Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Selasa 12 Mei 2026, "Jika Aku Pergi"
Padahal Pekan Paskah menegaskan bahwa kepergian Yesus justru membuka jalan bagi karya Allah yang baru: Roh Kudus bekerja dalam hati murid-murid
Renungan Harian Katolik
Oleh: Bruder Pio Hayon SVD
Hari Selasa biasa Pekan Paskah keenam– 12 Mei 2026
Bacaan I: Kis. 16:22-34
Injil: Yoh. 16:5-11
Tema: “Jika Aku pergi”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Bacaan-bacaan pada hari Selasa biasa Pekan Paskah keenam ini berkisah tentang ketidaknyamanan. Kadang kata-kata Yesus terdengar “tidak nyaman”: Ia berkata, “Jika Aku pergi…” seolah-olah Ia meninggalkan.
Padahal Pekan Paskah menegaskan bahwa kepergian Yesus justru membuka jalan bagi karya Allah yang baru: Roh Kudus bekerja dalam hati murid-murid. Hari ini kita diajak untuk tidak terpaku pada rasa kehilangan, melainkan memahami bahwa Tuhan tetap berkarya, bahkan ketika kita mengalami penderitaan dan ketidakpastian.
Saudara-saudari terkasih.
Pada bacaan ini (Kis 16:22-34) berkisah tentang Paulus dan Silas yang dipukul dan dipenjarakan karena mewartakan Injil. Tetapi mereka tetap berdoa dan menyanyikan pujian. Ketika terjadi gempa bumi dan pintu penjara terbuka.
Kisah ini menegaskan dua hal: Tuhan sanggup menyelamatkan situasi yang “buntu” dan Namun yang paling mengagumkan: sang penjaga penjara justru bertanya bagaimana ia bisa diselamatkan lalu seluruh keluarganya menerima iman.
Penderitaan tidak menjadi akhir; justru menjadi ruang bagi karya keselamatan. Dalam Injil (Yoh 16:5-11), kepergian Yesus memunculkan karya Roh yang menegur dunia. Dan Yesus memberi janji: kepergian-Nya berkaitan dengan kedatangan Penolong.
Roh bekerja bukan untuk membenarkan kepalsuan, melainkan untuk menyadarkan dunia tentang tiga kebenaran: “Jika Aku pergi” berarti: karya Allah tidak berhenti, melainkan berpindah ke dalam hati. Kepergian Yesus tidak mengosongkan murid, tetapi memindahkan kepemimpinan rohani dari kedekatan fisik kepada kedekatan batin melalui Roh Kudus.
Poin refleksi kita adalah “Yesus pergi”: bagian mana dalam hidup kita yang terasa seperti “Yesus pergi” padahal kita masih percaya? Misalnya: doa belum dijawab, keadaan belum berubah, harapan terasa tertahan.
Permenungan kita: apakah kita cenderung berkecil hati, atau kita masih mencari arah Tuhan di balik ketenangan/ketidakpastian? “Respon”: saat Roh Kudus menegur tentang dosa, keadilan, dan penghakiman bagaimana respons Anda?
Permenungan kita: apakah kita cepat membenarkan diri, menutup hati, atau justru mau jujur bertobat? Roh itu bukan “menghukum”, tetapi menuntun pada kebenaran yang menyelamatkan.
“Konsistensi”: seperti Paulus dan Silas, bagaimana kita bisa tetap berpengharapan saat menghadapi tekanan? Permenungan kita: apa bentuk iman yang bisa kita praktikkan saat situasi sulit: doa yang konsisten, mengampuni, tidak menyebarkan kebencian, atau tetap melakukan kebaikan?
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, Yesus berkata “Jika Aku pergi…” agar murid tidak merasa ditinggalkan, Yesus menjanjikan Penolong.
| Renungan Harian Katolik Senin 11 Mei 2026, "Kamu Juga Harus Bersaksi" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Senin 11 Mei 2026, "Bersaksi tentang Aku" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Senin 11 Mei 2026, "Murid Tuhan Tak Kendor Memberi Kesaksian" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Minggu 10 Mei 2026, "Betapa Indahnya Kasih Tuhan" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Minggu 10 Mei 2026 “Seorang Penolong” |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/PIO-HAYON_07.jpg)