Timor Leste
Mengenal Masa Prasejarah dan Prakolonial di Timor Leste Negara Lorosae
Migrasi Austronesia di pulau Timor dikaitkan dengan perkembangan agrikultur di pulau tersebut
POS-KUPANG.COM- Bukti tertua mengenai keberadaan manusia di Timor Leste dapat ditemukan di Gua Jerimalai di ujung Pulau Timor, yang diketahui berusia 42.000 tahun. Diketahui pula bahwa manusia pertama mencapai daerah ini pada waktu migrasi Ras Australoid, yang pada saat ini mewariskan rumpun bahasa Papua di Timor Leste.
Ada dugaan bahwa penduduk berbahasa Austroasiatik juga mencapai pulau Timor, meski tidak mewariskan bahasa tersebut saat ini. Kedatangan bangsa Austronesia ke pulau Timor membawa bahasa mereka dan bercampur dengan kebudayaan Australoid yang telah tinggal.
Menurut mitos asal muasal orang Timor, nenek moyang mereka berlayar mengitari ujung timur pulau sebelum mendarat di bagian selatannya. Nenek moyang ini sering kali diidentifikasi sebagai penduduk yang berasal dari Semenanjung Malaya atau pegunungan tinggi Minangkabau.
Migrasi Austronesia di pulau Timor dikaitkan dengan perkembangan agrikultur di pulau tersebut.
Meski informasi yang berkaitan dengan sistem politik di pulau Timor sedikit, namun diketahui bahwa penduduk pulau ini telah mengembangkan serangkaian pemerintahan yang saling terkait dan diatur oleh hukum adat.
Masyarakat-masyarakat kecil, yang berpusat di tempat sakral, merupakan bagian dari suco (atau kepangeranan), yang juga merupakan bagian dari pemerintahan kerajaan yang lebih besar, yang disebut sebagai liurai.
Kekuasaan dalam kerajaan-kerajaan ini dipegang oleh dua orang, yaitu liurai sebagai pemegang kekuasaan duniawi dan rai nain yang memegang kekuasaan rohani. Terdapat beberapa kerajaan yang muncul di pulau ini dan sering kali mengalami pergeseran aliansi serta hubungan, tetapi beberapa di antaranya cukup stabil dan masih bertahan, bahkan sampai akhir kekuasaan Portugis.
Kira-kira sejak abad ke-13, pulau Timor dikenal sebagai penghasil cendana, yang dikenal sebagai bahan parfum dan kerajinan. Hal tersebut menjadikan Timor sebagai bagian dari jaringan perdagangan Asia Tenggara, Tiongkok, dan India pada abad ke-14, yang juga menyediakan madu dan lilin.
Pulau tersebut tercatat dalam catatan Kerajaan Majapahit sebagai sumber upeti. Cendana yang dihasilkan dari pulau ini menarik perhatian penjelajah Eropa untuk mengunjungi pulau Timor pada awal abad ke-16. Pada awalnya, kehadiran bangsa Eropa di daerah itu hanya untuk membuka pos dagang, dengan berdirinya pemukiman Portugis di pulau terdekat, yaitu pulau Solor.
Kolonialisasi Portugis (1769–1975)
Kehadiran Portugis di pulau Timor pada awalnya terbatas pada perdagangan dengan pemukiman Portugis di pulau sekitarnya. Kehadiran mereka kemudian lebih terasa pada abad ke-17 ketika Portugis disingkirkan dari pulau-pulau lain oleh Belanda.
Setelah Belanda menguasasi pulau Solor pada tahun 1613, Portugis kemudian memindahkan pusat administrasinya ke pulau Flores, kemudian berpindah ke Kupang di pulau Timor bagian barat pada tahun 1646, sebelum akhirnya menyingkir ke Lifau, yang saat ini merupakan bagian dari eksklave Oecusse-Ambeno.
Kolonisasi pulau tersebut dimulai pada tahun 1769, ketika kota Dili didirikan, meski kontrol Portugis atas pulau Timor masih sangat terbatas. Perbatasan Timor Belanda dan Timor Portugis sendiri baru ditetapkan pada tahun 1914 dalam Mahkamah Arbitrase Antarabangsa, yang saat ini menjadi perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.
Bagi Portugis, Timor Timur hanya sebuah pos dagang yang tidak begitu diperhatikan. Investasi ke dalam infrastruktur dan pendidikan koloni tersebut masih sangat minim hingga abad ke-19. Meskipun Portugal telah memiliki kontrol atas bagian dalam pulau, pembangunan masih relatif minim. Adapun cendana masih menjadi tanaman ekspor yang dihasilkan dari koloni tersebut, bersamaan dengan kopi yang mulai ditanam setidaknya sejak pertengahan abad ke-19.
Pada abad ke-20, ekonomi dalam negeri mengalami keterpurukan sehingga mendorong Portugis untuk mengekstrasi kekayaan di wilayah koloninya. Hal ini menimbulkan berbagai gerakan perlawanan dari masyarakat pribumi di Timor Portugis. Koloni tersebut sering dianggap sebagai beban ekonomi, terutama pada masa Depresi Besar, dan hanya menerima sedikit manajemen dan dukungan dari Portugal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-bendera-Timor-Leste.jpg)