Minggu, 19 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 19 Oktober 2025, “Berdoa dengan Tidak Jemu-jemu”

Pada Minggu Biasa XXIX ini, kita dihadapkan pada tema tentang ketekunan dalam doa dan kesetiaan dalam mewartakan firman Allah

Editor: Edi Hayong
dok-pribadi Bruder Pio Hayon SVD
RENUNGAN KATOLIK- Renungan Harian Katolik hari Minggu 19 Oktober 2025 dari Bruder Pio Hayon SVD. 

Oleh : Bruder Pio Hayon SVD

POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Minggu 19 Oktober 2025 Pekan Biasa XXIX dari Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I : Kol. 17: 8-13 Bacaan II: 2Tim. 3: 14-42, Injil:  Luk.  18: 1-8

Saudari/a terkasih dalam Kristus

Salam sejahtera untuk kita semua. Pada Minggu Biasa XXIX ini, kita dihadapkan pada tema tentang ketekunan dalam doa dan kesetiaan dalam mewartakan firman Allah.

Tema "Berdoa dengan tidak jemu-jemu" mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita dapat mengembangkan kebiasaan berdoa yang konsisten dan bagaimana kita dapat tetap setia pada panggilan kita untuk menjadi saksi Kristus, meskipun menghadapi tantangan dan kesulitan.

Saudari/a terkasih dalam Kristus

Dalam bacaan pertama dari Kitab Keluaran (17:8-13) mengisahkan tentang Musa yang mengangkat tangannya ke atas selama pertempuran melawan orang Amalek.

Ketika Musa mengangkat tangannya, Israel menang, tetapi ketika ia menurunkannya, Amalek menang. Karena Musa lelah, Harun dan Hur menopang tangannya sampai matahari terbenam, sehingga Israel mengalahkan Amalek.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 18 Oktober 2025, "Para Murid: Misionaris Perdana Tuhan Yesus"

Kisah ini menggambarkan pentingnya doa yang terus-menerus dan dukungan dari orang lain dalam perjuangan kita.

Dari bacaan kedua, dalam suratnya kepada Timotius (2 Timotius 3:14-4:2), Paulus mendorong Timotius untuk berpegang pada kebenaran yang telah dipelajarinya dari Kitab Suci dan untuk memberitakan firman Allah dengan sabar dan tekun, baik atau tidak baik waktunya. 

Ia mengingatkan Timotius bahwa akan datang waktunya ketika orang tidak lagi menerima ajaran sehat, tetapi akan mengikuti guru-guru palsu yang memuaskan keinginan mereka.

Sedangkan di dalam Injil Lukas (18:1-8) mengisahkan tentang seorang janda yang terus-menerus mendesak seorang hakim yang lalim untuk memberikan keadilan kepadanya.

Akhirnya, hakim itu mengabulkan permintaannya, bukan karena ia takut kepada Allah atau menghormati manusia, melainkan karena janda itu terus mengganggunya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 19 Oktober 2025: Doa yang Menopang Tindakan

Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk mengajarkan bahwa kita harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu, karena Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang berseru kepada-Nya siang dan mala.

Refleksi kita adalah tentang Ketekunan: Apakah kita tekun dalam berdoa, meskipun kita tidak selalu melihat jawaban yang kita harapkan?

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved