Undana
Menuju World Class University, Undana Perkuat Sistem Manajemen Risiko
Selain itu, sosialisasi ini juga menjadi bagian dari roadmap implementasi manajemen risiko Undana tahun 2026–2028.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yuan Lulan
POS-KUPANG.COM, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat tata kelola kelembagaan melalui sosialisasi pedoman pengelolaan risiko yang digelar di Aula Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP), Rabu (13/5/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Satuan Pengawas Internal (SPI) Undana ini berlangsung selama satu hari dan diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai unit kerja. Sosialisasi tersebut didanai melalui DIPA Undana Tahun Anggaran 2026.
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi meliputi pengantar manajemen risiko dan budaya sadar risiko, paparan pedoman pengelolaan risiko, proses manajemen risiko, hingga workshop pengisian risk register.
Ketua SPI Undana, Prof. Dr. Chaterina Agusta Paulus, S.Pi., M.Si., CRA., CRP., CRMP., mengatakan bahwa organisasi saat ini dihadapkan pada ketidakpastian yang semakin kompleks, baik dari faktor internal maupun eksternal.
Baca juga: Undana dan Planet Asia Jajaki Kerja Sama Pengembangan Agriculture dan Hewan Ternak di NTT
Menurutnya, SPI melalui Divisi Manajemen Risiko memiliki peran strategis dalam memastikan efektivitas tata kelola risiko secara independen dan objektif.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil penilaian standar ISO 31000:2018, tingkat kematangan manajemen risiko di Undana telah mencapai level 4 (managed), yang menunjukkan sistem yang dibangun sudah terintegrasi dalam pengambilan keputusan strategis.
“Namun untuk menuju world class university, kita masih perlu memperkuat budaya risiko dan sistem pelaporan yang lebih terstruktur,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyusunan Pedoman Pengelolaan Risiko Tahun 2026 merupakan tindak lanjut dari Peraturan Rektor Nomor 32 Tahun 2023 tentang Manajemen Risiko di Undana. Pedoman ini dirancang sebagai instrumen praktis bagi seluruh unit kerja sebagai risk owner dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi risiko secara mandiri.
Sementara itu, Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng., menegaskan pentingnya transformasi tata kelola universitas yang tidak hanya berorientasi pada capaian kuantitatif, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan.
Ia menyebutkan, dalam empat tahun ke depan, Undana akan mengedepankan konsep “valuable governance” dengan dua indikator utama, yakni survei kepuasan dan manajemen risiko.
“Manajemen risiko menjadi penting sebagai early warning system dalam memastikan kualitas layanan dan mencegah hal-hal yang tidak diharapkan,” katanya.
Rektor juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk mulai membangun budaya kerja yang lebih proaktif dalam mengelola risiko, bukan hanya bersifat reaktif.
Menurutnya, pendekatan manajemen risiko memungkinkan setiap unit kerja untuk mengantisipasi potensi masalah sejak awal, sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.
“Risiko pasti ada dalam setiap layanan, tetapi dengan pengelolaan yang baik, dampaknya bisa kita kendalikan agar tidak signifikan terhadap kinerja dan layanan,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Undana-PSI.jpg)