Selasa, 28 April 2026

Belu Terkini

Harga Elpiji Melonjak, Pelaku UMKM di Perbatasan RI-RDTL Mengeluh

Harga elpiji ukuran 12 kilogram bahkan tembus Rp330 ribu hingga Rp340 ribu per tabung, memicu keluhan dari para pelaku usaha yang bergantung

Penulis: Agustinus Tanggur | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/Agustinus Tanggur
Salah satu pelaku UMKM, Veronica Puji Novita Sari, pemilik usaha Ayola Makan, mengaku harus membeli elpiji 12 kilogram dengan harga Rp340 ribu per tabung, jauh lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya. Rabu (22/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga elpiji di Kabupaten Belu, wilayah Perbatasan RI-RDTL kian memberatkan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)
  • Harga elpiji ukuran 12 kilogram bahkan tembus Rp330 ribu hingga Rp340 ribu per tabung, memicu keluhan dari para pelaku usaha
  • Salah satu pelaku UMKM, Veronica Puji Novita Sari, pemilik usaha Ayola Makan, mengaku harus membeli elpiji 12 kilogram dengan harga Rp340 ribu per tabung

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Kenaikan harga elpiji di Kabupaten Belu, wilayah Perbatasan RI-RDTL kian memberatkan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Harga elpiji ukuran 12 kilogram bahkan tembus Rp330 ribu hingga Rp340 ribu per tabung, memicu keluhan dari para pelaku usaha yang bergantung pada bahan bakar tersebut untuk operasional sehari-hari.

Salah satu pelaku UMKM, Veronica Puji Novita Sari, pemilik usaha Ayola Makan, mengaku harus membeli elpiji 12 kilogram dengan harga Rp340 ribu per tabung, jauh lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya.

“Kita beli dengan harga Rp340 ribu per tabung untuk yang 12 kg. Sebelumnya tidak setinggi ini. Walaupun naik, tetap kita beli karena itu salah satu kebutuhan utama usaha,” ujarnya, Rabu (22/4/2026) saat diwawancarai POS-KUPANG.COM.

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal satu tabung elpiji 12 kilogram dapat digunakan hingga satu minggu. Namun, saat usaha ramai, satu tabung bisa habis dalam waktu sekitar lima hari.

Ia juga mengaku sempat mengalami kekosongan stok elpiji, sehingga terpaksa beralih menggunakan minyak tanah sebagai alternatif agar usaha tetap berjalan.

“Kalau stok habis, kita terpaksa pakai minyak tanah supaya tetap bisa produksi,” katanya.

Menurutnya, lonjakan harga elpiji ini semakin menambah beban pelaku UMKM, terutama di tengah kondisi biaya usaha yang juga meningkat, termasuk pajak dan bahan pokok lainnya. 

Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan elpiji, sehingga tidak semakin menekan pelaku usaha kecil.

“Kami berharap harga bisa kembali normal supaya meringankan UMKM, apalagi sekarang biaya lain juga naik,” ungkapnya.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, ia menegaskan para pelaku usaha tetap berupaya bertahan dan menjalankan usaha dengan tenang.

“Sebagai pelaku usaha, kita harus hadapi semua ini dengan kepala dingin,” pungkasnya. (gus)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved