Opini
Opini: Yosef Freinademetz, Hidup Mati untuk Misi
Berbicara tentang misi dalam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) tidak dapat diceraikan dari tokoh Yosef Freinademetz.
Oleh: Arnoldus Nggorong
POS-KUPANG.COM - Berbicara tentang misi dalam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) tidak dapat diceraikan dari tokoh Yosef Freinademetz. Meskipun penggagasnya adalah Arnoldus Janssen, tetapi yang mengejawantahkan dan mengakarkan gagasan besar ini dalam karya yang nyata adalahYosef Freinademetz. Keduanya sungguh saling melengkapi ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Dan yang lebih menarik adalah keduanya sama-sama dikanonisasi menjadi santo pada tanggal 5 Oktober 2003 oleh Paus Yohanes Paulus II.
Ketika Arnoldus Janssen sedang mencari calon misionaris, pada saat yang tepat Allah mengirim Yosef Freinademetz. Allah, dengan cara yang tersembunyi, telah menempa Yosef Freinademetz menjadi seorang misionaris yang handal. Tampaknya sudah tibalah saat yang ditentukan Allah bagi Arnoldus Janssen mewujudkan karya misi melalui Yosef Freinademetz di ‘tanah yang dijanjikan’.
Inilah Cara Allah
Cara Allah, jika direfleksikan dalam kaca mata iman, tampak jelas kalau menengok sebentar ke tempat di mana Yosef Freinademetz hidup dan dibesarkan, dan melihat jejak karyanya sebagai imam muda di Keuskupan Brixen sebelum bergabung dengan Arnoldus Janssen.
Oies, tempat dia dilahirkan, adalah sebuah dusun kecil dalam lingkungan Abtei di lembah Gardena, di tengah pegunungan Tirol Selatan. Dusun itu dikelilingi gunung-gunung tinggi menjulang yang bukan hanya menyajikan panorama indah dan memesona, namun juga menantang.
Di sanalah Uyop kecil, panggilan akrab Yosef Freinademetz di kampung halamannya, berjalan kaki mendaki gunung, menuruni bukit. Bila bepergian ke pasar yang jauh di Bruneck, dia juga melewati gunung dan bukit yang sama seraya memikul beban demi membantu orangtuanya. Maklum kedua orangtuanya hanyalah petani gunung. Suatu perjalanan yang melelahkan bagi seorang anak.
Lalu dalam karya pelayanannya sebagai pastor pembantu di Paroki St. Martin, Yosef Freinademetz mesti menempuh perjalanan jauh yang meletihkan demi melayani orang-orang sakit.
Benih yang Ditanam Allah
Dengan deskripsi ringkas di atas, dalam perspektif iman, sesungguhnya benih misi sudah mulai ditanam Allah dalam diri Yosef Freinademetz dan disemaikan-Nya di lingkungan yang tepat pula. Benih itu dipupuk dan dirawatnya secara intensif dalam dan melalui devosi kepada Hati Kudus Yesus, yang dihabiskannya berjam-jam di depan tabernakel.
Inilah kata-kata Yosef Freinademetz dalam surat kepada Arnoldus Janssen perihal kerinduannya yang begitu dalam untuk menjadi misionaris berkat devosinya kepada Hati Kudus Yesus, yang diyakininya sebagai jawaban Allah sendiri terhadapnya. Dengan perkataan lain, dia mendapat jawaban atas kerinduannya itu dalam doa.
“Setelah berkali-kali dalam doa saya mohon nasihat dari Hati Yesus yang mahakudus, dan karena pikiran ini selalu muncul dengan jelas justru pada waktu berdoa, maka saya berpendapat bahwa saya boleh melihat di dalamnya benar-benar suatu isyarat, bahwa dalam kemurahan-Nya yang tak terperikan, Tuhan telah menentukan saya untuk tugas yang luhur ini,” tulisnya.
Semangat misi sudah menjadi tekad Yosef Freinademetz, walaupun keluarga dan teman-temannya coba membujuknya untuk membatalkan‘impian ilahi-nya’. Bahkan jika mereka melarangnya, dia tetap harus pergi. Berikut kata-kata Yosef Freinademetz yang menggugah, namun menunjukkan ketegasan sikapnya yang kokoh dan militan.
“Bila kamu mengizinkan saya pergi ke tanah misi, maka saya merasa senang. Bila tidak, maka bagaimana pun saya harus pergi, bahkan kalau saya tahu bahwa saya akan boleh menyelamatkan hanya satu orang saja.”
Yosef Freinademetz menjalankan dengan cara yang radikal perkataan Yesus, Sang Gembala Agung, yaitu meninggalkan domba yang 99 ekor lalu pergi mencari satu yang tersesat (bdk. Mat.18:12). Sebab di Keuskupan Brixen, lebih-lebih di kampung halamannya, Yosef Freinademetz masih sangat dibutuhkan.
Dengan lain kata, dia meninggalkan segala-galanya, keluarga yang sangat dikasihinya, para sahabat, alam yang indah, umat yang membutuhkan pelayanannya, rasa aman dan nyaman yang didapatkannya (bdk. Luk. 9:2).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yosef-Freinademetz-Santo_02.jpg)