Rabu, 3 Juni 2026

Lembata Terkini

Air Bersih untuk 7 Desa di Lembata Tercemar, Gunung Iya di Ende Status Waspada

Sebanyak tujuh desa terdampak letusan gunung api Ili Lewotolok antara lain Desa Todanara, Desa Jontona, Desa Bailaliduli

Tayang:
POS-KUPANG.COM/HO
STATUS WASPADA - Penampakan Gunung Iya dari Pos Pengamatan Gunung Api Iya. Gunung Iya di Kabupaten Ende mengalami peningkatan status menjadi waspada (level 2). 

Ringkasan Berita:
  • Kepala Pelaksana - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Andris Koban mengatakan, akibat letusan Gunung Ili Lewotolok, air bersih yang ditampung warga pada 7 desa itu tercemar. 
  • Kini, BPBD Lembata sedang berkoordinasi untuk distribusi air minum bersih ke desa-desa terdampak abu letusan gunung ili Lewotolok.  
  • "Kondisi hujan abu, air yang ditampung warga tercemar, kami lagi koordinasi untuk dukungan air bersih," kata Andris, Senin (19/1).

 

POS-KUPANG.COM, LEWOLOBA - Sebanyak tujuh desa terdampak letusan gunung api Ili Lewotolok antara lain Desa Todanara, Desa Jontona, Desa Bailaliduli, Desa Lamaau, Desa Aulesa, Desa Lamatokan dan Desa Watodiri.

Kepala Pelaksana - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Andris Koban mengatakan, akibat letusan Gunung Ili Lewotolok, air bersih yang ditampung warga pada 7 desa itu tercemar. 

Kini, BPBD Lembata sedang berkoordinasi untuk distribusi air minum bersih ke desa-desa terdampak abu letusan gunung ili Lewotolok.  "Kondisi hujan abu, air yang ditampung warga tercemar, kami lagi koordinasi untuk dukungan air bersih," kata Andris, Senin (19/1).

Dikatakan, dampak letusan gunung tersebut menyebabkan abu vulkanik menutup rumah warga dan tanaman pertanian warga pada 7 desa tersebut. 

Sementara pada Senin (19/1) pagi, Gunung Ili Lewotolok dua kali erupsi. Pertama pada pukul 06:18 Wita. dengan tinggi kolom abu teramati ± 400 m di atas puncak (± 1.823 m di atas permukaan laut).

Syawaludin, Petugas Pos pengamatan Gunung Ili Lewotolok melaporkan, kolom abu teramati berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas sedang dan condong ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 19 mm dan durasi ±  48 detik.

Pada  pukul 08:59 Wita kembali erupsi dengan tinggi kolom abu teramati ± 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 21.4 mm dan durasi ± 1 menit 15 detik.

Saat ini Gunung Ili Lewotolok berada pada status level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas didalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok. 

Gunung Iya Naik Status

Sementara itu, aktivitas Gunung Iya di Kabupaten Ende, kembali menunjukkan adanya peningkatan. Berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Api Iya bahwa untuk periode 18 Januari 2026 pukul 00:00-24:00 Wita, tingkat aktivitas Gunung Iya dinaikkan menjadi status waspada (level 2).

Selama periode pengamatan itu, cuaca di sekitar gunung setinggi 637 meter di atas permukaan laut ini dilaporkan cerah hingga berawan.  Angin bertiup lemah hingga sedang dari berbagai arah, dengan suhu udara 27,4–31,2 derajat Celsius, kelembaban 72,1– 82,2 persen dan tekanan udara 1001–1002 mmHg.

Secara visual, gunung terlihat jelas dengan kabut tipis (0-I). Asap kawah berwarna putih teramati keluar dengan tekanan lemah, intensitas tipis, dan tinggi mencapai 50–100 meter di atas puncak kawah.

Pemantauan kegempaan menunjukkan adanya aktivitas tektonik lokal maupun jauh yakni gempa tektonik lokal tercatat dengan amplitudo 11,74 mm, jarak S-P 4,82 detik, dan durasi 22,59 detik. Sedangkan gempa tektonik jauh tercatat dengan amplitudo 7,49–16,38 mm, jarak S-P 15,8–30,95 detik, dan durasi 77,05–130,61 detik.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat sekitar Gunung Iya serta pengunjung (wisatawan) agar tidak mendekati kawasan dalam radius 2 km dari kawah aktif, baik di darat maupun di laut.
Menghindari lubang tembusan gas di sekitar kawah untuk mencegah potensi bahaya dari gas beracun. (awk/bet)

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved