Wartawan Tribun Melawat ke Australia
Surat Kabar dan Majalah di Negeri Kanguru Masih Eksis
Di Australia, surat kabar masih eksis. Koran maupun majalah mingguan masih dibaca konsumen. Jumlah lembar koran mash banyak.
POS-KUPANG.COM - Jadwal kegiatan pada hari kedua delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program, berubah.
First Secretary, Scholarships and Alumni pada Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Lucinda Kaval, yang menjadi kepala rombongan, menginformasi,kan perjumpaan dengan sosok yang menyandang banyak jabatan.
Pertemuan sedianya selepas makan siang, menjadi kegiatan perdana, hari itu, Selasa (19/5/2026) pagi pukul 10.00 Waktu Perth, sama dengan Wita.
Delegasi editor senior dari Indonesia terdiri dari Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis, Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar yang juga Ketua Forum Pemred Retno Pinasti, Domu D Ambarita dari Tribun Network, Wakil Pemimpin Redaksi Detikcom Fajar Pratama, dan Wakil Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Kartika Sari.
Baca juga: Nila Tanzil Berbagi Tips Kuliah di Negeri Kanguru
Kami berjumpa bukan di pusat perkantoran gedung besar berlantai tinggi, melainkan kantor satu lantai.
Letaknya di pojokan, di pinggiran kota, di luar supermarket Stirling Central Shopping Centre, Shop 6A, 478 Wanneroo Rd, Westminster, Perth, Western Australia. Jauh dari gambaran mewah.
Bangunan lebih cocok kantor pemasaran. Dinding bangunan terdapat gambar Dr Anne Aly MP (MP adalah singkatan anggota parlemen).
Dialah Anne Aly yang mengemban tiga jabatan menteri. Nomenklatur jabatan yang diberi Perdana Menteri Australia Anthony Albanese kepada Anne Aly adalah Minister for International Development, Minister for Small Business, Minister for Multicultural Affairs (Menteri Pembangunan Internasional, Menteri Usaha Kecil, Menteri Urusan Kemajemukan). Anne migrant asal Mesir, dan muslimah pertama menteri sepanjang sejarah Australia.
"Sebagai seorang migran, dan juga sebagai seorang Muslimah, kita cukup dewasa sebagai sebuah negara untuk mengembangkan kemitraan semacam ini dengan negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia. Itu sangat berarti bagi saya pribadi. Sebagai Anggota Parlemen dan sebagai menteri, itu sangat berarti bagi saya dalam hal hubungan antarmasyarakat," kata Anne.
Anne mengaku pernah mengunjungi Jakarta dan Surabaya, dan menemukan banyak proyek hasil kerja sama Australia dan Indonesia. Terutama seputar manajemen bencana dan penyandang disabilitas.
Terkait jabatan sebagai Menteri UMKM, Anne mengatakan, "Saya pikir kita dapat melanjutkan pekerjaan semacam usaha mikro untuk perempuan. Jadi ketika kita melihat di wilayah kita, prioritas yang kami lakukan adalah seputar kesetaraan perempuan, disabilitas, dan kesehatan. Ada berbagai hal yang sedang kami lakukan, dan yang dapat terus kami kembangkan bersama Indonesia. Dan saya menantikannya."
Rumput Laut Pengganti Plastik
Sebagai pengganti jadwal usai makan siang, delegasi berkunjung ke kawasan pantai, di pinggir laut West Coast Drive, Watermas Bay. Matahari terik, namun cuaca sejuk, sekitar 14 derajat Celsius. Kami jogging usai makan siang, sebelum pertemuan formal. Lalu, diskusi dengan manajemen perusahaan start-up yang beroperasi sejak 2021, Uluu.
Disambut Michelle Wheeler, Kepala Komunikasi Uluu, dan terhubung virtual melalui layar dalam jaringan (online) dengan CEO Uluu Indonesia Dian Kurniawati, yang tengah berada di Indonesia. Perusahaan ini memang menggunakan brand yang sangat singkat, Uluu.
Michelle presentasi bagaimana sebaran sampah plastik telah mencemari daratan, sungai dan lautan. Sampah yang susah terurai. Kemudian dia menjelaskan, Uluu telah menemukan teknologi baru mengolah rumput laut pengganti plastik.
"Kualitasnya lebih bagus, dan harganya lebih murah," kata Michelle, yang punya pengalaman 15 tahun sebagai wartawan sains dan teknologi.
Delegasi kemudian dibawa berkeliling kantor, melihat proses produksi rumput laut, yang diimpor dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.
Michelle memperlihatkan mata rantai proses rumput laut, termasuk menyaksikan rumput laut kering warna kuning keemasan dalam bungkusan bal plastik.
Hasil akhir produksinya, butiran-butiran kancing baju, frame atau bingkai kacamata 'yang bentuknya mirip dengan kacamata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Stella Christie. Michelle menekuk frame kacamata yang sangat elastis. Juga tampak lembaran kain, dan semacam bagian dari dashboard mobil.
Baca juga: Mahasiswa di Australia Cari Pacar yang Kutu Buku
Dian Kurniawati menjelaskan, rumput laut ditanam petani/petambak yang biasa pelihara ikan bandeng, atau ikan bawal atau udang. Sembari bertambak, menanam rumput laut.
"Masa panen rata-rata 45 hari. Selain mendapat hasil panen dari ikan atau udang, juga dapat panen rumput laut. Hasil sekali panen, kira-kira Rp 7 juta sampai Rp 8 juta," kata Dian.
Uluu membeli rumput laut dalam standar kualitas tinggi dalam harga yang bagus. Menurutnya, Uluu menampung rata-rata 10 ton rumput lauat dari Indonesia.
Perdagangan Indonesia-Ausralia
Terkait bilateral di bidang perdagangan, delegasi berbincang dengan Indonesianis Profesor Edward Buckingham.
Ia guru besar manajemen Monash Business School, Melbourne, sekaligus Program Director untuk Master in Business Innovation (MBI) di Monash University Indonesia di BSD, Tangerang.
Edward menjabat Chair Victoria Chapter Australia Indonesia Business Counsil (AIBC). Ia juga pengusaha.
Menurutnya, hubungan kedua negara saat ini berjalan sangat baik. Relasi bagus ini membuat perdagangan terjalin, baik oleh antarpemerintah, government to government, maupun swasta.
Contoh, Presiden Prabowo menyetujui ekspor pupuk urea ke Australia. Sebaliknya, Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengirim LPG ke Indonesia.
Pendapat senada disampaikan Professor L. Gordon Flake, pakar hubungan internasional, kebijakan luar negeri, dan geopolitik terkemuka di kawasan Indo-Pasifik. Gordon, warga Amerika, telah pindah ke Australia sejak 2014. Ia Chief Executive Officer (CEO) Perth USAsia Centre yang berbasis di The University of Western Australia (UWA), Perth.
Gordon, mengatakan hubungan Indonesia dan Autralia sedang baik-baiknya. Ia mencontohkan di bidang perdagangan, terjadi kerja sama pemerintah ke pemerintah (government to government), ketika situasi perang di Timur Tengah sedang berkecamuk, dalam hal ini, Indonesia terdampak untuk memperoleh bahan bakar minyak dan gas bumi.
"Hubungan diplomasi Australia dengan Indonesia saat ini big-deal. Sedang baik-baiknya," ujar Prof Gordon dalam perbincangan di kantor Perth USAsia Centre, sebuah lembaga pemikir (think tank) non-partisan yang bertempat di kampus The University of Western Australia.
Kebebasan Pers
Hari terakhir kegiatan degelasi, mengikuti acara dialog editor senior dari dua negara. Para peserta sharing megenai situasi dan kondisi industri pers di dua negara.
Disrupsi media atas kehadiran teknologi yang semakin canggih, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) yang menjadi tantangan industri/bisnis pers.
Di Australia, surat kabar masih eksis. Koran maupun majalah mingguan masih dibaca konsumen. Jumlah lembar koran masih 40 halaman. Pemasang iklan pun masih lumayan besar. Website online pun demikian.
Secara umum, sumber pendapatan perusahaan media berasal dari subscription atau pembaca berlangganan. Lebih dari 50 persen sumber pendapatan adalah atas kerelaan pembaca membeli koran maupun website.
Setiap berita eksklusif (indepht reporting) online, wajib berbayar barulah aksesnya dibuka kepada pembaca. Sumber pendapatan lainnya dari iklan swasta, seperti perbankan, elektronik, ponsel, dan otomotif. Sekitar 10 persen kontribusi iklan pemerintah.
Pun dibahas, adanya ancaman atau tekanan terhadap kebebasan pers yang datang dari bagian kepentingan suprasturktur politik, seperti pendengung (buzzer), elite partai politik yang sedang berkuasa, petinggi TNI/Polri, maupun perusahaan milik negara (BUMN) mitra media selaku pemasang iklan.
Peserta dialog bersepakat, demi keberlanjutan media, penguatan jurnalisme berkualitas harus dilakukan dengan memastikan liputan akurat dari lapangan untuk mengatasi agregasi AI. Bukan mengandalkan mengolah informasi yang telah beredar di media sosial. (domu d ambarita)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Diskusi-pers-Auatralia.jpg)