Kamis, 11 Juni 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 10 Juni 2026, "Orang Tak Beriman Benar Butuh Bukti Iman"

Dalam situasi belenggu pembenaran diri sendiri dan kelompok, Yesus secara transparan menyampaikan isi Kitab Suci tentang identitas-Nya

Tayang:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Fransiskus Funan Banusu SVD 

Renungan Harian Katolik
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
Rabu, 10 Juni 2026
ORANG TAK BERIMAN BENAR BUTUH BUKTI IMAN DARI ALLAH YANG BENAR
(1Raj. 18:20-39; Mzm. 16:1-2a.4.5.8.11; Mat. 5:17-19)

"Jangan kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi." (Mat. 5:17a)

Saling curiga, saling tuding untuk membenarkan diri sendiri seakan menjadi tabiat manusia yang telah berlangsung lama dari abad ke abad, dan dari zaman ke zaman. Tabiat yang memalukan dan sering ditampilkan di hadapan publik tanpa tahu malu ini, kadang menjadi media kutukan bagi diri sendiri tanpa disadari. 

Orang beriman rapuh tak pernah memahami dengan tepat bahwa entah tabiat buruk atau pun kelakuan yang baik selalu berlangsung di hadapan Tuhan. Ketimbang terprovokasi karena ego dan kepentingan kelompok untuk saling menghakimi, membangun prasangka, mari kita usung kebenaran dan menggali hal-hal baik di dalamnya untuk kemajuan, transformasi kebersamaan, sehingga baik hidup iman maupun sosial tampak kebih baik dan berubah. 

Dalam situasi belenggu pembenaran diri sendiri dan kelompok, Yesus secara transparan menyampaikan isi Kitab Suci tentang identitas-Nya yang telah terselubung berabad-abad lamanya.

Kaum Farisi dan orang elit agama Yahudi yang selalu berprasangka, bahkan lebih tepat selalu menghakimi Yesus sebagai pelanggar tragis hukum Taurat. Malah dicap sebagai orang Yahudi yang akan meniadakan Taurat. 

Sebagai Anak Allah, Ia datang dari Surga untuk menuntaskan kehendak Bapa-Nya dengan jalan menyempurnakan atau menggenapi nubuat-nubuat para nabi dalam Kitab Suci.

Persepsi saling menuding, prasangka, saling menghakimi, yang selalu menjadi aral kemandekan iman, Yesus bantai. Tuduhan terhadap Yesus justru tidak benar. Dalam misi keselamatan-Nya, Yesus menampakkan wajah kerahiman Allah secara nyata di hadapan dunia. 

Konsekuensi tidak melakukan hukum Taurat dalam hidup akan menduduki tempat paling rendah dalam Surga.

Nabi Elia berhadapan dengan nabi-nabi Baal penyembah berhala pada benda buatan tangan manusia sendiri. Orang-orang linlung iman butuh bukti dan kekuatan yang melumpuhkan.  

Elia dan para nabi baal bertarung membuktikan kebenaran iman untuk mengeliminir ketersesatan yang membinasakan. Pada Baal tidak ada api Tuhan untuk menghanguskan persembahan sesajian di atas mazbah. Seharian suntuk, 450 nabi berteriak Baal datang namun tampak sia-sia. Mereka akhirnya melukai diri dan tewas. 

Elia sang nabi Allah, memanggil nama Tuhan. Tuhan pun mendengar dan datanglah api Tuhan menerima persembahan Eli.

Bangsa Israel yang tegar tengkuk ini dan mendua hati dalam menyembah Allah dan buatan tangan manusia, akhirnya bertekuk lutut dan bertobat.

Nabi Elia si mulut api mengendalikan bangsa Israel hingga takluk dengan kuasa Ilahi Tuhan sendiri melalui keajaiban-keajaiban dashyat yang tak tertandingi. Para nabi Baal tewas dan umat kembali ke jalan benar dan mulai  mengandal Tuhan serta takut kepada-Nya.

Pemazmur menanggapi Sabda Tuhan melalui madah indahnya, "Bertambahlah kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan kurban curahan mereka, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka dengan bibirku." (Mzm. 16:4).

Allah berlimpah kasih setia kepada kita, walau berulang kali kita menyimpang dari perintah-Nya. Tuhan dalam dan melalui kuasa Ilahi-Nya selalu mengarahkan kita untuk setia mengikuti jalan-Nya yang menyelamatkan. 

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Rabu/Pekan Biasa X/A/II, 100626)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved