NTT Terkini
Ana Waha Kolin Soroti Peran Keluarga hingga Aparat dalam Cegah TPPO di NTT
Ana juga mengingatkan pentingnya menciptakan suasana rumah yang nyaman bagi anak agar mereka merasa aman untuk bercerita.
Ringkasan Berita:
- Anggota DPRD NTT Ana Waha Kolin menyoroti peran keluarga hingga aparat dalam mencegah TPPO di NTT
- Keluarga merupakan benteng pertama dalam melindungi anak
- Pihak berwenang diminta menindak tegas pelaku utama di balik kasus TPPO
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eugenius Suba Boro
POS-KUPANG.COM, KUPANG — Aktivis perempuan dan anak sekaligus Sekretaris Komisi IV DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), Ana Waha Kolin, menegaskan bahwa persoalan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di NTT harus ditangani secara serius dan menyeluruh dari berbagai aspek, hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai pada Selasa (24/3/2026).
Menurut Ana, faktor utama yang harus menjadi perhatian dalam upaya pencegahan TPPO adalah keluarga. Ia menekankan bahwa keluarga merupakan benteng pertama dalam melindungi anak.
“Keluarga harus menjadi tumpuan informasi tentang anggota keluarga. Artinya orang tua harus benar-benar tahu keberadaan anaknya, dengan siapa dia bergaul dan ke mana dia pergi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi yang sehat dalam keluarga. Menurutnya, penyelesaian persoalan tidak boleh dilakukan dengan pendekatan otoriter.
Baca juga: DP3A NTT Pastikan Penanganan Kasus Eksploitasi Seksual Anak, Perkuat Layanan Perlindungan Korban
“Keluarga adalah tempat menyelesaikan semua persoalan. Bapa, mama, dan anak harus saling terbuka dan melakukan komunikasi dua arah, bukan menggurui,” tegasnya.
Selain itu, penguatan nilai spiritual juga dinilai penting. Ia mengajak keluarga untuk memperteguh iman melalui kegiatan bersama.
“Memperteguh iman dalam keluarga, berdoa bersama, melakukan ibadah bersama seperti ke gereja atau tempat ibadah lainnya,” tambahnya.
Ana juga mengingatkan pentingnya menciptakan suasana rumah yang nyaman bagi anak agar mereka merasa aman untuk bercerita.
“Keluarga harus menciptakan situasi dan kondisi yang soft dan nyaman bagi anak,” katanya.
Tak hanya keluarga, faktor lingkungan juga dinilai berperan penting. Ia mendorong masyarakat untuk menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan.
“Hidupkan kembali siskamling. Setiap RT harus punya kegiatan anak atau kepemudaan sehingga anak tidak punya waktu hanya bermain dan tergantung pada handphone,” jelasnya.
Di sektor pendidikan, Ana menekankan pentingnya sekolah yang ramah anak. Ia mengingatkan agar hubungan antara guru dan murid dibangun secara humanis.
“Sekolah harus menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua anak. Komunikasi saat belajar tidak boleh seperti atasan dan bawahan, tapi antara guru sebagai orang tua dan murid sebagai anak,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sekretaris-Komisi-IV-DPRD-NTT-Ana-Waha-Kolin-saat-memberikan-keterangan-tentang-pembangunan.jpg)