Minggu, 3 Mei 2026

Wisata NTT

Kampung Adat Dirun yang ikonik di Kabupaten Belu . Lengkapi Keindahan Di Batas Negeri

Kabupaten Belu yang secara geragrafis berbatsan dengan negara Timor Leste memiliki alam yang indah seperti Padang Fulan Fehan

Tayang:
Penulis: Alfred Dama | Editor: Alfred Dama
ILUSTRASI/eastnusatenggara.id
Kampung adat Dirun di Belu, gambaran kejayaan masa lalu 

Struktur dan Makna Rumah Adat
Secara garis besar, struktur rumah adat di kampung adat dirun memiliki dua pembagian utama yaitu ruang untuk laki-laki yang berpusat pada tiang utama laki-laki, dan ruang untuk perempuan yang berpusat pada tiang wanita. 

Tiang utama laki-laki berada di depan, yang ditandai adanya benda-benda pusaka, sedangkan tiang perempuan berada di belakang persis berdekatan dengan tungku api untuk memasak.

Pembagian ini berkenaan dengan posisi laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga dan perempuan sebagai yang mengurus rumah tangga termasuk urusan dapur.

Pada setiap dinding rumah adat, dapat kita lihat berbagai ukiran simbol-simbol yang berupa pahatan kayu. 

Hal ini seakan menandakan bahwa jaman dahulu, orang Dirun sudah  memiliki kecakapan untuk membahasakan sebuah makna secara simbolik. 

Pada umumnya, ukiran yang ada berupa simbol alam untuk mengungkapkan kedekatan masyarakat pada alam, simbol manusia untuk mengungkapkan tokoh yang ada di suku dirun, dan pedang untuk membahasakan kekuatan yang dimiliki Dirun pada masa kejayaannya.

Khusus di rumah adat monesogo atau rumah raja perempuan, kita dapat menemukan pula sebuah meriam peninggalan penjajah.

Tradisi
Berdasarkan obrolan kami dengan beberapa masyarakat setempat, kami pun diberitahu bahwa suku dirun adalah salah satu suku di Belu yang masih mempertahankan segala ritual adat dari jaman nenek moyang sampai saat ini.

Beberapa tradisi yang masih dijalankan adalah seperti Paol sao (tradisi yang dijalankan saat sebelum panen hasil bumi), tradisi begegeasu, tradisi antama khusus untuk mengusir semua hama tanaman sebelum masyarakat turun ke lading untuk menanam jagung dan kacang-kacangan dan tradisi mendirikan rumah adat baru atau merenovasinya.

Khusus untuk mendirikan rumah adat, lamanya proses ritual yang dijalani bisa berhari-hari bahkan sampai bulan. 

Banyak ritual akan dilakukan di sini dengan mengumpulkan semua anggota suku yang telah tersebar ke berbagai daerah.

Menurut pengakuan masyarakat setemapt, saat tradisi ini dijalankan, jumlah hewan yang dibunuh untuk menjalankan ritual bisa sampai 150 ekor.

Kehidupan Orang Dirun
Secara umum, orang-orang di kampung adat dirun memiliki mata pencaharian sebagai petani dan pemelihara ternak. Tanaman yang menghidupi orang dirun selama ini adalah jagung, kacang tanah dan kopi.

Sedangkan sebagai peternak, orang dirun terkenal sebagai pemelihara hewan sapi dan kerbau. Uniknya, hewan peliharaan mereka pada umumnya tidak berkandang, melainkan dilepas bebas di padang savana Fulan Fehan.

Mereka meyakini bahwa tak ada oknum yang akan mencuri hewan piaraan yang dilepas bebas di padang, karena padang Fulan Fehan sendiri diyakini keramat sehingga setiap orang yang berniat jahat akan mendapatkan hukuman dari para leluhur yang tak kasat mata.*

Baca berita lain di POS-KUPANG.COM  KLIK >>> GOOGLE.NEWS

 

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved