Senin, 4 Mei 2026

Provinsi NTT Terkini

Wagub NTT Soroti Dampak dari Pinang Rokok dan Miras terhadap Ekonomi Keluarga dan Stunting

Wakil Gubernur NTTJohni Asadoma, mengajak masyarakat mengurangi kebiasaan mengonsumsi siri pinang, rokok, minuman keras (miras), judi online.

Tayang:
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Apolonia Matilde
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI/Irfan Hoi
DAMPAK - Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyoroti dampak dari kebiasaan mengonsumsi siri pinang, rokok, minuman keras (miras), hingga judi online. Jumat, (2/1/2026) di Kupang. 

Ringkasan Berita:
  • Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengajak masyarakat mengurangi konsumsi siri pinang, rokok, miras, dan judi online.
  • Karena berdampak pada ekonomi keluarga, kesehatan, serta tingginya angka stunting di NTT
  • Ia menilai pengeluaran harian untuk kebiasaan tersebut cukup besar dan seharusnya dialihkan untuk pemenuhan gizi anak 
  • Perubahan pola pikir dan perilaku orang tua penting demi peningkatan kualitas SDM, kesehatan anak, serta masa depan NTT

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

 

POS-KUPANG.COM KUPANG  - Wakil Gubernur NTTJohni Asadoma, mengajak masyarakat mengurangi kebiasaan mengonsumsi siri pinang, rokok, minuman keras (miras), hingga judi online. 

Menurutnya, kebiasaan tersebut memberi dampak langsung terhadap kondisi ekonomi keluarga, kesehatan, serta masih tingginya angka stunting di wilayah NTT.

Johni mengatakan, pesan itu kerap ia sampaikan setiap kali bertemu masyarakat. Ia menilai, pengeluaran harian warga untuk pinang, rokok, dan miras tergolong besar dan berpotensi menggerus pendapatan rumah tangga.

“Tiga hal ini selalu saya sampaikan. Karena setiap hari pasti ada pengeluaran sekitar Rp 50 ribu untuk pinang, rokok, dan miras. Itu belum termasuk judi online,” kata Johni, Jumat (2/12/2026) di Kupang.

Johni Asadoma mendorong masyarakat untuk mengubah pola pikir dalam mengelola keuangan rumah tangga. Ia menilai, uang yang selama ini dihabiskan untuk kebiasaan tersebut seharusnya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. 

“Bayangkan Rp 50 ribu itu dipakai untuk beli makan anak. Setiap hari Rp 10 ribu untuk telur, masih sisa Rp 40 ribu untuk daging, ikan, dan sayur,” kata dia.

Purnawirawan Polri itu menyebut, jika pola pikir tersebut ditanamkan secara konsisten, maka dalam satu hingga dua tahun ke depan akan terlihat perubahan perilaku di tengah masyarakat.

“Kalau mindset ini kita tanamkan, pasti akan ada perubahan. Kita tidak boleh pesimis selama rencana kita itu baik,” tegasnya.

Mantan Kapolda NTT ini juga menyinggung besarnya perputaran uang untuk pembelian pinang yang disebutnya mencapai Rp 1 triliun. Angka itu dinilai sangat besar dan seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih produktif.

“Pembelian pinang yang mencapai Rp 1 triliun itu bisa kita kurangi. Uangnya bisa dipakai untuk keperluan masyarakat,” ujarnya.

Johni Asadoma menilai, tingginya angka stunting di NTT tidak terlepas dari kebiasaan orang tua yang lebih memprioritaskan rokok, pinang, dan miras dibandingkan pemenuhan gizi anak.

“Kalau uang dipakai untuk rokok, pinang, dan miras, wajar kalau anak-anak NTT masih banyak yang stunting,” katanya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved