NTT Terkini
Beban Pengusaha Akibat Harga BBM Naik, IWAPI NTT: Prioritaskan Efisiensi Operasional dan Tolak PHK
IWAPI NTT optimistis para pengusaha perempuan di daerah ini memiliki kemampuan dan ketangguhan untuk menghadapi tantangan ekonomi yang ada.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengajak para pelaku usaha, khususnya UMKM untuk mengedepankan efisiensi operasional dan menjaga keberlangsungan tenaga kerja di tengah dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai dirasakan berbagai sektor usaha.
Ketua IWAPI NTT, Dr. Inche D. P. Sayuna, mengatakan kenaikan harga BBM memberikan tekanan terhadap struktur biaya operasional UMKM, terutama pada sektor transportasi, distribusi barang kebutuhan pokok, dan jasa kuliner.
“Kami sungguh menyadari bahwa penyesuaian harga ini merupakan kebijakan nasional. Namun bagi pelaku usaha di NTT, dampaknya terasa berlipat ganda karena kendala rantai pasok dan jarak geografis. Kami mengajak seluruh anggota untuk tetap tenang, namun responsif dalam mengelola keuangan usaha,” ujar Inche, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut para pelaku usaha untuk memperkuat ketahanan operasional agar tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah meningkatnya biaya usaha. Untuk itu, IWAPI NTT menekankan tiga langkah strategis yang perlu dilakukan anggotanya.
Baca juga: IWAPI NTT Gelar Musda, Inche Sayuna Kembali Pimpin Satu Periode Lagi
Langkah pertama adalah optimalisasi digital, yakni mempercepat transformasi digital untuk menekan biaya pemasaran maupun biaya operasional usaha. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat membantu UMKM menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya yang lebih efisien.
Langkah kedua, kata dia, adalah kolaborasi pengadaan, dengan mendorong pola pembelian bahan baku secara kolektif antar anggota. Melalui cara ini, pelaku usaha dapat memperoleh harga yang lebih kompetitif di tengah kenaikan harga barang dan biaya distribusi.
Sementara langkah ketiga adalah efisiensi berbasis kreativitas, yaitu melakukan evaluasi penggunaan energi di lokasi usaha serta memprioritaskan inovasi produk yang menggunakan bahan baku lokal guna mengurangi ketergantungan pada logistik jarak jauh.
Selain fokus pada efisiensi, IWAPI NTT juga menegaskan pentingnya menjaga tenaga kerja sebagai aset utama perusahaan. Organisasi tersebut mengimbau para anggotanya agar tidak menjadikan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai solusi utama menghadapi tekanan ekonomi.
“IWAPI NTT dengan tegas mengimbau anggota untuk menjadikan PHK sebagai langkah terakhir yang sebisa mungkin dihindari. Karyawan adalah aset terpenting yang membantu pertumbuhan usaha kita selama ini,” kata anggota DPRD NTT itu.
Ketua PCI NTT ini juga menjelaskan, pelaku usaha masih dapat melakukan berbagai penyesuaian operasional tanpa harus mengurangi jumlah pekerja.
Beberapa alternatif menurut dia, yang dapat diterapkan antara lain sistem kerja yang lebih fleksibel, rotasi tugas, pengaturan jadwal kerja berbasis shift, maupun penyesuaian operasional lainnya agar produktivitas tetap terjaga.
Di sisi lain, IWAPI NTT juga menyampaikan sejumlah harapan kepada pemerintah terkait dukungan bagi UMKM yang terdampak kenaikan biaya operasional.
Menurut Inche, pemerintah perlu menyalurkan insentif yang bersifat produktif sehingga mampu memperkuat daya tahan usaha, bukan hanya bantuan yang bersifat konsumtif.
“IWAPI NTT mendesak pemerintah untuk menyalurkan insentif yang bersifat produktif bagi UMKM, bukan sekadar bantuan konsumtif. Kami berharap adanya kemudahan akses modal kerja dengan bunga rendah dan keringanan biaya logistik bagi UMKM yang beroperasi di wilayah 3T, yaitu terdepan, terluar, dan tertinggal,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-Komisi-III-DPRD-NTT-Inche-DP-Sayuna.jpg)