NTT Terkini
Kadis Dikbud NTT Imbau Guru - Kepsek Peka dengan Kondisi Siswa
Ia mempertanyakan peran dan kinerja para pendamping bantuan yang selama ini bertugas di tingkat kecamatan hingga kabupaten.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
Ringkasan Berita:
- Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Nusa Tenggara Timur (NTT) Ambrosius Kodo beri imbauan kepada para guru dan Kepala Sekolah
- Harus peka dengan kondisi siswa
- Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT Agustinus Nahak, menilai kasus kematian siswa SD di Ngada bukti nyata buruknya pendataan keluarga miskin di NTT
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Nusa Tenggara Timur (NTT) Ambrosius Kodo mengimbau para guru dan Kepala Sekolah (Kepsek) agar lebih peka dengan kondisi siswa.
Ambrosius merespons peristiwa yang menimpa seorang anak Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada. Kejadian itu menjadi perhatian sekaligus cerminan bersama.
"Semua teman-teman Kepala Satuan Menengah dan Luar Biasa di Provinsi mari kita lebih memperhatikan siswa-siswi kita, lebih peka melihat peserta didik kita melalui wali kelas," ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Ambrosius mengatakan, jika ada persoalan yang dialami siswa-siswi, Kepsek dan guru agar membantu menyelesaikan dan tidak membiarkan peserta didik itu sendirian. Selama ini, kata dia, upaya perhatian sudah cukup.
Baca juga: Dinas Dikbud NTT Bahas Draf Peraturan Gubernur Terkait Pendanaan Pendidikan
"Tapi kita jaga supaya terus perhatikan siswa-siswi kita supaya lebih detail. Kita tingkatkan lagi," katanya.
Selain itu, dia meminta Satuan Pendidikan Menengah dan Luar Biasa agar menjaga situasi sekolah untuk ramah terhadap anak dan tanpa perilaku bullying yang bisa memicu hal yang tidak diinginkan.
Dia menegaskan sekolah agar benar-benar menyeleksi calon penerima bantuan dari Pemerintah. Siswa-siswi yang memiliki latar belakang tidak mampu harus menjadi prioritas. Demikian juga dengan kelengkapan syarat, sekolah perlu membantu kalau siswa mengalami kesulitan.
"Obyektif sehingga bantuan menyasar ke kelompok yang memang benar-benar membutuhkan. Kalau administrasi tidak mendukung, Pak Kepsek, Wakasek, Guru, Wali Kelas, mari kita bantu mereka," ujarnya.
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT Agustinus Nahak, menilai kasus kematian akibat bunuh diri yang menimpa seorang anak di Ngada, sebagai bukti nyata buruknya pendataan keluarga miskin di NTT.
Menurut Agustinus, peristiwa tragis tersebut menunjukkan masih banyak keluarga rentan yang luput dari perhatian pemerintah, meskipun berbagai program bantuan sosial telah disediakan oleh pemerintah pusat, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sosial tunai (BLT) maupun bantuan pada sektor pendidikan.
“Kasus kematian bunuh diri anak di Ngada ini memperlihatkan bahwa pendataan keluarga miskin di NTT sangat buruk. Pemerintah pusat sudah menyediakan bantuan seperti PKH dan bansos BLT, BOS, PIP, tetapi faktanya masih ada masyarakat yang tidak tersentuh bantuan,” katanya.
Ia mempertanyakan peran dan kinerja para pendamping bantuan yang selama ini bertugas di tingkat kecamatan hingga kabupaten.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ambrosius-Kodo-selaku-kepala-dinas-Dikbud-NTT.jpg)