NTT Terkini
WE NEXUS Dorong Perempuan NTT Jadi Penggerak Perdamaian dan Ketangguhan Desa
Kegiatan lokakarya tersebut merupakan kerja sama Save the Children Indonesia bersama UN Women dan mitra lokal CIS Timor.
Penulis: Elisabeth Eklesia Mei | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Program WE NEXUS dorong perempuan NTT menjadi penggerak perdamaian dan ketangguhan desa.
Hal ini dikatakan Direktur Humanitarian dan Impact Innovation Save the Children Indonesia, Fadli Usman dalam kegiatan lokakarya berbagi pembelajaran, praktik baik, dan evaluasi refleksi Proyek WE NEXUS: Perempuan Berdaya untuk Perdamaian Berkelanjutan yang berlangsung di Hotel Harper Kupang, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan lokakarya tersebut merupakan kerja sama Save the Children Indonesia bersama UN Women dan mitra lokal CIS Timor.
Program WE NEXUS ini didanai oleh Pemerintah Korea Selatan melalui KOICA telah berjalan sejak Agustus 2024 hingga Juni 2026.
Baca juga: CIS Timor dan Save the Children Bekali Guru SD di Kabupaten Kupang Mitigasi Bencana
Fadli Usman mengatakan, program WE NEXUS dilaksanakan di tujuh desa dampingan di Kabupaten Kupang, yakni Desa Manusak, Raknamo, Camplong 2, dan Tolnaku, serta di Kabupaten Timor Tengah Selatan meliputi Desa Spaha, Oetuke, dan Tuapakas.
“Program ini difokuskan untuk membangun ketangguhan masyarakat di wilayah yang memiliki risiko tumpang tindih antara konflik sosial dan bencana alam akibat krisis iklim,” kata Fadli.
Fadli menyebut, program WE NEXUS telah memberikan ruang bagi perempuan untuk menjadi aktor aktif yang berkontribusi pada pembangunan perdamaian dan ketangguhan di wilayahnya masing-masing.
“Pembelajaran yang kita petik hari ini harus menjadi pondasi untuk memastikan Nusa Tenggara Timur selalu tangguh dan damai ke depannya,” ujarnya.
Selama hampir dua tahun pelaksanaan, kata Fadli, program WE NEXUS mencatat sebanyak 3.734 keterlibatan peserta, terdiri dari 2.538 perempuan dan 1.196 laki-laki.
Menurut Fadli, program ini juga memperkuat struktur partisipasi masyarakat desa melalui pembentukan tujuh Forum Perempuan Desa, tujuh Kelompok Kerja Perdamaian Desa, tujuh kelompok VSLA (Village Savings and Loan Association), serta revitalisasi tujuh Karang Taruna Desa.
“Berbagai inisiatif ini menjadi ruang bagi masyarakat desa untuk menyampaikan kebutuhan, terlibat dalam proses pengambilan keputusan, serta mendorong pembangunan desa yang lebih inklusif dan setara,” tuturnya.
Sementara itu, Programme Manager Governance, Peace and Resilience UN Women, Yulies Puspitaningtyas menyebut kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam menghadapi krisis jangka panjang di wilayah rentan seperti NTT.
Menurut Yulies, sinergi bersama Save the Children dan CIS Timor berhasil meningkatkan kapasitas kelompok perempuan sehingga lebih berdaya dan terlibat dalam pengambilan keputusan di tingkat desa.
“Melalui Musyawarah Kelompok Perempuan, aspirasi perempuan dihimpun dan disuarakan secara kolektif untuk mempengaruhi kebijakan serta perencanaan dan penganggaran desa,” kata Yulies.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lokakarya-desiminasi-praktik-baik.jpg)