Rabu, 10 Juni 2026

Oleh Arnoldus Lema & Amanche Franck Oe Ninu, Mahasiswa Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang

Memori dan Refleksi Sejarah Gerakan 30 September

BANGSA Indonesia tentu masih ingat akan peristiwa penting sejarah bangsa di tahun 1965. Sebuah peristiwa kemanusiaan yang besar mewarnai perjalanan bangsa ini. Peristiwa kemanusiaan ini memiliki makna yang dalam bagi bangsa Indonesia pada khususnya dan bagi kemanusiaan pada umumnya.

Tayang:

Tragis bagi yang mengalami  secara langsung, menyedihkan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Bahkan untuk waktu yang lama, bangsa ini terus memperingatinya sebagai sebuah peristiwa yang mencoreng nama bangsa. Sebuah peristiwa yang tidak hanya menelan korban, tetapi ideologi bangsa pun dirongrong dan dipertaruhkan. Identitas bangsa yang hakiki diragukan oleh anak bangsa sendiri. Itulah gerakan PKI.

Gerakan berhaluan komunis yang ideologinya sangat bertentangan dengan ideologi yang dimiliki bangsa Indonesia.  Sebagai satu peristiwa sejarah bangsa, peringatan terhadap peristiwa ini amatlah penting. Dari satu segi untuk membangkitkan refleksi anak bangsa tentang kecintaan terhadap ideloginya, di sisi lain menuntut kita untuk  bersikap kritis terhadap setiap perkembangan ideologi yang ada. Untuk itu, membangun  refleksi di momen sejarah itu amatlah penting.

Peristiwa tiga puluh september, hampir setengah abad yang lalu itu, adalah peristiwa laten. Bukan hanya kemanusiaan yang menjadi korban, tetapi juga ideologi bangsa. Ideologi dirongrong, identitas bangsa dipertaruhkan. Gerakan ini yang kemudian dijuluki oleh pemerintah orde baru sebagai pengkhianatan.  

Pengkhianatan bukan hanya terhadap pemerintah, bangsa, tetapi juga terhadap manusia dan kemanusiaannya. Peristiwa berdarah ini selalu ditampilkan dalam film dokumenter. Namun, muncul satu pertanyaan reflektif bagi kita; mengapa peristiwa yang difilmkan itu, sekarang seolah-olah hilang gaungnya? "Aku hanya ingin katakan  jangan lupakan film itu,  sebab kisah tentangnya  berguna untuk menelusuri  bagaimana ingatan kita  terbentuk, kisah tentangnya membantu kita  melihat bagaimana  satu pihak tertentu  bercerita  mengenai fakta 30 September 1965" (Anton Sumarwan, S.J, Menyeberangi Sungai Air Mata, Yogyakarta: Kanisius,  2007, hlm. 31).

    
Kemanusiaan dan Ideologi Dilupakan
Kalau kita menelusuri kembali peristiwa ini, kita seperti meluruskan kembali benang yang kusut. Benang yang kusutpun tetap memiliki label sebagai yang kusut. Namun, keseluruhan kisah panjang bangsa ini, memiliki  muara yang  berhubungan.  Di satu sisi, bangsa diganggu dengan ideologi yang baru, pada ujung yang lain hidup manusia dipertaruhkan. Bahkan tindakan yang dilakukan sungguh tak berperikemanusiaan.  

Pada kita hanya ada pandangan bahwa gerakan PKI itu gerakan yang berhaluan komunis. Sebuah paham yang dianut di negara-negara komunis. Melihat  nama dan sekaligus identitas gerakan itu, lebih muda orang berkesimpulan bahwa ini bertentangan  dengan Pancasila. Karena bertolak belakang dengan Pancasila inilah maka orang menolaknya. Sebuah peristiwa yang biasa; kalau  ada pertentangan ideologi, maka akan menelan korban. Bahaya yang secara khusus mengancam semangat tenggang rasa adalah berbagai ideologi  yang biasanya dianut sebagai kebenaran yang tak tertandingi, namun kenyataan justru  bertentangan  dengan hakikat sejati dari manusia dan masyarakat.

Inilah yang terjadi dengan gerakan PKI. Aliran  komunis menganggap bahwa ideologi  komunis merupakan ideologi yang benar. Pengagungan akan ideologi inilah yang kemudian  bertentangan dengan hakekat sejati manusia. Bangsa Indonesia sendiri memiliki ideologi yang benar. Sebuah ideologi yang menjunjung tinggi: realitas yang tertinggi (Tuhan), kemanusiaan, dan alam semesta. Berhadapan dengan ajaran komunis inilah terjadi benturan.

Pada benturan ini, kemanusiaan dilupakan. Orang tidak lagi memperhitungkan nilai kemanusiaan. Ingatlah kembali akan apa yang difilmkan. Terlepas dari pihak mana yang salah dan mana yang benar; hanya ada satu simpulan bahwa  harga diri manusia tidak dihormati, kanibalisme seolah hidup kembali. Manusia dibunuh secara keji. Di sinilah nampak bahwa  kemanusiaan dilupakan. "Tingkah laku mereka  mengingatkan kita pada upacara kanibalisme  yang dilakukan suku-suku primitif  berabad-abad yang lalu". (Anton Sumarwan, S.J, Menyeberangi Sungai Air Mata, Kanisius 2007, hal 369).

Sisa-sisa PKI di NTT
Gerakan PKI memang memiliki basis di daerah Jawa. Namun, tidak berarti bahwa orang di NTT tidak mengenal paham ini. Pemahaman  sangat sederhana tentang PKI. "Mereka kurang memahami secara mendalam  ideologi marxis  dan melihat PKI  terutama sebagai  partai  yang lebih peduli terhadap nasib kaum miskin  dan termiskin" (Anton Sumarwan, hal 330). Dengan pemahaman yang sangat terbatas ini, orang-orang Timor masuk keanggotaan PKI.  Jumlahnya pun sangat terbatas. PKI di Timor, terkait juga dengan kelompok Makdok. Makdok berasal dari bahasa Tetum Belu, yang berarti peramal. Kelompok Makdok ini adalah segelintir anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk menetralisir kekuatan-kekuatan mitis magis. Kelompok Makdok ini kemudian menggabungkan diri dengan gerakan PKI di daerah Timor.

Pemahaman kelompok Makdok terhadap PKI sendiri sangat lemah. Mereka tidak memiliki pandangan yang mendalam tentang ideologi komunis. Mereka yang terperangkap dalam ideologi kiri ini semata-mata hanya untuk mempertahankan diri. Makdok juga kemudian dibersihkan karena mereka terkait erat dengan PKI. Tak dapat disangkal bahwa situasi yang demikian menempatkan kemanusiaan sungguh rendah. Contoh kasus Makdok di Timor ini hanyalah segelintir cerita dari jutaan kisah pembantaian sisa-sisa PKI di Indonesia.

Kisah-kisah lain dapat ditemukan juga di Solor. Pada Tahun 1965, ada segelintir orang Solor yang menyebut diri mereka anggota PKI, meski semangat Marxisme dalam diri mereka hanya bersifat individual saja. Orang-orang ini dengan bangga mengatakan bahwa jika PKI berhasil memegang kendali kekuasaan negara, bahan makanan bagi rakyat akan berlimpah-limpah. Bagi mereka PKI akan menggali sisi pegunungan di  dekat kota sehingga mengalirlah air terjun dan berkarung-karung beras. Di Ende, tercatat juga ada usaha pembersihan sisa-sisa PKI pada tahun 1966-1967. Usaha pembersihan ini mendapat kecaman dan tantangan keras dari tokoh-tokoh agama di Ende saat itu (Anton Sumarwan, hal 331). Kelompok Makdok di Timor tadi atau sisa-sisa PKI di daratan Solor dan Flores tidak memiliki pemahaman yang jelas dan mendalam tentang komunisme itu sendiri. Kesulitan hidup saat itu memerangkap mereka dalam  dua kutub pilihan: hidup atau mati. Ikut PKI adalah pilihan untuk mempertahankan hidup, karena partai berideologi komunis ini menjanjikan kemakmuran hidup dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup anggotanya.  

Di sini kita tidak bermaksud menuding pihak tertentu dalam usaha pembantaian itu. Kelompok pembersih ada dalam satu sistem yang terkontrol dan kuat. Maka kita tidak boleh melulu mempersalahkan mereka. Para korban pun dengan motif mempertahankan hidup, akhirnya toh masuk kelompok PKI. Paham komunis  memang tidak sesuai dengan ideologi kita, tetapi pembersihan (mengakhiri hidup orang) juga tidak sesuai dengan ideologi kita. Bila kita mau  membela kemanusiaan, maka kita harus katakan bahwa pembersihan sisa-sisa PKI tadi, adalah pelanggaran kemanusiaan. Bila kita juga mau mempertahankan ideologi bangsa kita, maka harus pula dikatakan bahwa  terperangkap dalam komunisme adalah pengkhianatan terhadap bangsa.        

Hal yang arif dan bijaksana bagi kita saat ini adalah sikap kita yang tetap memegang teguh ideologi Pancasila  dengan menjunjung tinggi kemanusiaan. Kita tidak boleh berideologi Pancasila sambil melemahkan kemanusiaan yang menjadi salah satu pilarnya. Kita juga tak boleh mengatasnamai Pancasila untuk menghakimi dengan mudah orang atau kelompok berideologi lain. Ideologi Pancasila yang sudah kita anut hendaknya menjadi pijakan untuk menjunjung tinggi Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial  di tengah medan pergolakan hidup saat ini. Hendaknya kita belajar dari noktah hitam sejarah bangsa ini, agar kita berperilaku sebagai bangsa yang berke-Tuhan-an dan berprikemanusiaan.

Di hari peringatan yang hampir setengah abad ini, orang Indonesia sendiri harus bersikap lebih bijaksana dalam menangggapi perkembangan sejarah bangsa ini. Perkara tentang ideologi komunis memang hampir hilang dalam ingatan anak bangsa. Tetapi, perkembangan tentang ideologi  dan hidup manusia akan selalu ada.  Masalah-masalah yang ada kaitan dengan manusia akan selalu hidup dan berkembang.

Refleksi Elie Wiesel, seorang pemikir abad ini mengingatkan manusia akan hubungan ini, "Kebencian menggambarkan aneka hasrat, seringkali saling bertentangan dan selalu jahat  serta meluluhlantahkan abad ke dua puluh."

Peristiwa kemanusiaan ini meluluhlantakkan kemanusiaan Indonesia kita. Sebagai satu bangsa, kita tidak boleh tertular penyakit amnesia sistematik. Kita tidak boleh lupa bahwa komunisme telah meluluhlantakkan sendi-sendi kebangsaan kita. Kita juga tidak boleh lupa bahwa kejahatan kemanusiaan sebagai balas atas komunisme di bumi pertiwi ini, telah menjadi sejarah kelam bagi anak cucu bangsa ini. Di hari memori September ini, kita diajak untuk merenungkan kebangsaan Indonesia kita yang sejati, serta kemanusiaan kita yang utuh dan beradab. Si Vis Pacem Ama Hominem, Jika ingin damai cintailah manusia. *
 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved