Belu Terkini
Pasokan Terbatas, Harga Elpiji di Perbatasan RI-RDTL Melonjak Tajam
Kondisi ini mulai dirasakan sejak akhir Maret 2026, ketika distribusi elpiji ke pangkalan mengalami pengurangan drastis.
Penulis: Agustinus Tanggur | Editor: Eflin Rote
Ringkasan Berita:
- Harga elpiji non subsidi di Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI-RDTL, melonjak tajam akibat terbatasnya pasokan dalam beberapa pekan terakhir
- Tabung elpiji 12 kilogram kini mencapai Rp330 ribu hingga Rp 340 ribu per tabung, naik signifikan dari sebelumnya sekitar Rp265 ribu
- Kondisi ini mulai dirasakan sejak akhir Maret 2026, ketika distribusi elpiji ke pangkalan mengalami pengurangan drastis
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Harga elpiji non subsidi di Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI-RDTL, melonjak tajam akibat terbatasnya pasokan dalam beberapa pekan terakhir. Tabung elpiji 12 kilogram kini mencapai Rp330 ribu hingga Rp 340 ribu per tabung, naik signifikan dari sebelumnya sekitar Rp265 ribu.
Kondisi ini mulai dirasakan sejak akhir Maret 2026, ketika distribusi elpiji ke pangkalan mengalami pengurangan drastis.
Salah satu pelaku usaha pangkalan Juventus di Kabupaten Belu, Alexander Ngongo, menyebutkan jumlah pasokan yang diterimanya jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
“Biasanya kami bisa dapat sampai 300 tabung, sekarang hanya sekitar 90 tabung. Ada informasi pembatasan dari Surabaya, tapi kami belum tahu pasti penyebabnya,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, keterbatasan stok berdampak langsung pada kenaikan harga di tingkat pangkalan. Harga elpiji 12 kilogram yang sebelumnya dijual Rp265 ribu kini naik menjadi Rp330 ribu per tabung. Sementara elpiji 5,5 kilogram ikut mengalami kenaikan dari Rp155 ribu menjadi Rp170 ribu.
Baca juga: Pasokan Minyak Tanah di Kabupaten Belu Stabil, Permintaan dan Harga Masih Fluktuasi
Ia menjelaskan, kenaikan harga tidak bisa dihindari karena harga tebus dari distributor juga meningkat, bahkan mencapai Rp300 ribu hingga Rp320 ribu per tabung untuk ukuran 12 kilogram.
Di sisi lain, tingginya permintaan masyarakat semakin memperparah situasi. Elpiji masih menjadi kebutuhan utama, baik untuk rumah tangga maupun pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
“Permintaan sangat tinggi, terutama dari pelaku usaha. Tapi stok terbatas, jadi banyak yang tidak kebagian,” katanya.
Alex berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menormalkan distribusi elpiji di wilayah perbatasan agar tidak terjadi kelangkaan yang lebih parah.
“Kalau tidak segera diatasi, minggu depan bisa lebih sulit. Kami harap ada solusi supaya pasokan lancar kembali dan harga bisa stabil,” tutupnya. (gus)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
| Penyaluran Dana Desa 2026 di KPPN Atambua Tembus Rp12,81 Miliar |
|
|---|
| Momen Hari Kartini, Lidwina Viviana Lay Dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Belu |
|
|---|
| Semangat Hari Kartini, Ibu-ibu BPBD Belu Pakai Busana Adat, Ajak Jadi Perempuan Tangguh Bencana |
|
|---|
| Deker Ambruk di Desa Fatubaa Kembali Terjadi, Akses Warga dan Pelajar Terganggu |
|
|---|
| Musrenbang RKPD 2027, Pemkab Belu Fokus Kesejahteraan, Inovasi dan Sinergi Bangun Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Salah-satu-pelaku-usaha-pangkalan-Juventus-di-Kabupaten-Belu-Alexander-Ngongo.jpg)