Breaking News
Kamis, 30 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik 31 Agustus 2025, "Perjamuan Istimewa Bagi Orang Kecil"

Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Fransiskus Funan Banusu SVD 

Renungan Harian Katolik
Minggu 31 Agustus 2025
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
PERJAMUAN ISTIMEWA BAGI ORANG KECIL: MENDAPAT BALASAN SEBAGAI ORANG BENAR
(Sir 3:17-18.20.28-29; Mzm 68:4-5ac.6-7ab.1p-11; Ibr 12:18-19.22-24a; Luk 14:1.17-14).

"Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta.

Engkau akan berbahagia karena mereka tidak mempunya apa-apa untuk membalas engkau.

Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar." (Luk 14:14).

Apakah pernah ada pesta atau perjamuan khusus untuk orang-orang miskin dan berkebutuhan khusus? 

Membawa bantuan ke tempat orang miskin, menengok orang-orang difabel dengan sejumlah barang yang mereka butuhkan atau membawa makanan ke tempat mereka berkumpul, pasti banyak pihak dari kalangan mana saja pernah melakukannya.

Tetapi mengadakan pesta lalu mengundang dan mengumpulkan mereka dalam tenda undangan, sulit sekali dan tidak mungkin dibuat. 

Sesukar mengundang dan memfasiliatasi orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta untuk menghadiirkan mereka dalam suatu perjamuan istimewa, demikian juga sesukar itu pula mendapat balasan kebangkitan sebagai orang benar dalam kerajaan Surga. 

 Pesta atau perjamuan mempunyai tujuan duniawi yang diselenggarakan untuk kehormatan, sanjungan dan kompetisi, baik tuan pesta maupun para undangan.

Pesta adalah momen untuk saling pamer kelebihan materi dan ajang saling membalas.

Maka menjadi jelas bagi kita bahwa pesta bukan tempat layak bagi kaum marginal. 

Bagi orang sombong sabda Yesus, untuk undang dan bawa orang miskin serta kaum difabel ke tempat pesta atau perjamuan tak mungkin terjadi.

Kaum kecil yang kebetulan diundang mungkin tempatnya dipinggiran saja, jika tidak mereka di dapur. Yesus berstatus sebagai Anak Allah. 

Dengan menjadi manusia saja, Ia sudah menduduki tempat terendah dalam dunia.

Ia rela jadi hamba dan menjadi korban penebusan dosa-dosa yang kita lakukan karena kepongahan kita. 

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved