Rabu, 6 Mei 2026

Mutiara Ramadhan

Mutiara Ramadhan - Kekuatan Doa Ramadan

Orang yang malas berdoa menunjukkan keangkuhannya sebagai hamba, ia tidak membutuhkan bantuan Tuhan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM
Menteri Agama, KH. Nasaruddin Umar. 

Mutiara Ramadhan - Kekuatan Doa Ramadan
Oleh: Menteri Agama, Nasaruddin Umar

POS-KUPANG.COM - Jarak antara Tuhan dan hamba-Nya di bulan Ramadan lebih dekat, sehingga tidak heran jika doa di bulan Ramadan lebih maqbul daripada di luarnya. 

Doa itu sendiri merupakan puncak ibadah, seperti dikatakan Nabi dalam hadisnya: Al-Du’a’ mukhul ‘ibadah (Doa adalah jantung ibadah).

Harapan kita kepada doa, selain untuk memperoleh harapan dari Allah SWT juga sekaligus sebagia ibadah. 

Doa adalah bukti dan sekaligus pernyataan kelemahan diri kita kepada-Nya. Orang yang malas berdoa menunjukkan keangkuhannya sebagai hamba, seolah olah ia tidak membutuhkan bantuan Tuhan.

Orang yang arif selalu berdoa, meskipun tujuan utamanya bukan  apa yang didoakan tetapi sebagai wujud ketergantungan dirinya kepada Tuhannya.

Seorang arif berdoa lebih banyak menyatakan munajat ketimbang permohonannya. Munajat ialah pernyataan kelemahan diri di hadapan Tuhannya Mang Maha Agung dan Maha Sempurna.

Ia selalu merasa malu berdoa untuk hal-hal yang bersifat kebutuhan biologis. Ia juga selalu khawatir jangan sampai doanya didekte oleh hawa nafsu.

Unsur terpenting di dalam doanya ialah permohonan agar Tuhan mau menerima kehaditan dirinya dan mau “merangkul” dirinya. 

Itulah sebabnya, panjang doa para arifin sesungguhnya bukan doa tetapi munajat, yaitu pengagungan Diri Tuhan dan penhinaan dirinya sebagai hamba.

Ia sangat berhati-hati jika doanya makbul, karena boleh jadi sebuah doa diterima tetapi berarti penolakan dirinya terhadap-Nya.

Sebaliknya ia lega jika doanya ditolak karena boleh jadi penolakan doa berarti penerimaan dirinya kepada Tuhannya. 

Maksudnya, mungkin Tuhan mengabulkan doa kita tetapi kita dibiarkan hanyut sendiri bersama hasil doa yangdiberikan Tuhan kepada kita. Akhirnya kita berjarak dan semakin jauh dengan Tuhan.

Persis tukang minta-minta di depan pintu yang tidak akan pergi sebelum diberi dan akhirnya terpaksa diberi dengan harapan ia cepat pergi. Ini jenis pemberian tanpa diiringi dengan cinta.

Boleh jadi penolakan doa berarti penerimaan diri kita kepada-Nya. Artinya Tuhan Maha Tahu apa yang didoakan itu bermanfaat atau tidak bagi kita. 

Baca juga: Mutiara Ramadhan - Kekuatan Basmalah

Jika Allah Sang maha Pencinta dan Maha tahu menganganggap jenis permohonan kita justru akan membahayakan kita, terutama menjauhkan kita dengan-Nya, maka Tuhan mengenyampingkan materi doa kita. 

Persis sebagai seorang anak kecil yang meminta mainan berupa gelas kaca atau pisau kepada ibunya. Penolakan permintaan itu bukan berarti tidak cinta tetapi sebaliknya karena sang ibu mencintai anaknya. 

Kita tidak boleh salah faham terhadap Tuhan dengan penolakan doa kita. Kita juga tidak boleh berpuas diri dengan pengabulan doa kita.

Boleh jadi rezki Allah turunkan ke bumi bersama kita tetapi kita tidak lagi pernah naik ke atas bersama-Nya. 

Sebaliknya penolakan doa bisa berarti Tuhan ingin mengangkat diri kita ke hadirat-Nya dan sekaligus memperlihatkan betapa banyak yang jauh lebih indah dan lebih baik di sana yang tidak pernah kita minta. 

Sehingga, sebanyak dan sebesar apapun  permohonan kita jauh lebih indah dengan kenyataan 
yang ada di sana.

Orang yang sudah naik ke atas tidak perlu lagi rezki dan anugrah lainnya. Seolah-olah ia melihat alangkah kecilnya pemohonan manusia disbanding dengan sesuatu yang diperoleh di sana. 

Bahkan ia berkata: “Ambil saja syurga itu. Aku tidak memerlukan syurga itu karena aku sudah bersama dengan Sang Pencipta syirga”. 

Seolah-olah syurga dan neraka menjadi urusan orang awam. Sedangkan orang-orang yang khawas sudah melewati kebutuhan tahapan itu. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved