Rabu, 22 April 2026

Paskah 2026

Kamis Putih di Katedral Kupang, Umat Diteguhkan Jadi Pelayan

Menurutnya, peristiwa Perjamuan Malam Terakhir bukan sekadar perjamuan biasa, melainkan peristiwa iman yang sarat makna. 

Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/ALEXANDRO NOVALIANO DEMON PAKU
KAMIS PUTIH - Perayaan Misa I Kamis Putih di Katedral Kristus Raja Kupang, Kamis (2/4/2026), berlangsung khidmat dan penuh makna. 

Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Alexandro Novaliano Demon Paku

POS-KUPANG. COM, OELAMASI - Perayaan Misa I Kamis Putih di Katedral Kristus Raja Kupang, Kamis (2/4/2026), berlangsung khidmat dan penuh makna. 

Ratusan umat Katolik memadati gereja untuk mengenangkan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para murid-Nya, sekaligus meneguhkan panggilan sebagai pelayan bagi sesama.

Romo Damianus Bell dalam homilinya menekankan bahwa iman Kristiani tidak berhenti pada pengakuan percaya, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui pelayanan yang tulus.

“Melalui tindakan membasuh kaki para murid, Yesus menunjukkan bahwa tidak ada sekat dalam pelayanan. Ia adalah Guru, tetapi merendahkan diri untuk melayani. Ini menjadi teladan bagi kita semua,” ungkapnya.

Baca juga: Paskah Jadi Momentum Persatuan, MUI NTT Serukan Penguatan Kerukunan Umat

Menurutnya, peristiwa Perjamuan Malam Terakhir bukan sekadar perjamuan biasa, melainkan peristiwa iman yang sarat makna. 

Dalam momen itu, Yesus tidak hanya membagikan roti dan anggur sebagai tanda tubuh dan darah-Nya, tetapi juga meramalkan pengkhianatan oleh salah satu murid serta penyangkalan oleh Petrus.

“Di tengah kebersamaan itu, ada luka, ada pengkhianatan, tetapi juga ada kasih yang begitu besar. Yesus tetap memilih untuk mengasihi sampai akhir,” jelasnya.

Romo Damianus menambahkan, setelah perjamuan tersebut, Yesus pergi untuk berdoa dalam kesedihan mendalam sebagai awal dari jalan sengsara-Nya. 

Hal ini dimaknai dalam liturgi melalui prosesi pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat khusus, yang melambangkan Yesus berjalan sendirian menghadapi penderitaan.

“Oleh karena itu, umat diajak untuk berjaga dan berdoa dalam keheningan, merenungkan pengorbanan Kristus,” katanya.

Ia juga menyoroti sikap umat selama perayaan Ekaristi. Menurutnya, Ekaristi adalah sumber dan puncak iman Kristiani yang harus diikuti dengan penuh kesadaran dan penghormatan.

“Kita tidak boleh sibuk sendiri saat misa. Jangan berbicara, bermain HP, atau melakukan hal lain yang mengganggu kekhusyukan. Ekaristi adalah perayaan suci, tempat kita bersatu dengan Kristus dan sesama,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Perjamuan Malam Terakhir juga menjadi momen awal penetapan imamat. Dalam peristiwa itu, Yesus secara tidak langsung menahbiskan para rasul untuk melanjutkan karya pelayanan-Nya di dunia.

“Karena itu, dalam setiap perayaan Ekaristi, Kristus hadir melalui imam. Ini adalah misteri iman yang harus kita hayati dengan sungguh,” tambahnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved