Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 21 September 2025, "Dari Dunia Menuju Surga"
Tuhan Yesus menghendaki agar kita para murid-Nya mengamati bagaimana orang
Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar, SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor – NTT
Minggu, 21 September 2025, Hari Minggu Biasa XXV
Amos 8:4-7; Mzm. 113:1-2,4-6,7-8; 1Tim. 2:1-8; Luk. 16:1-13
Warna Liturgi Hijau
Dari Dunia Menuju Sorga
Dalam Injil Lukas (16: 1-13) hari ini Yesus berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13).
Mamon sering diartikan sebagai dewa kekayaan.
Pantaslah, kalau Tuhan tidak menghendaki kita mengabdi kepada Mamon.
Tuhan Yesus menghendaki agar kita para murid-Nya mengamati bagaimana orang-orang di dunia ini mencurahkan segenap pikiran dan hati, untuk secara kreatif mengarahkan seluruh kemampuan agar sukses.
Yesus menghendaki agar usaha maksimal, yang kita lakukan untuk mencapai hal-hal duniawi, kita lakukan juga untuk mencapai hal-hal rohani, agar kita dapat mencapai Surga.
Masuk Surga memang adalah karunia Allah, namun ada bagian yang harus kita lakukan agar kita dapat sampai ke sana.
Banyak orang rela membuang waktu untuk merawat diri, entah dengan aneka perawatan wajah atau melangsingkan perut, demi penampilan yang lebih menarik di mata dunia.
Tapi berapa banyak orang yang memikirkan bagaimana penampilan hati di hadapan Tuhan?
Banyak orang rela menggunakan waktu untuk mempelajari banyak keahlian di dunia ini: belajar aneka pelajaran di sekolah/ kuliah, memainkan musik, belajar fotografi, memasak, dst, agar menjadi semakin ahli.
Tapi sejauh mana kita rela menggunakan waktu untuk mempelajari sabda Tuhan dan merenungkannya?
Banyak orang tak berkeberatan bangun lebih pagi agari tidak terlambat naik pesawat untuk liburan ataupun tugas pekerjaan, tetapi berapa banyak orang keberatan bangun sedikit lebih pagi untuk berdoa?
Banyak orang rela membuang banyak uang untuk membeli barang-barang mewah agar menyerupai artis atau sang tokoh idola.
Tapi berapakah orang yang dengan suka cita, berbagi dengan sesama yang lebih membutuhkan, agar semakin menyerupai teladan Kristus?
Sering kita melihat bahwa apa-apa yang dilakukan di paroki seolah-olah cukup dilakukan dengan seadanya.
Sejumlah orang berpikir bahwa karya pewartaan adalah kegiatan yang dilakukan kalau ada waktu dan tak perlu usaha istimewa.
Demikian pula program kerja paroki, wilayah maupun lingkungan, tak usah terlalu seriuslah.
Atau ada sejumlah orang yang sudah merasa cukup dengan ke gereja seminggu sekali, mengaku dosa setahun sekali, dan berdoa sesempatnya saja.
Dan masih banyak contoh lain, singkatnya, segala sesuatu yang berhubungan dengan iman dilakukan hanya sekedarnya saja, tak usah repot-repot!
Sikap macam ini membuat hal-hal rohani sepertinya kalah langkah jika dibandingkan dengan hal-hal duniawi.
Padahal seharusnya, yang terjadi adalah sebaliknya. Jika kita mau mengusahakan yang terbaik demi kesuksesan yang bersifat sementara, bukankah sudah sepantasnya kita juga melakukan yang terbaik untuk mencapai kesuksesan yang kekal untuk selamanya?
Sudah saatnya kita arahkan hati dan pikiran kita kepada tujuan hidup kita yang sesungguhnya: yaitu memperoleh kebahagiaan kekal di Surga.
Jadi, menjadi sahabat Mamon namun tidak mengabdi kepadanya melainkan hanya mengabdi kepada Allah saja, maksudnya adalah: menggunakan segala hal duniawi untuk membantu kita mencapai kemuliaan Surga.
Pertanyaannya adalah, sampai seberapa jauh kita telah menggunakan semua pemberian Allah untuk memuliakan Dia? Allah telah memberikan kita 3T: talent (talenta), time (waktu), treasure (harta).
Apakah kita telah sungguh-sungguh mempersembahkan talenta atau bakat kita, untuk memuliakan Tuhan, baik di tingkat lingkungan, wilayah, paroki ataupun Gereja secara keseluruhan? Demikian juga, sudahkah kita memberikan waktu untuk Tuhan, baik dalam doa maupun karya?
Akhirnya, sudahkah kita menggunakan harta yang kita terima sebagai berkat dari Tuhan, untuk menolong sesama dan mendukung kegiatan gerejawi serta karya-karya kerasulan yang lain?
Bendahara dalam perumpamaan itu memang licik, tapi ia bijaksana menggunakan kesempatan yang ada.
Kita pun diajak untuk bijak mengelola apa yang Allah percayakan.
Pertama, Waktu: Jangan siasiakan hanya untuk hal duniawi, tetapi gunakan juga untuk doa, pelayanan, dan karya kasih.
Kedua, Talenta: Gunakan kemampuan untuk membangun sesama, bukan hanya mencari keuntungan pribadi.
Ketiga, Harta: Gunakan bukan hanya untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga berbagi dengan orang miskin dan mendukung karya Gereja.
Mari kita memberikan 3T -talent, time, treasure- demi kemuliaan nama Tuhan.
Kapan? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? (diolah dari https://katolisitas.org.16/09/2013).
Doa: Allah Bapa kami Yang Mahasetia, antarlah kami memasuki keheningan, di mana kami terbuka terhadap Sabda serta kebijaksanaanMu. Anugerahilah kami cahayaMu, yaitu Yesus, Sang Adil, saudara dan pembimbing kami.
Di bawah sinarNya kami dapat saling bertemu dan hidup sebagai saudara satu sama lain. Sebab Dialah Tuhan kami...Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Minggu. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Pastor John Lewar, SVD)
| Renungan Harian Katolik Rabu 3 Juni 2026, "Dalam Hidup Abadi Bersama Allah" |
|
|---|
| Renungan Haroian Katolik Rabu 3 Juni 2026, "Hidup Ini Tidak Hanya Berakhir di Kubur" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Rabu 3 Juni 2026, “Allah Orang Hidup” |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Selasa 2 Juni 2026, "Setia Kepada Allah, Bertanggung Jawab Kepada Sesama" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Selasa 2 Juni 2026, "Gambar dan Tulisan Kaisar" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pater-John-Lewar-SVD.jpg)