Senin, 27 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 14 Maret 2026, "Merendahkan Diri"

Kita mungkin rajin berdoa, rajin ke gereja, melakukan banyak hal baik. Tetapi di dalam hati, kadang muncul sikap membandingkan

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
PASTOR JOHN LEWAR, SVD Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz STM Nenuk Atambua Timor 

Renungan Harian Katolik Suara Pagi 
Bersama Pastor John Lewar, SVD 
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor –NTT Sabtu, 14 Maret 2026
Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4,18-19,20-21ab; Luk. 18:9-14
Warna Liturgi Ungu

Merendahkan Diri

Salah satu kecenderungan buruk kita sebagai ciptaan ialah sombong. Kita mudah sekali merasa lebih istimewa dari sesama manusia; memandang mereka lebih buruk, bahkan berdosa daripada hidup kita.

Kita mungkin rajin berdoa, rajin ke gereja, melakukan banyak hal baik. Tetapi di dalam hati, kadang muncul sikap membandingkan. Kita merasa lebih baik daripada orang lain.

Kita merasa lebih benar. Kita merasa lebih dekat dengan Tuhan. Kita seringkali lupa bahwa kita semua adalah ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat yang sama di hadapan-Nya. Kita setara di hadapan Tuhan.

Cara pandang seperti itu tidak timbul begitu saja dalam hidup dan merupakan puncak dari hidup dalam dosa. Ketika kita terbiasa dan nyaman hidup dalam dosa, mata hati menjadi tumpul.

Kita melihat diri bukan lagi sebagaimana adanya tetapi melihat secara keliru; kita menjadi angkuh di hadapan Tuhan. Kita tidak lagi menyadari kerapuhan dan dosa.

Sejatinya, semakin kita dekat dengan Tuhan, justru kita akan semakin rendah hati menyadari segala dosa. Yesus hari ini mengingatkan kita akan bahaya kesombongan seperti ini 
dalam hidup beriman.

Yesus tidak memberikan ruang bagi orang seperti ini. ia bersabda, Barangsiapa meninggikan diri ia akan direndahkan.

Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Luk.18:14). Kita suka meninggikan diri, tetapi Tuhan sejatinya tidak menghendaki.

Sebaliknya, Ia ingin supaya kita bersikap rendah hati. Semakin kita merendahkan diri, semakin Ia meninggikan kita di hadapan-Nya dan sesama.

Patut kita sadari bahwa sikap kesombongan ini tidak mengenal batas status, ruang dan tempat. Dalam injil Lukas (18:9-14 ) hari ini, sikap sombong terjadi dalam diri Kaum Farisi di dalam Bait Allah ketika sedang berdoa. 

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku (Luk.18:11-12). 

Doa yang kita tahu sebagai aktivitas yang suci di hadapan Tuhan, ternyata bisa menjadi ternoda. Inilah daya kuat dosa yang menjerumuskan umat beriman. Apa yang membuat doa ini menjadi tidak berkenan kepada Tuhan?

Apakah seorang pendoa tidak boleh mengungkapkan hal baik yang dia terima dalam hidupnya, disyukuri kepada Tuhan dalam doa?

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved