Kamis, 21 Mei 2026

Ramadan 2026

Perkiraan 1 Ramadan 2026 Versi NU,Pemerintah,Muhammadiyah, Simak Syarat Wajib dan Sah Puasa Ramadhan

Perkiraan 1 Ramadan 2026 versi NU, Pemerintah dan Muhammadiyah, simak syarat wajib dan sah Puasa Ramadhan

Tayang:
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Adiana Ahmad
Freepik/AI
PERKIRAAN 1 RAMADAN 2026 - Ilustrasi ornamen Ramadan hasil olah kecerdasan buatan (AI) yang diunduh di Freepik pada Senin (3/3/2025). Perkiraan 1 Ramadan 2026 Versi NU,Pemerintah,Muhammadiyah, Simak Syarat Wajib dan Sah Puasa Ramadhan. 

POS-KUPANG.COM - Awal Ramadan 2026 sesuai Kalender 2026 jatuh pada 18 Februari 2026.

Namun kepastian pelaksanaan Puasa Ramadhan masih menunggu Sidang Isbat yang akan digelar Kementerian Agama.

Sementara Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Ramadan 2026.

Kapan Perkiraan 1 Ramadan 2026 versi NU, Pemerintah dan Muhammadiyah?

Berikut informasinya.

Penetapan hari pertama Ramadan merupakan momen penting yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Baca juga: Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih Lengkap Doa Setelah Sholat Dibaca Sata Bulan Puasa Ramadhan

Pada bulan ini umat muslim diwajibkan untuk melaksanakan puasa satu bulan penuh.

Puasa Ramadan merupakan puasa yang diwajibkan oleh Allah SWT.

Perintah untuk Puasa Ramadhan ini termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ - ١٨٣

Arab Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Berikut Perkiraan 1 Ramadan 2026 NU, Pemerintah dan Muhammadiyah

1.Perkiraan 1 Ramadan 2026 versi NU:

Nahdlatul Ulama belum mengumumkan hasil keputusan resmi awal puasa 2026. NU masih menunggu hasil rukyatul hilal menjelang akhir bulan Syaban.

Meski demikian, berdasarkan prediksi kalender Almanak NU, 1 Ramadan kemungkinan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Baca juga: Simak 15 Ucapan Selamat Menyambut Ramadan 2026, Pas Dikirimkan ke Sahabat dan Keluarga Tercinta

2. Perkiraan 1 Ramadan 2026 versi Pemerintah

Pemerintah belum menetapkan secara resmi awal puasa Ramadan 2026. Keputusan ini akan diumumkan melalui sidang isbat Ramadan 1447 Hijriah.

Berikut rincian acaranya:

Lokasi sidang: Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta Pusat
Pemimpin sidang: Menteri Agama Nasaruddin Umar
Link Live Streaming Sidang Isbat: YouTube Kemenag

Namun, jika mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Ditjen Bimas Islam Kemenag, awal puasa diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Tetapi tetap menunggu hasil sidang Isbat.

3. Perkiraan 1 Ramadan 2026 versi Muhammadiyah
Berbeda dari pemerintah dan NU, Muhammadiyah telah menentukan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki dengan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KGHT), sehingga awal bulan Hijriah dapat ditentukan secara astronomis tanpa perlu menunggu hasil rukyatul hilal.

Baca juga: Persiapan Penentuan Awal Ramadan 2026,Kemenag Buka Rekrut 1000 Konten Kreator untuk Pengamatan Hilal

Syarat Wajib Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan rukun Islam keempat sehingga pelaksanaannya harus memenuhi syarat wajib dan sah puasa. 

Dilansir dari buku Fikih karya Udin Wahyudin dkk. dan buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadan karya Ahmad Sarwat Lc, berikut ini adalah beberapa Syarat Wajib Puasa Ramadan.

1. Beragama Islam
Puasa Ramadan diwajibkan bagi setiap orang yang beragama Islam baik laki-laki atau perempuan (jika tidak halangan). Tetapi bagi mereka yang tidak beragama Islam, kewajiban ini tidak berlaku.

2. Balig
Balig berarti seseorang telah mencapai usia dewasa sesuai dengan ketentuan syariat. Anak-anak yang belum balig tidak memiliki kewajiban untuk melakukan puasa Ramadan.

3. Berakal
Syarat lain seseorang yang telah wajib untuk menjalankan puasa adalah memiliki akal yang sehat. Seseorang yang mengalami gangguan akal, seperti pingsan atau gangguan jiwa, tidak diwajibkan untuk melaksanakan puasa.

4. Sehat
Puasa Ramadan juga diwajibkan untuk orang yang memiliki kondisi sehat. Jika seseorang muslim sedang sakit saat Ramadan, ia tidak wajib berpuasa. Namun, setelah sembuh tetap berkewajiban untuk mengganti puasa.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 185, yang artinya

"...Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain..."

Penyakit yang membolehkan seseorang tidak berpuasa adalah penyakit yang dapat bertambah parah atau memperlambat kesembuhan jika tetap dipaksakan berpuasa.

Baca juga: Catat Jadwal Libur Sekolah Awal Puasa Ramadan 2026, Liburan Panjang Mulai Tanggal 16 Februari?

5. Mampu
Allah SWT hanya mewajibkan puasa Ramadan kepada orang yang memang masih sanggup menjalankannya. Akan tetapi, bagi seorang Muslim yang tubuhnya sudah lemah seperti telah lanjut usia dan secara fisik sudah tidak memungkinkan berpuasa, maka ia tidak diwajibkan berpuasa.

6. Bukan Musafir
Bagi seorang muslim yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir) tidak diwajibkan untuk berpuasa Ramadan. Tetapi, puasa yang ditinggalkan tersebut wajib diganti di lain hari saat tidak dalam perjalanan jauh.

7. Suci dari Haid dan Nifas
Perempuan muslim yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan berpuasa. Bahkan, jika tetap melakukan puasa dalam kondisi tersebut, hukumnya menjadi haram.

Hal ini dijelaskan dalam hadits dari Aisyah RA,

"Kami (perempuan yang haid dan nifas) diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha sholat." (HR Muslim)

Syarat Sah Puasa Ramadan
Dikutip dari buku Tuntunan Puasa menurut Al-Quran dan Sunah karya Alik al Adhim, syarat sah puasa adalah ketentuan yang perlu dipenuhi agar puasa yang dilakukan seseorang dinyatakan sah di hadapan Allah SWT, antara lain:

1. Niat
Bagi muslim yang menjalankan puasa wajib di bulan Ramadan tetapi tidak berniat, maka puasanya tidak sah. Ketentuan ini berlaku bagi puasa wajib. Sedangkan pada puasa sunah, niat masih boleh dilakukan pada siang hari.

2. Beragama Islam
Puasa hanya sah dilakukan oleh orang yang beragama Islam. Sedangkan bagi orang yang bukan beragama Islam melakukan puasa tidak akan mendapatkan pahala.

3. Suci dari Haid dan Nifas
Puasa tidak sah apabila dilakukan oleh seorang perempuan yang sedang dalam kondisi haid atau nifas.

4. Dilakukan pada Hari yang Diperbolehkan Puasa
Puasa harus dilakukan pada hari yang memang diperbolehkan. Jika puasa dilakukan pada hari yang dilarang, maka puasanya tidak sah, bahkan dapat menjadi haram.

Beberapa hari yang tidak boleh digunakan untuk berpuasa, antara lain:

Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal
Hari Raya idul Adha, 10 Zulhijjah
Hari Tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah
Puasa sunnah yang dilakukan hanya pada hari Jumat
Puasa pada hari Syak, yakni tanggal 30 Syaban saat masih ragu apakah sudah masuk Ramadan atau belum

Niat Puasa Ramadan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta'ala.

Artinya: "Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta'ala." (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved