Kamis, 4 Juni 2026

Ramadan 2026

Jadwal Awal Puasa Ramadhan 2026: Ada Potensi Perbedaan Versi Muhammadiyah dan NU

Jadwal Awal Puasa Ramadhan 2026: Ada Potensi Perbedaan Versi Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU), ini penyebabnya

Tayang:
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Adiana Ahmad
BANJARMASINPOST.CO.ID
JADWAL AWAL PUASA RAMADAN 2026 - Ilustrasi Puasa Ramadan 2026. Jadwal Awal Puasa Ramadhan 2026: Ada Potensi Perbedaan Versi Muhammadiyah dan NU. 

POS-KUPANG.COM - Jadwal Awal Puasa Ramadan 2026 antara Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) berpotensi terjadi perbedaan. 

Penyebabnya,  lantaran penggunaan metode perhitungan yang berbeda.

Sesuai kalender Pemerintah, dalam waktu kurang dari satu bulan lagi, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut bulan suci Ramadan. 

Berikut Jadwal Awal Puasa Ramadan 2026 Versi Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU)

Baca juga: Jadwal Puasa Ramadan 2026, Ini Perkiraan Tanggalnya Menurut Pemerintah dan Muhammadiyah

Jadwal Awal Puasa Ramadan 2026 versi Muhammadiyah

Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah mengumumkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Jadwal lengkap pun telah dirilis dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) baru.

Muhammadiyah menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri dengan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Metode tersebut memungkinkan pihaknya menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri dari jauh-jauh hari.

Keputusan soal awal Ramadan 2026 ditetapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpian Pusat (PP) Muhammadiyah berdasarkan peninjauan dari data astronomis global dan validasi parameter KHGT.

Adapun Hari Raya Idul Fitri 2026 atau 1 Syawal 1447 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Ini Jadwal Awal Puasa Ramadan 2026 menurut Kalender Kementerian Agama dan Nahdatul Ulama (NU)

Baca juga: Puasa Ramadan 2026/1447 Hijriah Dimulai Kapan? Ini Prediksi NU, Muhammadiyah dan Pemerintah

Ada potensi perbedaan awal puasa Ramadhan antara pemerintah (Kementerian Agama) dan Nahdlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah. Ini karena penggunaan metode perhitungan yang berbeda.

Kendati sama-sama menggunakan kalender Qomariyah, terdapat perbedaan metode hitung untuk beberapa kelompok, terutama organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sementara Kementerian Agama dan NU menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan hilal dan hisab dengan perhitungan astronomis.

Hasil dari pengamatan hilal di berbagai daerah di Indonesia ini akan dibahas dalam sidang isbat untuk menentukan apakah sudah masuk bulan baru atau belum. Kemudian, hasil sidang isbat akan menjadi acuan bagi masyarakat untuk memulai ibadah puasa. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved