Selasa, 28 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 21 Maret 2026, "Ia ini Mesias"

Tema “Ia ini Mesias” mengajak kita mengenali siapa Yesus bagi kita masing‑masing — apakah kita menanggapinya dengan iman

Editor: Eflin Rote
dok-pribadi Bruder Pio Hayon SVD
Bruder Pio Hayon SVD menulis Renungan Harian Katolik 

Renungan Harian Katolik
Oleh: Bruder Pio Hayon SVD
Sabtu Pekan Prapaskah Keempat – 21 Maret 2026
Bacaan I:  Yer. 11: 18-20
Injil: Yoh. 7: 40-53

Tema: “Ia ini Mesias”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Dalam bacaan hari ini kita dihadapkan pada dua reaksi yang berbeda terhadap utusan Allah: penganiayaan terhadap nabi yang setia (Yeremia) dan pengakuan sebagian orang bahwa Yesus adalah Mesias, sementara para pemimpin tetap ragu dan menentang.

Tema “Ia ini Mesias” mengajak kita mengenali siapa Yesus bagi kita masing‑masing — apakah kita menanggapinya dengan iman, kebingungan, atau penolakan — dan mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan itu.

Saudara-saudari terkasih. 

Dalam perikop ini (Yer. 11:18–20) menggambarkan bagaimana rencana jahat dipusatkan pada nabi yang setia. Yeremia menyadari bahwa ia menjadi sasaran karena ia setia mengabarkan firman Allah.

Meskipun dikecam dan diancam, ia percaya bahwa keadilan Allah akan membela yang benar. Dalam Injil (Yoh. 7:40–53) memperlihatkan perpecahan di antara orang banyak. Sebagian mengatakan, “Ia ini Mesias,” karena perkataan dan tanda‑tanda yang mereka saksikan.

Namun banyak pemimpin agama menolak, bahkan ingin menangkap Yesus, takut pada konsekuensi sosial dan kehilangan otoritas.

Perbedaan tanggapan ini menegaskan bahwa pengakuan terhadap Yesus membawa konsekuensi: iman yang menguatkan atau penolakan yang mempertahankan status quo. 

Untuk itu poin refleksi kita adalah tentang “Kenali sumber pengenalanmu akan Kristus”: Apakah pengakuanmu bahwa “Ia ini Mesias” lahir dari pengalaman perjumpaan pribadi dengan Kristus — doa, Firman, tanda kasih — atau semata karena tekanan kelompok atau kebiasaan?

Renungkan bagaimana kamu sampai pada imanmu dan apakah kamu mau memperdalamnya agar pengakuanmu menjadi hidup dan otentik. “Keberanian untuk berdiri bersama kebenaran”: Seperti Yeremia yang menjadi sasaran karena kesetiaannya, pengakuan akan Mesias kadang memerlukan keberanian.

Apakah kita siap menanggung cibiran, kehilangan, atau konsekuensi lain demi mengikuti kebenaran?

Pertimbangkan apakah perilaku dan kata‑kata kita mencerminkan keberanian iman itu dalam konteks keluarga, pekerjaan, dan komunitas.

“Waspada terhadap penolakan”: Penolakan terhadap Yesus di perikop Yohanes seringkali muncul dari ketakutan kehilangan kekuasaan atau status.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved