Jumat, 15 Mei 2026

Human Interest Story

Feature: Syukur dan Pelestarian Warisan Leluhur, Suku Kemak Dirubati Gelar Ritual Gelo Sele 

“Ritual tahunannya dikenal dengan Sabor Sele. Tradisi perayaan pengucapan syukur ini telah dilakukan sejak  “zaman leluhur” sebagai wujud syukur

Tayang:
POS-KUPANG.COM/POS KUPANG/HO
RITUAL ADAT - Suku Rumah Bey Leto Nalotete di Kelurahan Manumutin, Kabupaten Belu, saat menggelar ritual adat Gelo Sele sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur, Sabtu (21/3).  

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agus Tanggur

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - “Ritual tahunannya dikenal dengan Sabor Sele. Tradisi perayaan pengucapan syukur ini telah dilakukan sejak  “zaman leluhur” sebagai wujud syukur atas berkat Tuhan yang telah dikaruniakan bagi umat-Nya.” 

SUKU Rumah Bey Leto Nalotete di Kelurahan Manumutin, Kabupaten Belu, menggelar ritual adat Gelo Sele sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur (21/3/2026). 

Tradisi yang dilaksanakan setiap tiga tahun ini menjadi bagian penting dalam menjaga nilai budaya, sekaligus menandai berkat hasil panen dan kehidupan masyarakat setempat.

Tokoh adat Suku Kemak Dirubati, Djoese S. Martins Naibuti, menyampaikan ritual ini dilaksanakan setiap tiga tahun, sedangkan ritual tahunannya dikenal dengan Sabor Sele. Tradisi perayaan pengucapan syukur ini telah dilakukan sejak  “zaman leluhur” sebagai wujud syukur atas berkat Tuhan yang telah dikaruniakan bagi umat-Nya. 

“Sejak dulu, usai melaksanakan panen terutama panen padi dan jagung, para leluhur biasanya melaksanakan ritual Sabor Sele dan Gelo Sele atau ucapan syukur sebagai wujud syukur kepada Tuhan, di dalamnya juga terdapat wujud penghormatan terhadap bumi, air, lingkungan dan leluhur," ujarnya, Selasa (24/3/2026). 

Ritual yang dipimpin Karnuli Aisegi dan Korel (sesepuh adat dan raja) yang terdiri dari Alfonsius Mau Lemas dan Cristoveler Berelaka dan Bey Frans Nai Bili merupakan upaya untuk melestarikan nilai budaya Suku Kemak Dirubati yang telah diwariskan turun temurun dalam tatanan budaya kerajaan Dirubati. 

Menurutnya, nilai budaya tersebut merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran masyarakat Suku Kemak Dirubati mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat. 

"Hal ini sejalan dengan pendapat Koentjaraningrat (1979). Walaupun nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam masyarakat, tetapi sebagia konsep, suatu nilai budaya itu bersifat sangat umum," jelasnya. 

Namun dengan sifatnya yang umum, katanya, maka nilai-nilai budaya dalam suatu kebudayaan berada dalam daerah emosional dari alam jiwa para individu yang menjadi warga dari kebudayaan bersangkutan.

Lebih lanjut, Ia menyampaikan sebanyak 42 anak laki-laki dewasa dari Suku Bey Leto Nalotete bersama keluarganya, Maneheu Aimia (suku rumah dari garis perkawinan anak perempuan pertama) yang terdiri dari Maneheu Nakapu, Maneheu Bobolete, Maneheu Burolau dan Maneheu Gorubu dan Ka’ar no lair (suku rumah kakak adik) terlibat dalam ritual Gelo Sele yang dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2026 di rumah adat Bey Leto Nalotete di Kelurahan Manumutin Kabupaten Belu. 

"Setiap anak laki-laki dewasa suku Bey Leto Nalotete mempersembahkan seekor ayam jantan sebagai ucapan syukur. Selain sebagai persembahan, ayam jantan tersebut juga digunakan Karnuli Ai Segi (sesepuh adat) sebagai media untuk mendeteksi suka-duka kehidupan pemiliknya melalui pengamatan pada kondisi usus ayam," jelasnya. 

Selain ternak ayam tambahnya, juga digunakan 3 ekor ternak babi, Setelah ternak babi dan ternak ayam disembelih, disiapkan bahan untuk persembahan sebagai ucapan syukur.

Sambil menunggu bahan persembahan disiapkan, dilakukan ritual pergantian jagung lama dengan jagung baru yang terdapat di dalam uma luli (rumah adat), dilanjutkan dengan pengaturan bahan persembahan sebagai ucapan syukur. 

"Ucapan syukur atas panen dan berkat lainnya yang diterima melalui ritul Gelo Sele, disajikan dalam bentuk persembahan, seperti sanu posi serta da’a no bo yang di persembahan khusus bagi Tuhan, bumi, air, lingkungan dan leluhur," tuturnya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved