Ngada Terkini
STIPER Flores Bajawa Ungkap Hubungan Ekonomi Warga dan Konservasi Riung, Ini Temuan Penelitinya
Ia menegaskan bahwa tujuan utama konservasi adalah menciptakan keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Charles Abar
POS-KUPANG.COM, BAJAWA – Tim peneliti Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Flores Bajawa mempresentasikan hasil penelitian bertajuk Kajian Kapasitas Produksi dan Tata Niaga Hasil Pertanian, Peternakan, dan Perikanan di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Senin (8/6/2026).
Presentasi hasil penelitian berlangsung di Kampus A STIPER Flores Bajawa dan dipimpin oleh Ketua Tim Peneliti, Dr. Nicolaus Noywuli, S.Pt., M.Si. Kegiatan ini dihadiri para dosen dan peneliti STIPER Flores Bajawa, perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Nusa Tenggara Timur, serta perwakilan proyek In Flores.
Tim peneliti yang terlibat dalam kajian tersebut terdiri dari Dr. Nicolaus Noywuli, S.Pt., M.Si., Victoria Ayu Puspita, S.ST., M.Si., David Januarius Djawapatty, S.Pt., M.Si., Ignosia Taus, S.T., M.Si., Christianus Ngiso Bhae, S.Pt., M.Pt., Oriensi Y.K. Teftae, S.Si., M.Si., dan Daniel Simo, S.P., M.P.
Dalam pemaparannya, Dr. Nicolaus Noywuli menjelaskan bahwa penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui kapasitas produksi serta tata niaga hasil pertanian, peternakan, dan perikanan di wilayah Kecamatan Riung.
Baca juga: Gubernur NTT Melki Laka Lena Sumbang Sapi Kurban untuk Umat Muslim di Riung Ngada
Kajian ini juga menelusuri keterkaitan antara kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan upaya pelestarian kawasan konservasi dan sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut.
"Kami bekerja sama untuk menghasilkan sebuah kajian terkait kapasitas produksi dan tata niaga hasil pertanian, peternakan, dan perikanan di wilayah konservasi Riung. Hari ini tim riset STIPER Flores Bajawa mempresentasikan hasil kajian tersebut," ujarnya.
Menurut Nicolaus, penelitian dilakukan di seluruh desa dan kelurahan di Kecamatan Riung yang mencakup sekitar 30 desa. Kajian difokuskan pada tiga subsektor utama, yakni pertanian, peternakan, dan perikanan.
Penelitian tersebut menghasilkan tiga fokus utama, yaitu kapasitas produksi, sistem tata niaga yang mencakup pemasaran dan distribusi, serta efisiensi dan nilai tambah ekonomi dari setiap komoditas yang dihasilkan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa hasil penelitian tidak secara langsung membahas satwa komodo, melainkan lebih menyoroti kondisi sosial ekonomi masyarakat yang memiliki keterkaitan erat dengan keberhasilan upaya konservasi.
"Dari hasil kajian ini kami tidak langsung berbicara tentang komodo, tetapi lebih pada kebutuhan sosial ekonomi masyarakat yang memiliki keterkaitan erat dengan upaya konservasi," katanya.
Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi.
"Ketika kita menemukan fakta bahwa produksi dan modal ekonomi masyarakat masih minim, maka kemungkinan masyarakat akan mencari sumber pemenuhan kebutuhan di wilayah konservasi. Habitat dan sumber daya alam bisa saja dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi," jelas Nicolaus.
Sementara itu, perwakilan proyek In Flores, Ir. Gorgonius Bajang, mengatakan kajian tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara In Flores dan BKSDA yang selama ini menjadikan penelitian sebagai dasar dalam penyusunan program pembangunan dan konservasi.
"Kajian ini dilakukan karena setiap program harus memiliki dasar yang kuat untuk menjawab persoalan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/presentasi.jpg)