Jumat, 17 April 2026

Mutiara Ramadhan

Mutiara Ramadhan - Puasa Menghilangkan Stres

Di sinilah puasa memegang peranan penting untuk meminimalisir atau menghilangkan stress. 

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM
Menteri Agama, KH. Nasaruddin Umar. 

POS-KUPANG.COM - Salah satu penyakit masyarakat modern adalah stres. Jika harapan tidak berkesesuaian dengan kenyataan maka di situ berpotensi timbul stress. 

Apalagi jika kebutuhan itu sudah betul betul mendesak tetapi solusi tak kunjung datang. Di sinilah puasa memegang peranan penting untuk meminimalisir atau menghilangkan stress. 

Kita perlu menyadarkan diri kita bahwa kenyamanan mungkin bisa dibeli di hotel berbintang, kelezatan bisa dibeli di restoran mewah, keindahan bisa disaksikan di obyek-obyek wisata, akan tetapi ketenangan dan kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. 

Uang, kekayaan, dan jabatan belum tentu menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan. Ketenangan 
bukan hanya miliknya orang kaya atau pejabat tetapi ketenangan juga bisa dirasakan oleh orang-orang 
miskin.

Ketenangan lebih merupakan akibat daripada sebab. Ketenangan dan kebahagiaan adalah pemberian (given/kasab) dari Tuhan. Ketenangan dan kebahagiaan adalah urusan persepsi jiwa (state of mind). Hanya orang-orang yang berani melawan dirinya sendiri yang mampu merasakan
ketenangan. 

Di sinilah arti penting puasa. Puasa merupakan spiritual training untuk melawan keinginan diri paling efektif. 

Bukankah berpuasa berarti menahan diri tidak makan, minum, berhubungan seks, dan perbuatan-perbuatan yang berselera rendah lainnya. Pusa mendidik jiwa untuk merasakan ketenangan batin dan kebahagiaan rohani.

Orang-orang arif sering mengatakan, puncak kebahagiaan adalah ketenangan batin. 

Nabi Muhammad Saw juga pernah mengatakan: Al-gina ginan nafs (kekayaan sesungguhnya ialah kekayaan batin).  Tanpa kekayaan dan kebahagiaan batin, sesungguhnya hanya kekayaan dan kebahagiaan semu. 

Dengan demikian, kita tidak bisa memandang enteng orang miskin harta atau materi sebab tidak sedikit di antara mereka yang menemukan kebahagiaan batin. 

Sebaliknya kita juga tidak bisa takjub sepenuhnya kepada para pemilik kekayaan materi sebab itu belum tentu mereka merasa bahagia dan tenang. 

Manusiawi memang jika orang-orang menghendaki kedua-duanya, karena kita juga diajari doa oleh Allah SWT. Rabbana atina fiduunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa quna;adzabannar (YaAllah anugrahkanlah kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dariapi neraka). 

Manusia ideal menghendaki kebahagiaan dunia akhirat. Sesungguhnya Islam tidak melarang orang mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif. 

”Dunia adalah cermin akhirat”, demikian kata Nabi. Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses. Ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, haji, bahkan puasa, pun membutuhkan cost.

Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia. Kiat untuk mencapai dan mempertahankan kondisi kebahagiaan batin ialah menurut para ’arifin ialah menggabungkan antara optimisme dan semangat juang (al-raja’ wa al-mujahadah) di dalam diri.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved