Kami Diterangi Cahaya Bulan
TERINGAT 15 Mei 2008 saat Gunung Berapi Egon di Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, meletus. Esok harinya, 16 Mei 2008,
Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: Alfred Dama
TERINGAT 15 Mei 2008 saat Gunung Berapi Egon di Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, meletus. Esok harinya, 16 Mei 2008, pelaksanaan Pemilu Kada di Sikka. Tanggal 17 Mei 2008, saya melakukan peliputan di Desa Egon Gahar di Kecamatan Mapitara yang terkena dampak letusan paling parah. Saya melalui Kecamatan Bola, tapi baru beberapa kilometer keluar dari ibukota kecamatan, sepeda motor saya kandas karena tidak bisa melewati kondisi ruas jalan yang buruk.
Aspal jalan sudah mengelupas hingga membentuk lubang besar, jalan lainnya belum diaspal. Belum lagi bebatuan lepas dan kerikil yang bisa membuat kendaraan tergelincir dan jatuh ke jurang. Buruknya kondisi itu pula yang menyebabkan proses evakuasi warga lamban, padahal hanya beberapa kilometer saja.
Tiga tahun kemudian, tepatnya tanggal 6 Mei 2012, saya berhasil melewati ruas jalan itu, bahkan hingga ke Desa Hale, Kecamatan Mapitara. Saya meliput kegiatan reses anggota DPR RI, Melchias Markus Mekeng. Meski belum mulus, sepeda motor saya dan mobil Land Cruiser yang ditumpangi Melchias bisa lebih mudah melewati ruas jalan yang sudah dirabat itu.
"Kalau dulu untuk sampai ke Desa Hale harus ditempuh 3,5 jam sampai empat jam. Kini, sudah bisa ditempuh hanya 2,5 jam. Ada penghematan waktu dua jam. Ini suatu kemajuan pembangunan karena saya pernah merasakan bagaimana Kecamatan Mapitara sangat terisolasi karena kondisi jalannya rusak. Saat ini jalan itu sudah dirabat menggunakan anggaran dari pemerintah pusat, dana percepatan infrastruktur daerah (DPID)," kata Melchias.
Kini, ada enam kendaraan bus kayu (kendaraan truk yang dirancang atau dimodifikasi menjadi angkutan penumpang) yang setiap hari melayani warga masuk keluar desa. Itu artinya, transportasi dan jalan tidak lagi menjadi masalah di wilayah ini. Kecuali dua kilometer ruas jalan dari Dusun Napun Lau hingga Galit, ibukota Kecamatan Mapitara, sebagai jalur evakuasi bencana yang butuh peningkatan status.
Kecamatan Mapitara memang rawan gempa, terlihat dari banyaknya pepohonan yang tumbang tercabut dari akarnya dan masih tergeletak di halaman rumah warga dan fasilitas umum.
Warga juga minta bantuan perbaikan gedung gereja di Natakolit karena ketiadaan dana dari umat. "Total kolekte umat setiap minggu hanya Rp 7.000," kata Anton Gahar. Begitupun kondisi gereja paroki di Mapitara yang atapnya sudah berlubang termakan usia hampir 50 tahun.
Terkait gempa, warga Kecamatan Palue juga sering mengalaminya. Akibatnya gedung Gereja Paroki Ave Maria Uwa Palue yang sudah berusia 70 tahun dan gereja St. Familia Palue, pun retak. "Warga Palue sudah biasa hidup bersama gempa," kata Rm Kons, Pr.
Menurut Camat Mapitara, Ardianus Reda, mengakui 7.000-an warganya sangat miskin dan tertekan dalam bidang komunikasi.
"Topografi di sini sulit dijangkau, harus naik turun bukit dan lembah. Malam hari kami hanya diterangi cahaya bulan dan lampu pelita karena tidak ada listrik PLN. Komunikasi telepon apalagi. Sekarang Pak Melchias datang dan lihat sendiri apa kebutuhan masyarakat," kata Reda.
Warga Mapitara, Mince mengatakan, jika ada anak yang sekolah di Maumere atau Kupang apalagi di Jawa, akan putus hubungan komunikasi dengan keluarga karena tidak ada jaringan.
Sulitnya akses komunikasi juga dialami sebagian warga Palue, meski di ujung pulau sudah dibangun satu menara/BTS Telkomsel. Baru empat desa, yakni Kesokoja, Maluriwu, Reruwairere dan Lidi yang terlayani. Sedangkan di wilayah barat di Desa Ladolaka, Tuanggeo, Rokirole dan Nitunglea belum terlayani.
Terhadap kondisi itu, Melchias berjanji membicarakannya dengan manajemen atau direktur Telkomsel. "Kepala desa atau camat silakan buat surat ke Dirut Telkomsel. Tulis permohonan apa adanya. Siapkan lahan sehingga tidak mempersulit pembangunan menara/BTS. Untuk bantuan bagi gereja, buat proposal yang ditandatangani oleh bupati dan uskup," saran Melchias. (novemy leo/bersambung)
