Breaking News
Rabu, 22 April 2026

Politani

Politani Kupang Gelar Workshop Bahas Integrasi Pertanian Lahan Kering dan Peternakan

Pada tanah yang kering itu, kata dia, tumbuh manusia yang tangguh, petani yang gigih dan gagasan besar tentang kemandirian pangan. 

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
WORKSHOP - Pose bersama narasumber, moderator serta pimpinan Politani Kupang dalam workshop yang digelar, Selasa (21/10/2025). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG  -  Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang menggelar workshop membahas integrasi pertanian lahan kering dan peternakan berkelanjutan. 

Workshop menghadirkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Joaz B. O Wanda, Sekjen PEPPSI NTT Okto Amnifu, dan Ketua YMTM Kupang Yosef Maan, dengan moderator Melinda Moata, Selasa (21/10/2025) di Auditorium Politani Kupang. 

Mewakili Direktur Politani Kupang, Wakil Direktur I Bidang Akademik Max A.J. Supit
mengatakan, tema workshop kali ini adalah integrasi pertanian lahan kering dan peternakan yang berkelanjutan sebagai pilar ketahanan pangan nasional wilayah kering seperti NTT. 

"Sangat strategis untuk masa depan kita, khususnya NTT yang kita kenal dengan karakter lahan kering," katanya. 

Max mengatakan, lahan kering perlu disentuh dengan ilmu dan inovasi serta teknologi secara bersamaan.

Baca juga: Gubernur NTT Ajak Lulusan Politani Lihat Potensi Desa Sebagai Masa Depan 

Pada tanah yang kering itu, kata dia, tumbuh manusia yang tangguh, petani yang gigih dan gagasan besar tentang kemandirian pangan. 

Menurut dia, integrasi antara pertanian lahan kering dan peternakan harusnya tidak sekadar konsep. Tetapi sebuah filosofi hidup yang melihat tanaman, hewan dan air dan manusia sebagai kesatuan ekosistem. 

"Kotoran ternak menjadi pupuk, tanaman jadi pakan, dan siklus ini berjalan berkelanjutan," katanya. 

Hal itu, menurut dia, telah ada sejak dulu. Sehingga pendekatan lewat ilmu pengetahuan dan modern perlu dilakukan secara masif.

Ada yang berpendapat bahwa pertanian dan peternakan yang terintegrasi tidak terlalu menguntungkan. 

Biasanya, ujar dia, membutuhkan waktu, tenaga kerja dan berbagai alasan yang pada akhirnya membuat petani memilih jalan instan agar berusaha secara cepat. 

Metode pertanian seperti tebas bakar hanya akan membuat kerusakan saat ini dan masa depan. Apalagi, NTT dengan karakteristik lahan  kering memungkinkan terjadinya penggerusan lahan. 

"Apakah lahan itu bisa menopang kehidupan generasi mendatang? NTT menjadi salah satu Provinsi termiskin di Indonesia. Kita hidup dalam tantangan global yang semakin kompleks," ujarnya. 

Dalam tantangan semacam itu, NTT dengan wilayah kering memiliki dampak tapi punya peluang jika dikelola secara integritas dan cerdas. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved