Spirit NTT Nomor 181 Tahun IV, Edisi 19-25 Oktober 2009
Menilai Lembata Harus Secara Obyektif
LEWOLEBA, SPIRIT--Bupati Lembata, Drs. Anderas Duli Manuk, meminta semua kalangan di daerah itu agar dalam menilai sesuatu harus secara obyektif. Sebab, semua indikator kemajuan yang telah dicapai oleh suatu daerah pemekaran oleh pemerintaah ditetapkan dalam berbagai indikator untuk menilai sejauh mana kemajuan suatu daerah pemekaran, apakah dia tetap eksis sebagai daerah kabupaten atau harus bergabung dengan kabupaten lain.
"Apa yang disampaikan tidak seolah-olah mau menyatakan bahwa kita berhasil atau tidak tetapi hanya semata-mata untuk memberi pertanggungjawaban kepada masyarakat tentang apa yang telah kita lakukan. Kita akan tetap konsisten melaksanakan berbagai program yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah sebagai acuan kita sampai akhir masa tugas 2011 mendatang. Berbagai kritikan sangat kita butuhkan sebagai pengawasan atau kontrol, namun semuanya harus dengan jalan keluar agar memberi solusi apa yang bisa kita lakukan, yang pada akhirnya untuk kepentingan kita semua," kata Bupati Manuk ketika memberi sambutan pada acara jamuan makan malam bersama pemerintah dan unsur musyawarah pimpinan daerah di Kabupaten Lembata dalam rangkaian acara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Otonomi Daerah Kabupaten Lembata tahun 2009 di Lopo Moting Lomblen, Senin (12/10/2009).
Sementara itu, Ketua Paguyuban Keluarga Lembata di Maumere, Pius Witin, dalam sambutannya mewakili paguyuban Lembata di Maumere, Kupang, dan Jakarta, mengajak semua pihak jangan berpikir negatif dengan menyebut pembangunan di Lembata selama ini jalan di tempat.
Putra kelahiran Ata Ili ini mengisahkan, "Dulu saya jalan kaki dari Ata Ili ke Lewoleba, berangkat jan tujuh pagi. Saya baru tiba di Lewoleba jam 6 sore. Tetapi sekarang ini, setelah datang dan melihat sendiri, ternyata kita sudah maju, walaupun baru dalam usia 10 tahun otonomi. Saya bandingkan dengan daerah lain yang sudah puluhan tahun berdiri menjadi kabupaten, namun banyak juga desa-desa yang masih terisolasi. Ternyata di Lembata baru 10 tahun, oto sudah bisa masuk di semua desa, motor bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi di desa."
Menurutnya, kalau ada warga Lembata yang ada di luar Kabupaten Lembata seperti saya ini berpendapat bahwa tidak ada pembangunan di Kabupaten Lemabata, itu hanya berpikir secara negatif dan tidak berpikir secara positif.
"Mereka yang berada di luar Lembata yang mengatakan bahwa pembangunan di Lembata tidak berjalan, itu adalah orang-orang yang mungkin tidak merasa puas dalam berbagai hal tentang pembangunan di Lembata," katanya.
Pius Witin menyatakan dukungannya terhadap kepemimpinan Drs. Andreas Duli Manuk dan Drs. Andreas Nula Liliweri sebagai Bupati dan Wakil Bupati sampai akhir masa jabatannya.
"Kami paguyuban Lembata di Maumere menyatakan sikap mendukung kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Lembata sampai akhir masa jabatan. Ini adalah pernyataan sikap kami dan kami sampaikan bahwa tidak semua orang Lembata yang ada di luar Lembata berpikir negatif. Kami juga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pemerintah Kabupaten Lembata dan seluruh rakyat Kabupaten Lembata. Satukan langkah, satukan tekad, maju terus pantang mundur. Kami akan mendukung kabupaten ini, walau kami tidak berada di Lembata," kata Pius Witin. (sello/obi/humas)
Lewoleba Semarak
SITUASI Kota Lewoleba menyongsong HUT ke-10 Otonomi Kabupaten Lembata, tanggal 12 Oktober 2009, sangat ramai. Semarak. Berbeda dari hari-hari biasanya. Setiap sore hingga malam hari hilir mudik kendaraan melaju melewati jalur-jalur jalan di Kota Lewoleba dengan manusia berkostum olahraga untuk berlaga, baik di lapangan sepak bola Polres Lembata di sore hari, maupun pertandingan bola voli putra dan putri antar kecamatan di lapangan voli Taman Ria Swaolsa Titen di tengah kota Lewoleba pada malam hari.
Antusiasme warga masyarakat Kota Lewoleba untuk memberikan dukungan terhadap tim dari kecamatan masing-masing yang bertanding membuat suasana kota menjadi begitu ramai dan hidup hingga pertandingan bola voli putra dan putri berakhir, kadang-kadang sampai pukul 23.00 malam.
Suasana ramai ini dimanfaatkan para pedagang kecil di Kota Lewoleba untuk menjajakan barang dagangannya seperti rokok, gula-gula, air mineral dan jajaan lainnya di lokasi kegiatan. Seorang pedagang kecil di Kota Lewoleba, Antonius Wara (40) kepada SPIRIT NTT mengakui bahwa sejak adanya pekan olehraga meriahrayakan HUT ke-10 otonomi ini, hasil dagangannya melonjak tajam dari perolehan keuntungan Rp 40.000 pada hari-hari biasa, kini meningkat mencapai Rp 150.000 - Rp 200.000 setiap harinya.
"Siangnya saya ke pelabuhan, sore saya jajakan rokok dan gula-gula di lapangan Polres Lembata karena di sana ada pertandingan bola kaki antarkecamatan, mala harinya sambung jualan di sini (Taman Ria Swaolsa Titen Lewoleba, Red) sampai pertandingan selesai. Sekarang, dari jual rokok saja sudah lumayan, tambah dengan gula-gula dan air aqua lagi bisa mencapai seratus sampai dua ratus ribu rupiah setiap hari, " katanya.
Di tempat yang sama, Camat Nubatukan, Gewura Fransiskus, yang ditemui usai menyaksikan tim voli putrinya bertanding melawan keenaman dari Kecamatan Atadei, menyatakan, ke depannya upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat kota tidak hanya untuk pedagang kecil, termasuk jasa-jasa transportasi bagi masyarakat untuk berekreasi di Taman Ria ini, tetapi juga untuk masyarakat biasa agar menjual atau menyajikan hidangan makanan lokal bagi setiap pengunjung yang datang.
Fransiskus mengimbau kepada masyarakat yang hendak menjual makanan lokal agar memanfaatkan stan-stan yang telah disediakan kalau mau menangkap peluang usaha di saat-saat ramai seperti ini.
Untuk diketahui, menyongsong HUT ke-10 Otonomi Kabupaten Lembata tahun 2009 ini, panitia penyelenggara menggelar pertandingan dan perlombaan yang berpusat di Kota Lewoleba. Rangkaian acara kegiatan HUT Otonomi Daerah ini dibuka oleh Wakil Bupati Lembata sejak Rabu, 7 Oktober 2009 dengan upacara defile kontingen dari setiap kecamatan bertempat di Taman Ria Swaolsa Titen Lewoleba.
Pada hari puncak otonomi, 12 Oktober 2009, diselenggarakan apel bendera di halaman Kantor Bupati Lembata. Dan, seluruh rangkaian acara ini ditutup dengan resepsi bersama tanggal 18 Oktober 2009. (sello/humas lembata)