Minggu, 7 Juni 2026

Mutiara Ramadhan

Mutiara Ramadhan - I’tikaf

Salah satu hikmah Ramadan ialah hadirnya malam-malam tertentu untuk melakukan I’tikaf di masjid. 

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM
Menteri Agama, KH. Nasaruddin Umar. 

POS-KUPANG.COM - Salah satu hikmah Ramadan ialah hadirnya malam-malam tertentu untuk melakukan I’tikaf di masjid. 

I’tikaf ialah berdiam diri di mesjid untuk melakukan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Swt. Orang yang melakukan I’tikaf disebut mu’takif, jamaknya muktakifin. Seorang mu’takif.

I’tikaf ada Syarat dan ketentuanjnya. Selama menjalankan i’tikaf tidak dibenarkan berhubungan suami-isteri, keluar masuk masjid tanpa keperluan, dan dianjurkan menutup aurat serta memperbanyak amalan ibadah seperti dzikir, wirid, tafakkur, tadzakkur, di samping shalat dan membaca ayat suci Alquran.

Rangkaian i’tikaf harus diawali dengan niat. I’tikaf bisa beberapa hari, khususnya pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan dan bisa juga beberapa saat.

Inti i’tikaf sesungguhnya ialah ibadah rohani, yaitu dengan melakukan muhasabah atau mujahadah. Sebagian ulama berpendapat kalau saja orang bisa melakukan muhasabah dengan dengan baik maka sesungguhnya lebih baik baginya dari pada shalat sunat. Muhasabah bisa 
diisi dengan dzikir dan wirid atau tafakkur dan tadzakkur.

Zikir dan wirid sesungguhnya sama, hanya bedanya dzikir menyebut dan mengingat nama-nama Allah secara umum tanpa ketentuan; sedangkan wirid ialah zikir yang sudah diatur jumlah dan ketentuannya secara rutin.

Tafakkur sudah tidak ada lagi bacaan dan hitungan. Yang ada ialah mengingat dan merenung masa lampau kita yang kelam lalu memohonkan ampun kepada Allah SWT.

Sedangkan tadzakkur, sudah tidak ada lagi ingatan yang aktif. Yang ada hanyalah ketenangan, kebisuan, dan kepasrahan. 

Tadzakkur ketika oaring sedang berada pada puncak kekhusyukan, sehingga ia seolah-olah tidak menyadari diri kalau ia sesungguhnya berada pada tingkat kesadaran paling tinggi, tingkatan kesadaran para auliya dan para Nabi.

I’tikaf mempunyai beberapa tingkatan. I’tikafnya orang awam ialah datang ke masjid melakukan rangkaian ibadah formal seperti shalat lail, tahajjud, witir, mengaji atau tadarrusan, sesekali diisi oleh pengajian.

I’tikaf orang khawas lebih dari sekedar itu; bukan mengejar target-target kuantitas misalnya banyaknya rakaat shalat yang harus dilakukan, banyaknya juz Al-Qur’an yang dibaca, dan hebatnya penceramah yang ia dengar.

Yang penting bagi khawashul Mu’takifin ialah kualitas mujahadah yang dapat diraih. Kalau perlu yang bersangkutan menembus tingkatan mukasyafah yaitu membuka hijab atau tabir yang selama ini menghalangi.

I’tikaf bisa mengantarkan seseorang kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi sehingga kemabruran Ramadhan terpancar selalu di wajag orang ini seusai Ramadan.

I’tikaf betul-betul menjadi momentum untuk menggunting dosa-dosa langganannya sehingga ia 
tampil beda seusai kembali ke hari Idul Fitri.

Beruntunglah orang-orang yang berhasil meraih prestasi i’tikaf  sejati seperti ini. Kita berharap dan sekaligus bermohon agar i’tikaf kita kali ini lebih intensif dan efektif.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved