Kerja Sama Indonesia dan Timor Leste
Ruang Relasi Baru Generasi Muda Indonesia dan Timor Leste
Menurut Fadjar, relasi generasi muda Indonesia–Timor Leste kini berkembang melalui jejaring digital,
POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Kepala Pusat Riset Kewilayahan, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ), Fadjar Ibnu Thufail menyebut media sosial dinilai membuka ruang baru bagi generasi muda Indonesia dan Timor Leste untuk membangun relasi, membicarakan sejarah bersama, hingga membentuk solidaritas lintas negara melalui percakapan digital yang lebih cair dan terbuka.
Dia menjelaskan, dinamika tersebut dapat dipahami melalui pendekatan rhizomatic activism atau gerakan “rimpang”, yakni pola relasi sosial yang tersebar, horizontal, dan tidak bertumpu pada satu pusat kepemimpinan.
“Kalau model pohon itu hierarkis dan terpusat, sedangkan rhizomatic itu cair, terkoneksi ke banyak titik, dan bergerak melalui jaringan,” kata Fadjar dalam workshop bertajuk Post-Memory di Ruang Ketiga: Pertemuan Narasi Sejarah Gen Z Indonesia dan Timor Leste di Gedung Widya Graha BRIN, Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Presiden Timor Leste Hadiri KTT Samudra Melanesia di Papua Nugini
Dikutip dari laman BRIN, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani pada Agustus 2025 antara Pusat Riset Kewilayahan BRIN dan Centro Nacional Chega! dalam pengembangan kolaborasi riset strategis.
Menurut Fadjar, relasi generasi muda Indonesia–Timor Leste kini berkembang melalui jejaring digital, komunitas kreatif, seni, festival, hingga percakapan sehari-hari yang saling terhubung.
“Yang penting bukan siapa pemimpinnya, tetapi bagaimana koneksi dan relasi itu terbentuk,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan tersebut penting untuk memahami bagaimana solidaritas, memori kolektif, dan identitas generasi muda terbentuk secara transnasional di ruang digital. Namun, ia mengingatkan bahwa ruang digital tidak sepenuhnya netral karena dipengaruhi kepentingan korporasi dan algoritma platform.
“Platform digital itu tidak netral karena dipengaruhi kepentingan korporasi dan algoritma,” katanya.
Fadjar menambahkan, penelitian mengenai relasi generasi muda Indonesia–Timor-Leste perlu memiliki fokus yang jelas, baik untuk memetakan dinamika hubungan sosial maupun membahas aspek keadilan dan akuntabilitas.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Riset Kewilayahan BRIN, Ahmad Nuril Huda menjelaskan bahwa media sosial memungkinkan munculnya narasi baru mengenai hubungan Indonesia–Timor-Leste yang tidak lagi bergantung pada struktur formal organisasi maupun negara.
“Mayoritas konten tentang Indonesia dan Timor Leste diproduksi oleh orang Indonesia dan dari sudut pandang Indonesia. Itu terlihat dari pengunggah, bahasa, hingga cara cerita dibangun,” ujarnya dalam presentasi mengenai pemetaan narasi media sosial anak muda Indonesia–Timor Leste.
Menurut Huda, penelitian awal dilakukan melalui observasi manual terhadap konten YouTube dan Instagram dengan simulasi berbasis sekitar 40–50 video populer di YouTube. Sebagian besar konten berupa berita, dokumenter, pendidikan sejarah, dan analisis personal.
Berdasarkan simulasi tersebut, sekitar 60 persen konten berasal dari Indonesia. Huda juga menemukan bahwa algoritma dan pengaturan lokasi memengaruhi hasil pencarian konten terkait Timor Leste di media sosial.
“Ketika lokasi pencarian diubah, narasi yang muncul juga berbeda. Ini menunjukkan bagaimana algoritma ikut membentuk apa yang kita lihat,” katanya.
Dalam pengamatannya, Huda menyoroti konten musik sebagai salah satu ruang yang memperlihatkan munculnya solidaritas baru antara masyarakat Indonesia dan Timor Leste.
“Di konten musik hampir tidak ada pembicaraan tentang tragedi masa lalu. Yang muncul justru solidaritas dan pembicaraan tentang apa yang bisa dibangun bersama ke depan,” ujarnya.
Menurut dia, media sosial membuka peluang bagi generasi muda untuk membangun diskursus yang lebih positif, terutama melalui konten yang lebih cair seperti musik, olahraga, dan budaya populer. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Suasana-workshop-bertajuk-Post-Memory-di-Ruang-Ketiga-di-Gedung-Widya-Graha-BRIN.jpg)