Rabu, 3 Juni 2026

Perang AS vs Iran

Serang Pangkalan Amerika Serikat, Iran: Setiap Serangan akan Dibalas!

Iran membalas serangan militer Amerika Serikat dengan menargetkan pangkalan udara AS.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
ISTIMEWA
Amerika Serikat umumkan perang berakhir, tapi jet tempur F/A-18 Super Hornet AS masih menyerang kapal tanker minyak Iran di Teluk Oman. 

POS-KUPANG.COM - Iran membalas serangan militer Amerika Serikat dengan menargetkan pangkalan udara AS.

Serangan dilakukan beberapa jam setelah operasi militer AS yang disebut menargetkan menara telekomunikasi di Pulau Sirik, Provinsi Hormozgan, Iran selatan.

Pada Senin (1/6/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingati, setiap serangan lanjutan akan dibalas dengan respons yang “berbeda dalam skala dan sifatnya”.

“Setiap serangan lebih lanjut akan memicu respons yang berbeda dalam skala dan sifatnya,” demikian pernyataan IRGC.

IRGC menambahkan bahwa tanggung jawab atas eskalasi berikutnya berada di pihak AS. 

AS sebut serangan dilakukan untuk membela diri Dilansir The Guardian, militer AS sebelumnya mengumumkan telah melancarkan serangan yang disebut sebagai “serangan bela diri” terhadap lokasi radar dan pusat kendali drone Iran di bagian selatan negara itu pada akhir pekan.

Komando Pusat Militer AS (Centcom) menyatakan, operasi tersebut merupakan respons atas penembakan jatuh pesawat nirawak MQ-1 milik AS yang disebut sedang beroperasi di wilayah udara internasional.

Baca juga: AS Kembali Serang Iran, Sasar Radar hingga Pangkalan Militer

“Pesawat tempur AS dengan cepat merespons dengan menghancurkan pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan dua drone serang sekali pakai yang menimbulkan ancaman nyata bagi kapal-kapal yang melintas di perairan kawasan,” kata Centcom melalui platform X.

Centcom menambahkan bahwa AS akan terus melindungi aset dan kepentingannya selama gencatan senjata masih berlangsung.

Tak lama setelah itu, IRGC mengumumkan telah menargetkan “pangkalan udara tempat serangan itu berasal”, meski tidak menjelaskan lokasi pangkalan yang dimaksud. 

Sebelumnya, militer Kuwait mengumumkan sistem pertahanan udaranya mencegat serangan rudal dan drone yang disebut sebagai serangan bermusuhan. 

Menurut kantor berita negara Kuwait, KUNA, sirene peringatan sempat berbunyi di berbagai wilayah negara tersebut. Namun otoritas Kuwait tidak menjelaskan dari mana serangan itu berasal.

The Guardian mencatat bahwa sistem pertahanan udara Kuwait aktif mencegat rudal dan drone pada Senin, sementara negara itu menjadi lokasi salah satu pangkalan utama militer Amerika Serikat di kawasan.

Negosiasi AS-Iran masih buntu

Pertukaran serangan terbaru terjadi ketika negosiasi antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu.

AFP melaporkan bahwa pembicaraan selama beberapa pekan belum menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang maupun membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pasokan minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, prioritas utama Washington adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

“Jaminan yang harus saya miliki adalah tidak akan ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik,” kata Trump dalam wawancara dengan Lara Trump. 

Trump juga menegaskan melalui Truth Social bahwa rancangan kesepakatan yang diajukan “menyatakan dengan sangat jelas bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir”.

Baca juga: AS Tegaskan Mampu Perang Lagi Lawan Iran

Namun Teheran menyatakan bahwa masih banyak persoalan yang belum terselesaikan. “Kami tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun sampai kami yakin hak-hak rakyat Iran telah dipenuhi,” kata negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga meminta publik tidak berspekulasi mengenai hasil pembicaraan. “Sampai ada kesimpulan yang jelas tercapai, semua yang dikatakan saat ini hanyalah spekulasi,” ujarnya.

Konflik Lebanon ikut menghambat perdamaian Selain isu nuklir dan sanksi ekonomi, konflik di Lebanon turut menjadi hambatan besar dalam upaya mencapai perdamaian yang lebih luas.

Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup penghentian pertempuran di Lebanon.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (31/5/2026) menyatakan telah memerintahkan pasukan Israel bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi melawan kelompok Hezbollah yang didukung Iran. (*)

Sumber: Kompas.com

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved