Rabu, 6 Mei 2026

Internasional Terkini

Presiden Iran Sebut Trump Mengada-ada Soal Klaim Pemimpin Terpecah

Trump juga sempat mengeklaim kesulitannya bernegosiasi dengan sejumlah kubu di Iran yang saling bertentangan.

Tayang:
Editor: Ryan Nong
DOK
Presiden Iran Masoud Pezeshkian 

POS-KUPANG.COM, TEHERAN - Klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut para pemimpin Iran terpecah hingga membentuk tiga kubu kini ditepis Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Pezeshkian mengatakan bahwa pernyataan Trump tersebut mengada-ada. Ia menegaskan bahwa Iran tetap solid dalam menghadapi AS.

"Tidak ada garis keras dan moderat di Iran. Kami adalah rakyat Iran dan para revolusioner. Dengan persatuan sekuat baja bangsa dan negara ini, serta kepatuhan penuh terhadap Pemimpin Tertinggi (Mojtaba Khamanei), kami akan membuat agresor kriminal menyesali aksi mereka," tulis Pezeshkian dalam akun X.

"Satu Tuhan, satu bangsa, satu pemimpin, satu tujuan: kemenangan untuk Iran, lebih berharga daripada hidup," katanya.

Ghalibaf kemudian mengunggah ulang unggahan Pezehskian tersebut di akun X, dikutip dari Middle East Monitor.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa Iran saat ini benar-benar kacau karena perpecahan di antara para pemimpinnya. Ia menyebut bahwa Iran kini mengalami konflik internal dengan kubu garis keras dan moderat yang saling berseberangan terkait sikap mereka menghadapi AS.

"Iran menghadapi masa sangat sulit untuk mengetahui siapa pemimpin sebenarnya. Mereka tidak tahu! Perpecahan terhadu antara 'Garis k=Keras' yang sudah kalah telak dalam pertempuran dan 'Moderat' yang tidak begitu moderat (tapi mendapatkan respek). Ini gila!" tulis Trump dalam unggahan di paltform buatannya Truth Social.

Trump juga sempat mengeklaim kesulitannya bernegosiasi dengan sejumlah kubu di Iran yang saling bertentangan.

"Ada dua hingga tiga kelompok, mungkin empat, dan kepemimpinannya sangat tidak terkoordinasi," ujar Trump

Dia lalu berkata, "mereka semua ingin membuat kesepakatan, tapi mereka semua kacau."

Sempat mencuat rumor, perpecahan paling tajam antara Pezeshkian, Bagher Ghalibaf, dan komandan tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Ahmad Vahidi.

Pezeshkian diklaim mengancam akan memecat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi karena dianggap tidak mematuhinya dan hanya mengikuti perintah Vahidi, demikian laporan dari media Iran International.

Berdasarkan pengakuan sejumlah sumber lingkungan pemerintahan kepada Iran Internatinal, Araghchi bertindak tanpa menginformasikan perkembangan terbaru kepada Pezeshkian dalam dua pekan belakangan. Sebaliknya, ia sepenuhnya berkoordinasi hanya dengan Vahidi.

Klaim tentang perpecahan di antara para pejabat Iran sebelumnya telah mencuat. Pada 28 Maret, laporan menunjukkan perbedaan pendapat yang serius antara Pezeshkian dan Vahidi, komandan Garda Revolusi yang sekarang dikatakan sebagai tokoh paling berpengaruh di pasukan tersebut. (*)

 

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved