Rabu, 15 April 2026

Nasional Terkini 

Rupiah Berpotensi Melemah hingga Rp 20.000 Per Dollar AS

nilai tukar rupiah dinilai menyimpan kerentanan besar di tengah tekanan global yang belum mereda. 

Editor: Alfons Nedabang
HO-INSTAGRAM@palembangterkini.official
Nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat nyaris tembus Rp 17.000 

Dari berbagai episode tersebut, terlihat pola yang konsisten, yakni stabilitas rupiah lebih ditentukan oleh keberlanjutan arus modal asing dibandingkan besarnya cadangan devisa

Hal ini juga tercermin dalam tren jangka panjang. Cadangan devisa meningkat dari sekitar 100 miliar dollar AS atau Rp 1.600 triliun pada 2014 menjadi sekitar 150 miliar dollar AS atau Rp 2.400 triliun pada awal 2026. 

Namun, rupiah justru melemah dari kisaran Rp 12.000 menjadi Rp 17.000 per dollar AS. Memasuki 2026, tekanan kembali muncul.

Dalam dua bulan pertama, cadangan devisa turun sekitar 4,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 73,6 triliun, meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri sekitar 7,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 113,6 triliun. 

Dalam kondisi tersebut, ruang intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar menjadi semakin terbatas, terutama jika arus keluar modal berlanjut. 

Anthony memperkirakan, pelemahan rupiah sebesar 15 persen hingga 20 persen bukanlah skenario ekstrem. Dengan posisi saat ini di sekitar Rp 17.000 per dollar AS, depresiasi 20 persen dapat mendorong rupiah ke kisaran Rp 20.400. 

Dalam skenario geopolitik yang lebih buruk, pelemahan bahkan bisa terjadi lebih cepat, dalam rentang tiga hingga enam bulan. 

Ia mengingatkan, pengalaman Krisis Moneter Asia 1997 menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam menghadapi tekanan nilai tukar. 

“Sejarah menunjukkan kejatuhan rupiah sebesar 25-30 persen pada triwulan ketiga 1997 membuat pemerintah meminta bantuan likuiditas kepada IMF. Ketika respons datang terlambat, krisis valuta sudah membesar. Rupiah tergelincir seperti bola salju yang tidak terkendali,” lanjutnya. 

Namun di tengah kekhawatiran pelemahan rupiah, pemerintah menyampaikan pandangan berbeda. Otoritas fiskal menilai tekanan terhadap nilai tukar masih dalam batas wajar dan tidak mencerminkan kondisi krisis. 

Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pelemahan rupiah tidak seburuk yang dipersepsikan sebagian pihak. 

Ia menilai, gejolak global memang memengaruhi pergerakan mata uang, tetapi dampaknya terhadap rupiah relatif terbatas. “Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat betul, Pak, itu sejak perang, rupiah itu hanya terdepresiasi sebesar 0,3 persen,” ujar Purbaya dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Menurut dia, angka tersebut mencerminkan daya tahan ekonomi Indonesia yang masih cukup kuat. Indikator risiko seperti premi Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun juga stabil, begitu pula selisih imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dengan obligasi Amerika Serikat yang hanya naik sekitar 3 basis poin ke level 243 basis poin. 

“Artinya asing masih percaya ke kita, yang domestik aja yang nggak percaya, Pak,” tutur Purbaya. 

Rupiah sendiri sempat berada di level Rp 16.958 per dollar AS setelah melemah 0,38 persen. Meski demikian, pemerintah menilai stabilitas tetap terjaga di tengah tekanan global. (*)

Sumber: Kompas.com

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved