Kamis, 16 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Minggu 14 Desember 2025: Sukacita Sejati Datang dari Tuhan

Sukacita Advent bukan kegembiraan yang meledak-ledak, melainkan kegembiraan yang matang oleh kesabaran. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
Romo Leo Mali 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Filsafat pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Bersukacitalah. “Padang gurun dan padang kering bergirang, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga” (Yes 35:1). 

Kalimat Nabi Yesaya ini merupakan sebuah paradoks yang indah. Padang gurun—simbol kekeringan, kesepian, dan kemandekan—justru menjadi tempat lahirnya sukacita. 

Yang bersorak bukan taman yang subur, melainkan tanah tandus yang sudah lama ditinggalkan hujan. 

Dengan cara ini, Nabi Yesaya menyingkapkan satu kebenaran mendalam di balik teologi kemakmuran yang kerap menyesatkan: sukacita sejati tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari kehadiran Tuhan yang mendekat. 

Baca juga: Independence Night Run Meriah, Wali Kota Kupang Kibarkan Bendera Start di Taman Nostalgia

Advent adalah waktu penantian. Namun penantian yang dimaksud bukanlah penundaan pasif, melainkan sikap batin yang sadar, waspada, dan penuh harap. 

Sukacita Advent bukan kegembiraan yang meledak-ledak, melainkan kegembiraan yang matang oleh kesabaran. 

Tanpa kesabaran, sukacita menjadi rapuh; ia mudah berubah menjadi kekecewaan ketika harapan tidak segera terpenuhi. 

Karena itu menunggu dan bersabar bukan sekadar sikap moral, melainkan jalan menuju kepenuhan sukacita. 

Rasul Yakobus membantu kita memahami logika ini dengan bahasa yang sangat konkret. 

Ia menunjuk pada petani yang menunggu hasil tanahnya. Petani tidak menciptakan hujan, tidak mempercepat musim, dan tidak memaksa benih tumbuh. Yang ia lakukan adalah setia pada pekerjaannya dan sabar terhadap waktu. 

Di sini, kesabaran bukan berarti pasrah tanpa daya, tetapi kesetiaan pada proses kehidupan. 

Dalam terang iman, kesabaran adalah bentuk kepercayaan bahwa sejarah hidup manusia berada dalam tangan Penyelenggaraan Ilahi, bukan sekadar hasil kehendak manusia.

Dalam filsafat hidup, kesabaran selalu berkaitan dengan pengakuan akan keterbatasan manusia. Kita bukan penguasa waktu. Kita hidup di antara “sudah” dan “belum”. 

Kita sudah berharap, tetapi belum sepenuhnya melihat penggenapan harapan itu. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved