Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Sabtu 4 April 2026: Bangkit bersama Kristus
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa manusia mudah lupa. Israel berulangkali berpaling, merasa mampu menjamin hidupnya sendiri.
Oleh: Romo Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Liturgi Vigili Paskah diawali dengan upacara cahaya. Dalam kegelapan malam, cahaya kecil itu dinyalakan dan perlahan menyebar. Dari satu nyala, terang itu menjalar, mengusir gelap sedikit demi sedikit.
Cahaya ini mengingatkan kita akan awal penciptaan sebagaimana dituturkan dalam Kitab Kejadian (Kej. 1:1–2:2). Dunia pada mulanya kacau dan gelap.
Namun Allah berfirman, dan terang pun lahir. Dari kekacauan muncul keteraturan, dari kegelapan lahir kehidupan. Kisah penciptaan mengajarkan kita bahwa hidup kita berasal dari Allah.
Kita bergantung sepenuhnya pada Dia. Cahaya pertama di awal kehidupan menjadi tanda kesetiaan Allah yang tidak pernah padam sejak awal mula.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 4 April 2026, "Kebangkitan Yesus: Otoritas Hidup Abadi ada Pada-Nya"
Kesetiaan itu berlanjut dalam sejarah keselamatan ketika Allah memanggil Abraham (Kej. 12:1–9), memberikan janji (Kej. 15), dan menepatinya melalui kelahiran Ishak dari Sara yang telah lanjut usia (Kej. 21:1–7).
Dalam kisah ini tampak bahwa kesetiaan Allah melampaui segala perhitungan manusia.
Ia setia bukan karena manusia layak, tetapi karena Ia adalah Allah yang setia. Maka cahaya janji itu tetap menyala, bahkan di tengah kemustahilan.
Namun manusia begitu rapuh dan tidak selalu setia. Dalam diri Yakub yangkemudian bernama Israel, kita melihat kerapuhan itu.
Ia merebut hak kesulungan dari Esau dengan tipu daya terhadap Ishak ayahnya (Kej. 27:1–40), lalu melarikan diri dalam ketakutan ke Mesopotamia (Kej. 27:41–28:9).
Dalam pelariannya, di Betel, ia bermimpi (Kej. 28:10–22). Dan dalam kesunyian malam itu, ia bergulat dengan Allah.
Dalam pergulatan itu, Yakub menang—sebuah kemenangan yang paradoks. Iamenang, tetapi berjalan pincang seumur hidup. Luka di pangkal pahanya menjadi tanda bahwa di hadapan Allah, bahkan seorang pemenang tetaplah rapuh.
Setelah itu ia menerima nama baru: Israel. Nama Israel berasal dari kata Ibrani ( לֵא ָרְש יׂ/ Yisra’el), dari akar kata śārâ (הָרָר—( bergumul, berjuang, bertahan—dan El (לֵא—(Allah/Yahwe. Maka Israel berarti “yang bergumul dengan Allah.”
Dalam pergulatan itu manusia berpegang pada Allah dan tidak mau melepaskan-Nya. Namun nama ini juga menyimpan misteri yang lebih dalam: Allah sendiri berjuang bagi manusia, bahkan ketika manusia lemah dan jatuh.
Di sinilah cahaya iman tampak—bukan sebagai kekuatan manusia, tetapi sebagai kesetiaan untuk tetap tinggal dalam genggaman Allah.
Romo Leo Mali
Leo Mali
Renungan Harian Katolik
Perayaan Sabtu Alleluya
Sabtu Alleluya
Perayaan Malam Paskah
| Renungan Harian Katolik Sabtu 25 April 2026, "Kuasa Ilahi Tuhan: Kesukaan Orang Beriman Tangguh" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Sabtu 25 April 2026, "Pergilah ke Seluruh Dunia" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Sabtu 25 April 2026, "Tuhan Turut Bekerja dan Meneguhkan Firman" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Jumat 24 April 2026 "Engkaulah Segalanya, Santapanku Kekuatanku" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Jumat 24 April 2026, "Tinggal di Dalam Aku" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Leo-Mali-P.jpg)