67 Tahun Indonesia Merdeka
Oeleu, Gudang Sapi yang Diabaikan (2)
OELEU, sebuah dusun dari desa induk Bauho, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Letaknya sangat terisolir dari keramaian
Dusun ini berada di tengah hutan yang di sekelilingnya tumbuh subur pohon kelapa, pisang, dan mangga. Dari jalan umum jurusan Atambua-Weluli, jalannya sudah dibuka, tapi kondisinya sangat memrihatinkan. Dengan kendaraan bermotor dari Atambua membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di dusun tersebut.
Memasuki wilayah ini memang agak sepi karena tidak ada pemukiman penduduk di sepanjang jalan. Jalan raya ke Oeleu tidak semulus di Kota Atambua. Selain tingkat kemiringan yang tajam, juga rawan longsor. Belum lagi kerikil yang berhamburan tak beraturan di badan jalan sehingga berpotensi terjadi kecelakaan.
Hari Jumat (10/8/2012), Pos Kupang melihat langsung kondisi dusun tersebut. Warga dusun tersebut sangat ramah. Ketika berpapasan selalu menyapa dengan sopan. Wilayah Oeleu berbatasan dengan Kampung Kowa, Distrik Bobonaro, RDTL. Jaringan hand phone telkomsel susah diterima di dusun ini. Justru signal hand phone diterima dari jaringan Timor Leste.
Dusun Oeleu dihuni 52 kepala keluarga (KK) dengan pekerjaan utama bertani dan beternak. Kawasan inipun termasuk penghasil ternak sapi yang selama ini digunakan sebagai bibit untuk peningkatan produktivitas ternak sapi di Belu. Bayangkan saja, satu keluarga minimal memiliki paling sedikit 10 ekor sapi. Tapi kampung yang merupakan penghasil sapi ini luput dari perhatian pemerintah. Kue pembangunan sepertinya belum dirasakan sepenuhnya oleh warga di dusun ini.
Memasuki usia kemerdekaan RI ke-67 tahun, warga Oeleu belum menikmati air bersih. Saat ini, warga hanya menjerit meminta air bersih dan jalan beraspal.
Tokoh masyarakat Dusun Oeleu, Antonius Mali, didampingi istrinya, Martha Dafrosa, dengan jujur mengungkapkan permasalahan yang masih meliliti masyarakat dusun ini. Selama ini keluh kesah mereka hanya terpendam dalam hati.
Antonius mengatakan, Dusun Oeleu dibangun sejak tahun 1942. Antonius sendiri baru menetap di Oeleu sekitar tahun 1959. Wilayah Oeleu memiliki padang penggembalaan ternak sapi yang cukup luas. Selain berusaha dalam bidang pertanian dan perkebunan, warga Oeleu juga memelihara ternak.
Tak tanggung-tanggung, keluarga yang terkategori miskin paling sedikit memelihara 10 ekor sapi, selebihnya di atas 20 ekor.
"Daerah ini penghasil ternak sapi. Kami pernah meraih penghargaan juara I sapi potong tingkat Propinsi NTT tahun 1988. Kemudian meraih juara II pola pemeliharaan ayam buras terbaik tingkat Propinsi NTT. Kami juga penghasil jeruk manis. Tapi apa yang kami raih tidak mendapat perhatian dalam hal pembangunan," keluh Antonius.
Dafrosa menambahkan, mereka saat ini agak lega karena sejak Desember 2011, penerangan listrik dari PLN telah masuk. Namun, apa artinya penerangan listrik sementara air bersih tidak ada. Selama ini mereka mengandalkan satu buah sumur yang dibangun secara swadaya. Bahkan, kata Dafrosa, ketika air sumur mengering, mereka harus berjibaku mencari air di sungai yang juga dikonsumsi ternak sapi. Warga setempat sangat berharap Pemkab Belu bisa membantu jalan beraspal dan air bersih dari jaringan perpipaan Lahurus.
Wilayah Dusun Oeleu ini terkategori sangat terisolir dari semua wilayah di Kecamatan Tasifeto Timur. Padahal, wilayahnya sangat potensial baik bidang pertanian maupun peternakan. Persoalan ini sudah seringkali diutarakan, baik ke DPRD Belu maupun pemerintah kecamatan, namun hingga saat ini belum ada realisasinya. Warga secara swadaya telah membuka akses jalan dari cabang Boe hingga Dusun Oeleu, namun hingga saat ini belum beraspal.
"Kita memang sudah buka jalan raya sehingga kendaraan bisa masuk. Kalau warga mau menjual hasil pertanian dan perkebunan ke Atambua harus mengeluarkan uang sekitar Rp 20.000-Rp 25.000 untuk ojek sekali jalan. Jadi sewa ojek pergi pulang (PP) Rp 50.000. Kondisi jalannya hanya perkerasan sehingga akses ekonomi dari wilayah kami tidak bisa dijual ke pasar di Atambua. Sekarang ini anak muda di Dusun Oeleu tidak betah sehingga merantau ke luar daerah," kata Dafrosa. (fredy hayong/bersambung)