Rabu, 10 Juni 2026

Dokter RSUD Lewoleba Mogok Kerja

Enam dari delapan dokter yang bekerja di RSUD Lewoleba, Kabupaten Lembata, Selasa (26/2/2013), mogok kerja.

Tayang:
Editor: Alfred Dama
Laporan Wartawan Pos Kupang, Feliks Janggu

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Enam dari delapan dokter yang bekerja di RSUD Lewoleba, Kabupaten Lembata, Selasa (26/2/2013), mogok kerja.  Aksi itu sebagai protes karena selama lima bulan sejak Oktober 2012 mereka belum mendapat insentif dari Pemerintah Kabupaten Lembata.  Padahal beban kerja mereka terbilang tinggi. Bahkan ada yang bekerja 24 jam penuh.

"Kami ingin hidup layak di Lembata. Kami tidak menuntut apa-apa, cuma kami mau hidup di Lembata. Kami ingin kerja itu ada timbal baliknya, tidak mungkin kerja lembur kami  tidak dihargai sama sekali," kata salah seorang dokter  yang enggan menuliskan namanya saat ditemui di Gedung DPRD Lembata ketika berdialog dengan beberapa anggota Komisi III DPRD Lembata, Selasa (26/2/2013).

Sementara dokter Alma mengungkapkan kekesalannya seolah mereka  mengemis hak mereka kepada manajamen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba. "Kami sibuk kerja. Kalau kami lagi sibuk pergi tanya uang insentif di manajemen, lalu bagaimana pekerjaan kami. Kami ini kan fungsional, kami harus bekerja melayani pasien," kata Alma.


Enam dokter, lima dokter di antaranya dokter berstatus Pegawai Tidak Tetap (PTT), mengaku sudah melakukan berbagai upaya kepada manajemen terkait insenstif mereka yang belum dibayar. Namun tidak menemui jalan keluar tentang jasa lembur para dokter.

Tidak puas dengan jawaban manajemen RSUD Lewoleba terhadap tuntutan akan hak mereka, enam dokter tersebut memutuskan menemui Komisi III DPRD Lembata, Selasa kemarin.

Kepada anggota Dewan mereka menyampaikan  keluhan tentang beban kerja, tapi jasa mereka tidak dihargai sebagaimana mestinya.
Enam yang menemui anggota Dewan diterima oleh tiga anggota Komisi III DPRD Lembata, Yakobus Liwa, Fransiskus Limawai, dan Piter Gero.

Didampingi teman sejawat mereka, para dokter PTT ini mengungkapkan semua unek-unek hati mereka kepada anggota Dewan. Keluhan mereka hanya satu, meminta pekerjaan mereka dihargai sepadan. "Kami sudah usulkan dibuat nomenklaturnya. Apakah insentif, apakah jasa lembur, yang penting tenaga kami dihargai," tegas  dr. Bernard.

Bernard mengatakan, para dokter tetap akan melakukan tugas seperti biasa, tetapi hanya akan bekerja hingga pukul 14.00 Wita.
"Kami tidak mau bekerja lembur lagi. Kami sudah putuskan bersama bahwa kami tidak akan bekerja lebih dari waktu yang seharusnya kami pulang," tandas Bernard.

Bernard juga mengklarifikasi isu yang berkembang di RSUD Lewoleba bahwa aksi mereka ada yang memprovokasinya.  "Ini ada teman-teman wartawan di sini. Saya klarifikasi bahwa tidak ada yang provokasi di sini. Bukan karena direktur baru atau lama, tetapi kami hanya menuntut hak kami," tegas Bernard yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Lembata.

Fransiskus Limawai yang memimpin dialog enam dokter dengan anggota Dewan  mengatakan, akan menindaklanjuti keluhan itu secepatnya.  "Tanggal 28 kami akan pertemuan lagi dengan manajemen. Ini masalah yang tidak pernah kami ketahui selama ini," kata Limawai.

Ia menyatakan, tidak adanya insentif yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Lembata bisa dikatakan sebagai pemerasan terhadap tenaga dokter-dokter yang ada. Karena itu, lanjutnya, masalah ini akan menjadi prioritas dibahas dengan manajemen RSUD Lewoleba.*

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved