Jumat, 1 Mei 2026

NTT Terkini 

Menjemput Pesona Lumba-lumba Alor: Wisata Bahari yang Indah, Lestari dan Bertanggung Jawab

Momen seperti ini sulit ditemukan di banyak tempat, dan Alor menghadirkannya dengan cara yang begitu alami.

Tayang:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Kepala UPTD Pengelola Taman Perairan Laut Kepulauan Alor dan Laut sekitarnya, Augustinus Fr. Haru 

Oleh: Augustinus Fr. Haru (Kepala UPTD Pengelola Taman Perairan Laut Kepulauan Alor dan Laut sekitarnya)

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kabupaten Kepulauan Alor dikenal sebagai salah satu wilayah kepulauan terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dianugerahi kekayaan laut luar biasa.

Dengan gugusan 15 pulau besar, sedang, dan kecil, Alor bukan hanya kaya akan potensi perikanan, tetapi juga menyimpan daya tarik wisata bahari yang semakin dilirik, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Salah satu pesona yang tak terlupakan adalah atraksi alami gerombolan lumba-lumba di perairan Teluk Mutiara.

Pada pagi hari yang tenang, permukaan laut yang biru jernih kerap dihiasi lompatan-lompatan lincah lumba-lumba yang berenang berkelompok.

Baca juga: Lumba-lumba Ditemukan Terdampar di Pantai Pariti Mati, BKKPN Kupang Analisa Penyebabnya

Pemandangan ini bukan sekadar indah, tetapi juga menghadirkan rasa takjub—seolah alam sedang memperlihatkan harmoni kehidupan laut yang masih terjaga.

Lumba-lumba, atau dolphin, merupakan mamalia laut yang cerdas dan termasuk spesies yang dilindungi.

Kehadiran mereka yang konsisten di perairan Alor menjadi indikator penting bahwa ekosistem laut di wilayah ini masih sehat.

Ini bukan hal yang datang begitu saja, melainkan hasil dari keseimbangan antara alam dan kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan.

Di tengah potensi besar tersebut, Pemerintah Provinsi NTT telah mengambil langkah strategis melalui Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 36 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Wisata Menonton Setasea pada Kawasan Konservasi Daerah.

Regulasi ini bukan sekadar aturan administratif, melainkan sebuah komitmen untuk memastikan bahwa aktivitas wisata tetap berjalan selaras dengan prinsip konservasi.

Wisata menonton lumba-lumba, jika tidak diatur dengan baik, berpotensi mengganggu habitat alami satwa tersebut.

Oleh karena itu, pendekatan yang profesional, arif, dan bijaksana menjadi kunci utama. 

Pengaturan jarak aman, pembatasan jumlah kapal, serta edukasi kepada wisatawan adalah beberapa langkah penting yang harus dijalankan secara konsisten.

Di sisi lain, wisata bahari ini membuka peluang ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat lokal. Kehadiran wisatawan berarti peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha perahu wisata, pemandu lokal, hingga sektor pendukung lainnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved