juga tidak terlalu panas. Kemudian mereda. Acap kali ia hanya ingin tidur-tiduran, berlama-lama di tempat tidur. Hanya berbaring.
"Mungkin kamu hanya kurang istihat sayang. Akhir-akhir ini kamu `kan sering lembur kerja."
"Mungkin juga Pa, aku kebanyakan kerja, jadi kurang tidur."
"Nah. kalau kerjaan kamu lagi banyak, kamu harus minum vitamin, terus minta izin dulu beberapa hari untuk beristirahat, jika kerjaannya sudah selesai sayang."
"Ia papa sayang."
Sorenya setelah selesai kerja, ibumu bertemu ayahmu. Mereka mampir sebentar di apotek untuk membeli vitamin. Lalu mereka singgah lagi sebentar di warung. Senja itu entah mengapa, ibumu ingin sekali makan nasi goreng. Setelah itu mereka berpisah.
DUA
Mereka baru saja selesai. Ibumu mengenakan kembali pakaiannya. Kemudian ia membenarkan sisiran rambutnya dan kembali berdandan sebentar. Seperti yang sudah-sudah, ia selalu meninggalkan ayahmu di atas ranjang. Ranjang yang koyak.
"Aku harus kembali ke kantor, banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan."
Ayahmu masih berbaring di sisi tempat tidur. Telanjang dan setengah sadar. Ia mungkin tidak mendengar dengan jelas suara ibumu.
"Oia, aku hampir lupa, jangan jemput aku sore ini."
"Hmmmm..."
Ayahmu hanya berguman sebentar lalu kembali tidur. Ibumu segera kembali ke kantor. Sorenya ia pulang sendiri, sebelum ke rumah ia singgah lagi di apotek di dekat kantornya. Ia membeli sebuah alat test kehamilan.
TIGA
Ibumu mulai mengerti gelaja itu. Ini bukan pengalaman pertamanya. Inilah hari-hari pertama saat ibumu mulai menyadari pertumbuhanmu dalam rahimnya. Itulah mengapa ia hanya diam ketika ditegur atasannya karena sering kehilangan konsentrasi kerja. Ibumu sering mengantuk dan juga kurang semangat dalam berkerja. Sejumlah tugas yang harus ia kerjakan tidak terselesaikan. Bahkan beberapa malah terbengkalai. Setelah beberapa kali ditegur, siang itu ibumu dipanggil oleh atasannya ke ruangannya.
"Akhir-akhir ini aku perhatikan, kinerja kamu menurun, aku jadi sedikit cemas dengan keadaan kamu. Mungkin ada baiknya kamu periksa keadaanmu ke dokter. Siapa tahu kinerjamu yang menurun itu ada hubungannya dengan kesehatanmu."
"Ah. Tapi Pak, aku rasa, aku baik-baik saja Pak."
"Ya, aku hanya menyarankan saja tidak ada salahnya toh, kamu periksa kesehatanmu, jangan sampai kesehatanmu sedang bermasalah. Sebab Mitra kerja kita terus saja mengeluhkan lambannya kerjamu. Kalau memang kesehatanmu sedang bermasalah, aku bisa menunjuk orang lain menggantikanmu untuk sementara waktu sampai kamu sembuh betul."
"Ia Pak, mungkin aku memang harus ke dokter. Tapi Pak, aku yakin bisa menyelesaikan semua kerjaanku Pak. Mungkin akhir-akhir ini aku hanya kurang istirahat karena ada beberapa persoalan di rumah."
"O...begitu, jika itu masalahnya, aku bisa mengerti, kamu punya banyak kesibukan di rumah, tetapi kamu harus ingat, pekerjaan kamu di perusahaan ini juga menuntut perhatian dan tanggung jawab yang penuh. Kami pasti paham maksudku."
"Ia Pak, aku mengerti."
"Ya.., kamu juga punya tugas dan kesibukan di rumah, tetapi kamu juga punya tugas dan tanggung jawab di perusahaan ini `kan. Nah, kamu harus bijak untuk memilah waktu dan tenaga. Kamu harus ingat, dua-duanya sama penting. Atau kalau memang kamu ingin berkonsentrasi dulu dengan keluargamu, aku bisa memberi kamu cuti untuk beberapa hari."
Setelah bertemu atasannya, ibumu beberapa kali bolak-balik ke toilet. Ia muntah-muntah di sana.
EMPAT
Ia mulai yakin dengan dugaannya. Dulu ketika sedang hamil anak pertama mereka, ibumu juga sering merasa pusing dan tidak enak badan. Walaupun begitu ia tidak langsung bertanya kepada ibumu. Ia masih ragu dengan keberadaanmu.
"Sayang?"
"Ia papa, kenapa Pa?"