Senin, 18 Mei 2026

Nasional Terkini

Kisah Mahasiswa Timor Leste Telantar di Jawa Timur

Nicodemos mengakui bahwa ia tak sepenuhnya memahami mengapa beasiswanya dihentikan.

Tayang:
Editor: Ryan Nong
KOMPAS.COM
Foto bersama Konsulat Jenderal Timor Leste di kantor Dinsos Jatim saat proses pemulangan Nicodemos Da Costa. 

POS-KUPANG.COM, SURABAYA - Ruang pelayanan Kantor Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur 29 April 2026 tampak berbeda dari biasanya. Seorang pemuda berusia 27 tahun duduk menunggu, wajahnya tampak lelah namun sedikit lega. 

Namanya Nicodemos Da Costa. Ia bukan warga Jawa Timur, bukan pula warga Indonesia. Ia datang dari Comoro, sebuah kawasan di Timor Leste, negara kecil yang berbagi pulau dengan Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah hampir sebulan hidup tanpa kepastian, ia akhirnya akan pulang. 

Kedatangan pejabat dari Konsulat Jenderal Timor Leste ke kantor Dinsos Jatim bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah momen serah terima sebagai penanda bahwa sebuah kisah pahit seorang perantau muda akhirnya menemukan titik akhirnya.

Kepedulian Warga

Kisah ini sebenarnya dimulai bukan dari kantor pemerintah, melainkan dari kepedulian warga. Pada 26 April 2026, tim rescue Kota Batu menerima laporan dari perangkat Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo.

Seorang pria asing ditemukan dalam kondisi telantar di kawasan tersebut. Tak jelas asal-usulnya, tak jelas ke mana hendak pergi. Laporan itu segera ditindaklanjuti. Petugas turun ke lapangan, melakukan asesmen menyeluruh.

Mencari tahu siapa dia, bagaimana kondisi kesehatannya, apa yang ia butuhkan. Dari situ, perlahan-lahan terurai sebuah cerita yang menyentuh tentang mimpi yang kandas di negeri orang.

Menuntut Ilmu di Indonesia

Nicodemos sebenarnya bukanlah orang yang datang tanpa tujuan. Sekitar enam bulan sebelumnya, ia tiba di Indonesia bersama empat rekan sesama warga Timor Leste dengan satu tekad, yaitu menuntut ilmu.

Mereka masuk melalui jalur beasiswa ke Universitas Pekalongan, Jawa Tengah, dan Nicodemos mengambil program D4 Teknik Konstruksi, bidang keilmuan yang ia harapkan bisa mengangkat masa depannya.

Sayangnya, beasiswa yang ia terima hanya untuk enam bulan masa studi, dari September 2025 hingga Maret 2026. Ketika masa itu habis, habis pula kemampuannya untuk membayar biaya kuliah. Status mahasiswanya berakhir. Ia pun harus meninggalkan kampus.

Kepada petugas yang menemuinya pada Selasa pagi, 28 April 2026, Nicodemos mengakui bahwa ia tak sepenuhnya memahami mengapa beasiswanya dihentikan.

Penjelasan yang ia berikan pun tak cukup perinci untuk menggambarkan duduk persoalan sesungguhnya. Yang pasti, ketika pintu kampus tertutup, ia tak tahu harus ke mana.

Dengan kantong yang nyaris kosong, Nicodemos diantar seorang kawan menuju Malang menggunakan kereta api, satu-satunya perjalanan yang masih bisa dijangkau oleh sisa uangnya.

Hidup menggelandang di Malang

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved