Sabtu, 16 Mei 2026

Perang Israel Iran

Iran Hantam Radar Amerika Serikat di Timur Tengah

Iran menghantam sistem radar yang menjadi “mata” pertahanan udara Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. 

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM
TELEGRAM FarsNA via NEW YORK POST Bunker bawah tanah yang dipenuhi deretan drone Shahed milik Iran dipaemerkan oleh televisi Iran Fars setelah serangan AS dan Israel dalam operasi gabungan pada Sabtu (28/2/2026). 

POS-KUPANG.COM - Iran menghantam sistem radar yang menjadi “mata” pertahanan udara Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Timur Tengah. 

Dalam beberapa hari terakhir, serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas radar penting, membuat pertahanan AS buta untuk melacak rudal yang datang. 

Serangan ini dilakukan sebagai balasan atas rangkaian pengeboman yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran.

Sejumlah radar, sistem komunikasi, dan instalasi pertahanan udara dilaporkan terkena dampaknya di beberapa negara kawasan Teluk. 

Menurut pejabat AS, analis militer, dan citra satelit komersial, serangan Iran menghantam radar-radar di Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi. 

Iran disebut sering menggunakan drone serang satu arah seperti Shahed dalam operasi tersebut. Drone jenis ini relatif murah dibandingkan rudal canggih yang biasanya digunakan oleh sistem pertahanan udara Amerika.

Akan tetapi, dalam beberapa hari terakhir Iran menembakkan lebih sedikit rudal dibandingkan sebelumnya.

“Secara keseluruhan, pertahanan kami cukup baik. Namun demikian, jelas bahwa Iran memiliki pemahaman tentang jenis target apa yang ingin mereka terus serang, dan itu termasuk komando dan kendali serta kemampuan kita untuk mendeteksi rudal dan drone yang datang,” kata Ravi Chaudhary, mantan asisten sekretaris Angkatan Udara yang bertanggung jawab atas instalasi, dikutip dari Wall Street Journal pada Sabtu (7/3/2026). 

Juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengeklaim, militer AS tetap berada dalam kemampuan tempur penuh meskipun serangan terhadap sistem radar terjadi.

Menurut pejabat AS, Washington juga memperkuat pertahanan di kawasan dengan mengirim lebih banyak peralatan militer dan pencegat rudal

Di sisi lain, militer Amerika Serikat menyatakan kemampuan Iran untuk melancarkan serangan telah menurun. Laksamana Brad Cooper, komandan pasukan AS di Timur Tengah, mengatakan bahwa sejak perang dimulai, serangan rudal balistik Iran turun sekitar 90 persen, sedangkan serangan drone berkurang sekitar 83 persen.

Amerika Serikat dan para sekutunya mengandalkan jaringan sistem pertahanan udara seperti THAAD dan Patriot untuk menembak jatuh rudal, drone, dan roket yang diluncurkan oleh Iran maupun milisi sekutunya. 

Perisai udara tersebut sangat bergantung pada radar untuk mendeteksi ancaman yang datang. Radar-radar ini tergolong mahal dan jumlahnya terbatas. Selain itu, perang juga menguras stok pencegat yang digunakan untuk menangkis serangan rudal.

Salah satu serangan paling signifikan menghantam radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah.

Citra satelit dan konfirmasi pejabat AS menunjukkan, radar tersebut rusak sehingga menghambat kemampuannya untuk berfungsi. 

Radar AN/FPS-132 merupakan sistem radar berteknologi tinggi yang mampu melacak banyak target sekaligus. 

Menurut International Institute for Strategic Studies, Amerika hanya memiliki lima radar tetap jenis ini dalam sistem peringatan dini Amerika Utara, yang dirancang untuk melindungi wilayah AS dari potensi serangan rudal

Harga satu sistem radar tersebut diperkirakan mencapai 1 miliar dollar AS (Rp 16,9 triliun). “Ini sumber daya strategis yang langka,” kata Thomas Karako, direktur Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic and International Studies di Washington.

Kerusakan radar-radar di negara Teluk Analisis citra satelit Planet Labs menunjukkan puing-puing di sisi timur laut instalasi radar berbentuk kubah di Qatar, yaitu sisi yang menghadap Iran

Citra tersebut juga memperlihatkan limpasan air yang kemungkinan berasal dari upaya pemadaman kebakaran. Verba, Rudal Rusia Penangkal Serangan AS ke Iran Artikel Kompas.id “Ini menunjukkan kerapuhan beberapa radar tingkat tinggi semacam ini,” kata Sam Lair, peneliti di James Martin Center for Nonproliferation Studies yang menganalisis citra tersebut.

Selain di Qatar, Iran juga menyerang radar TPY-2 yang terpasang pada baterai sistem THAAD di Yordania. Radar TPY-2 merupakan komponen penting dalam sistem pertahanan rudal berbasis darat yang digunakan untuk mencegat rudal balistik di luar atmosfer. 

Citra satelit yang ditinjau Wall Street Journal juga menunjukkan kerusakan pada tiga kubah radar di Camp Arifjan, pangkalan militer yang digunakan pasukan Amerika Serikat di Kuwait. 

Kerusakan juga terlihat pada sistem komunikasi satelit di markas Armada Kelima AS di Bahrain. Di Arab Saudi, citra satelit yang diambil pada 1 Maret menunjukkan asap mengepul dari bangunan di lokasi radar Pangkalan Udara Pangeran Sultan.

Amerika menempatkan radar utama di berbagai lokasi strategis di dunia untuk menghadapi ancaman dari negara seperti Iran, Korea Utara, dan Rusia. 

Selain radar darat, Angkatan Laut AS juga mengoperasikan kapal perusak rudal berpemandu di kawasan tersebut yang dapat menembak jatuh rudal balistik dan ancaman udara lainnya. Sistem radar ini juga memainkan peran penting dalam konflik terbaru.

Ketika Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer Turki yang menyimpan senjata nuklir AS, radar Amerika di Turki tenggara mendeteksi peluncuran tersebut. 

Radar tersebut kemudian mengirimkan peringatan kepada kapal perang Amerika di Mediterania timur yang akhirnya menembak jatuh rudal tersebut. Stasiun radar di Kota Kürecik sudah ditempatkan di sana lebih dari satu dekade lalu oleh pemerintahan Barack Obama, untuk memperkuat pertahanan udara NATO terhadap Iran.

Dua di antaranya ditempatkan secara permanen di Guam dan Korea Selatan, sedangkan dari lima unit THAAD lainnya yang diputar penugasannya, dua saat ini berada di Timur Tengah, yakni di Israel dan Yordania. 

Satu unit THAAD tambahan telah dikirim kembali ke Amerika Serikat tahun lalu untuk menjalani tahap pengujian. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga membeli sistem THAAD dari Amerika Serikat dan menyatakan sebagian sistem tersebut sudah mulai beroperasi.

Dalam banyak serangan, Iran menggunakan drone satu arah yang meledak saat menabrak target. Drone yang terbang rendah dan relatif lambat tersebut kerap sulit dicegat oleh beberapa sistem pertahanan udara konvensional.

Drone-drone itu digunakan untuk menyerang fasilitas minyak, pangkalan militer, serta gedung-gedung tinggi di kawasan Teluk. 

Setelah meluncurkan lebih dari 500 drone dalam dua hari pertama konflik, Iran terus melanjutkan serangan secara stabil. Menurut Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab, negaranya kini menjadi sasaran lebih dari 100 drone setiap hari. Kedua pihak juga menghadapi keterbatasan persediaan amunisi. 

Sebelum perang dimulai, pejabat senior Pentagon telah menyampaikan kekhawatiran bahwa Amerika dan sekutunya memiliki stok pencegat pertahanan udara yang terbatas. 

Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Washington masih memiliki amunisi yang cukup untuk menghadapi konflik tersebut. Di sisi lain, Iran diyakini memiliki kapasitas memproduksi ribuan drone. 

Drone buatan Iran juga telah diekspor ke Rusia dan digunakan dalam serangan Moskwa terhadap Ukraina. Rusia juga disebut berbagi intelijen dengan Iran yang dapat membantu menentukan target militer. 

“Masalah serangan udara dan rudal yang kompleks dan terintegrasi ada di sini, dan kita harus menghadapi seluruh spektrum ancaman rudal udara, bukan hanya yang balistik,” kata Karako. “Anda harus memiliki pertahanan untuk pertahanan Anda.” (*)

Sumber: Kompas.com

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved